Wednesday, February 7, 2018

Istana Al-Hamra



Warisan Kejayaan Islam Masa Silam



Pendahuluan

Al-Andalus (bahasa Arab: الأندلس al-andalus Sepanyol: Al-Ándalus; Bahasa Portugis: Al-Andalus; Bahasa Catalonia: Al-Àndalus), atau juga dikenali sebagai Iberia Moor, merupakan sebuah negeri Islam pada Zaman Pertengahan yang merangkumi beberapa wilayah negeri-negeri Spanyol, Portugal dan Perancis masa kini. Secara amnya nama "Al-Andalus" menggambarkan bahagian-bahagian Semenanjung Iberia dan Septimania yang diperintah orang Islam (dikenali dengan nama generik Moor) di antara tahun 711 dan 1492 CE, walaupun sempadannya sentiasa berubah akibat peperangan dengan sesama negeri-negeri Kristian.

Al-Andalus dibahagikan kepada lima unit pentadbiran berikutan penaklukan Hispania oleh Kekhalifahan Umayyah yang lebih kurang setanding dengan Andalusia, Galicia and Portugal, Castile dan Leon, Aragon dan Catalonia, dan Septimania. Sebagai domain politik, ia berturutan menjadi wilayah Kekhalifahan Umayyah, diasaskan oleh Khalifah Al-Walid I (711–750); Amiriah Cordoba (c. 750–929); Pemerintahan Kekhalifahan Cordoba (929–1031); dan kerajaan-kerajaan taifa (pengganti) Kekhalifahan Cordoba. Pemerintahan di bawah kerajaan-kerajaan ini menyaksikan peningkatan pertukaran budaya dan kerjasama di antara orang Islam dan Kristian. Di bawah pimpinan Kekhalifahan Cordoba, Al-Andalus menjadi pusat pendidikan, dan bandar Cordoba menjadi satu daripada pusat budaya dan ekonomi termaju dalam dunia Islam dan Lembangan Mediterranean.

Dalam kurun-kurun berikutnya, Al-Andalus menjadi wilayah dinasti Islam Berber Al-Murabitun (Almoravid) dan Al-Muwahhidun (Almohad), dan kemudiannya berpecah kepada beberapa negeri-negeri kecil, yang termasyhur di antaranya Amiriah Granada. Selepas membantu mematahkan serangan Alfonso VI ke atas wilayah itu, pihak Al-Murabitun, dengan sokongan penduduk tempatan, berjaya menjatuhkan raja-raja Islam taifa lain. Dikatakan pertukaran budaya dan sosial (dengan pihak Kristian) merosot di bawah pemerintahan Al-Murabitun dan Al-Muwahhidun.

Dalam sebahagian besar tempoh kewujudannya, Al-Andalus bersengketa dengan kerajaan-kerajaan Kristian di utaranya yang pada akhirnya berjaya mengalahkan jiran Muslim mereka. Dalam tahun 1085, Alfonso VI dari Leon dan Castile menawan Toledo, satu peristiwa yang menjadi detik permulaan kemerosotan pemerintahan Islam sehinggalah dengan kejatuhan Cordoba pada tahun 1236, Amiriah Granada menjadi wilayah tunggal Islam di dalam apa yang disebut sebagai Sepanyol. Reconquista Portugis berakhir dengan penaklukan Algarve oleh Afonso III dalam tahun 1249. Pada tahun 1238, Amiriah Granada dengan rasminya menjadi negeri ufti atau negeri vasal kepada mahkota Kerajaan Castile, yang pada masa itu diperintah Ferdinand III. Akhirnya pada Januari 2, 1492, Amir Muhammad XII menyerahkan Amiriah Granada kepada Ratu Isabella, yang bersama-sama suaminya Ferdinand II dikenali sebagai "Raja-raja Katolik." Penyerahan kalah ini mengakhiri kewujudan Al-Andalus sebagai satu entiti politik kendatipun beberapa aspek pemerintahan Islam masih terdapat di wilayah tersebut.


ISTANA AL-HAMRA
Warisan Kejayaan Islam Masa Silam


I
Istana Al-Hamra didirikan oleh kerajaan Bani Ahmar atau bangsa Moor dari daerah Afrika Utara. Bani Ahmar adalah penguasa kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Al-Andalus (Spanyol Islam). Istana Al-Hamra berdiri kokoh di bukit La Sabica, Granada, Spanyol. Ia menjadi saksi bisu sekaligus bukti sejarah kejayaan Islam di Al-Andalus (Spanyol).



Nama Al-Hamra berasal dari bahasa Arab, hamra’ , bentuk jamak dari ahmar yang berarti “merah”. Dinamakan Istana Al-Hamra - yang berarti Istana Merah, karena bangunan ini banyak dihiasi ubin-ubin dan bata-bata berwarna merah, serta penghias dinding yang agak kemerah-merahan dengan keramik yang bernuansa seni Islami, di samping marmer-marmer yang putih dan indah.

Namun demikian, ada pula yang berpendapat, nama Al-Hamra diambil dari Sultan Muhammad bin Al-Ahmar,  pendiri kerajaan Islam Bani Ahmar - kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Spanyol (1232-1492 M).

Selain menjadi bukti kejayaan Islam, Istana Al-Hamra yang bernilai seni arsitektur tinggi ini juga memperlihatkan peradaban tinggi umat Islam tempo dulu.

Istana Al-Hamra adalah simbol puncak kejayaan Islam di Spanyol. Islam masuk ke negeri ini dibawa oleh pasukan Islam pimpinan Thariq bin Ziyad yang dikirim raja muda Islam di Afrika, Musa bin Nusair. Pasukan Islam sendiri datang untuk memerdekakan Iberia (semenanjung Iberia, sekarang Spanyol dan Portugis, dari Visigoth – bangsa Jerman) dari kekacauan hebat atas permintaan Gubernur Ceuta, Julian.

Thariq membawa sekitar 12.000 pasukan ke Gibraltar pada Mei 711 M. Ia memasuki Spanyol lewat selat di antara Maroko dan Spanyol yang kemudian diberi nama sesuai dengan namanya, Jabal Thariq.

Tanggal 19 Juli 711 pasukan Islam mengalahkan pasukan Kristen di daerah Muara Sungai Barbate, dan terus menguasai kota-kota penting - Toledo, Kordoba, Malaga, dan Granada, hingga akhirnya Spanyol berada di bawah kekuasaan Khilafah Bani Umayyah (Suriah). Sejumlah kerajaan Islam pun berdiri di Spanyol, seperti di Toledo (Raja Muda, 711-756 M), Malaga (Raja Hamudian, 1010-1057), Saragoza (Raja Tujbiyah, 1019-1039 dan Raja Huddiyah, 1039-1142), Valencia (Raja Amiriyah, 1021-1096), Badajos (Raja Aftasysyiyah, 1022-1094), Sevilla (Raja Abbadiyah, 1023-1069), dan Toledo (Raja Dzun Nuniyah, 1028-1039).

Hampir delapan abad lamanya Islam berkuasa di Spanyol dengan ibukotanya Cordoba. Selain Istana Al-Hamra, satu lagi monumen penting kejayaan Islam di Spanyol adalah Masjid Cordoba yang kini beralihfungsi menjadi Gereja Santa Maria de la Sede atau katedral “Virgin of Assumption”.


Daulah Bani Ahmar

Istana Al-Hambra didirikan oleh kerajaan Bani Ahmar atau bangsa Moor (Moria) dari daerah Afrika Utara. Bangsa Moor adalah penguasa kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Al-Andalus (Spanyol), Daulah Bani Ahmar (1232-1492 M). Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Muhammad bin Al-Ahmar atau Bani Nasr yang masih keturunan Sa’id bin Ubaidah, seorang sahabat Rasulullah saw dari suku Khazraj di Madinah.

Pembangunan Istana Al-Hamra dilakukan secara bertahap, antara tahun 1238 dan 1358. Istana ini dilengkapi taman juga bunga-bunga indah nan harum. Ada juga Hausyus Sibb (Taman Singa) yang dikelilingi oleh 128 tiang yang terbuat dari marmer.


Di taman ini pula terdapat kolam air mancur yang dihiasi dengan 12 patung singa yang berbaris melingkar, yakni dari mulut patung singa-singa tersebut keluar air yang memancar. Di dalamnya terdapat berbagai ruangan yang indah, yaitu Ruangan Al-Hukmi (Baitul Hukmi), yakni ruangan pengadilan dengan luas 15 m x 15 m yang dibangun oleh Sultan Yusuf I (1334-1354); Ruangan Bani Siraj (Baitul Bani Siraj), ruangan berbentuk bujur sangkar dengan luas bangunan 6,25 m x 6,25 m yang dipenuhi dengan hiasan-hisan kaligrafi Arab.

Ada pula Ruangan Bersiram (Hausy ar-Raihan), ruangan yang berukuran 36,6 m x 6,25 m yang terdapat pula al-birkah atau kolam pada posisi tengah yang lantainya terbuat dari marmer putih. Luas kolam ini 33,50 m x 4,40 m dengan kedalaman 1,5 m, yang di ujungnya terdapat teras serta deretan tiang dari marmer; Ruangan Dua Perempuan Bersaudra (Baitul al-Ukhtain), yaitu ruang yang khusus untuk dua orang bersaudara perempuan Sultan Al-Ahmar; Ruangan Sultan (Baitul al-Mulk); dan masih banyak ruangan-ruangan lainnya, seperti ruangan Duta, ruangan As-Safa’, ruangan Barkah, Ruangan Peristirahatan sultan dan permaisuri. Di sebelah utara ruangan ini ada sebuah masjid yakni Masjid Al-Mulk.



Selain itu, istana merah ini dikelilingi oleh benteng dengan plesteran yang kemerah-merahan. Yang lebih unik lagi pada bagian luar dan dalam istana ini ditopang oleh pilar-pilar panjang sebagai penyangga juga penghias istana Al-Hamra. Dinding luar dan dalam istana banyak dihiasi kaligrafi dengan ukiran khas yang sulit dicari tandingannya hingga kini.

Pada masa kejayaannya, istana ini dilengkapi pula dengan barang-barang berharga yang terbuat dari logam mulia, perak, dan permadani-permadani indah yang masih alami (buatan tangan).

Daulah Bani Ahmar bermula dari kerajaan kecil, namun dengan cepat menjadi kerajaan kuat dan megah, hingga berkuasa selama sekitar 2,5 abad. Selain keshalihan dan kecerdasan para pemimpinnya, kejayaan Daulah Bani Ahmar ditunjang oleh keadaan alam wilayah Granada yang termasuk bukit atau pegunungan yang indah, dengan ketinggian kurang lebih 150 m, dan luas kira-kira 14 ha. Dengan kondisi geografis demikian, daerah kerajaan ini sulit dimasuki musuh. Daerah ini sekarang dinamakan Bukit La Sabica.

Raja-raja Bani Ahmar sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Saat itu bidang pertanian dan perdagangan sangat maju. Yang menyebabkan kerajaan ini jatuh adalah kerapuhan dari dalam, yakni sengketa yang terjadi di dalam kerajaan sendiri.

Sultan Muhammad XII Abu Abdillah an Nashriyyah, raja terakhir Bani Ahmar, tidak berhasil mempertahankan kerukunan keluarga kerajaan. Akhirnya energi mereka terkuras. Akibat fatalnya, kerajaan pun tidak dapat bertahan ketika datang serangan dari dua buah kerajaan Kristen yang bersatu, Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella. Kedua pemimpin kerajaan ini pula yang mendukung penjelajahan Columbus tahun 1492 M.

Pada pertengahan 1491, Raja Ferdinand V mengepung Granada selama tujuh bulan. Ia berhasil menguasai kota Malaga - kota pelabuhan terkuat di Andalusia, lalu Guadix dan Almunicar, Baranicar, dan Almeria. Basis kerajaan Bani Ahmar, Granada, pun akhirnya tunduk, tepatnya tanggal 2 Januari 1492 M/2 Rabiul Awwal 898 H. Kota ini diserahkan oleh raja terakhir Bani Ahmar, Abu Abdillah. Prosesi penyerahan Granada dilakukan di halaman Istana Al-Hamra.

Keberhasilan Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella menguasai Granada, membuat Paus Alexander VI (1431-1503) yang terkenal dengan perjanjian Tordesillasnya tahun 1494 memberi gelar kepada raja dan ratu ini sebagai “Catholic Monarch” atau “Los Reyes Catolicos” atau Raja Katolik.

Kejatuhan Daulah Bani Ahmar merupakan akhir sejarah kejayaan Islam di Spanyol. Pasca kejatuhan kerajaan Islam terakhir ini, umat Islam diberi dua pilihan: berpindah keyakinan (masuk Kristen) atau keluar dari tanah Spanyol.



Memasuki Abad ke-16, Andalusia (Spanyol) yang selama 8 Abad dalam kekuasaan Islam, bersih dari keberadaan umat Islam. Kemegahan dan keindahan Istana Al-Hamra pun luntur setelah menjadi Istana Kristen. Demikian pula Masjid Cordova yang dijadikan katedral “Virgin of Assumption”.

Namun Islam tidak benar-benar lenyap di negeri ini. Kini umat Islam di Spanyol diperkirakan sudah mencapai 750.000 orang (data sensus 2000) dari 40 juta jumlah total penduduk Spanyol. Islam menggeliat bangkit ketika pemerintah Spanyol mengakui Islam sebagai agama resmi berdasarkan UU Kebebasan Beragama yang disahkan pada Juni 1967.

Di ibukota Madrid terdapat 500 ribu Muslim, kebanyakan imigran asal Maroko, Algeria, dan negara-negara Arab lain. Gema adzan pun mulai marak berkumandang di beberapa masjid. Belum lagi banyak pesepakbola Muslim di klub-klub sepakbola elit Spanyol saat ini. Semoga kejayaan masa lampau itu kembali diraih. Allahu Akbar! Billahit Taufiq wal-Hidayah. □ AFM


Baca juga: ---klik---> Bangunan PeninggalanKejayaan Islam

Saksikan juga videonya: ---klik---> Al-Hambra


Sumber:
https://ms.wikipedia.org/wiki/Al-Andalus
https://www.salam-online.com/2012/07/istana-alhambra-di-spanyol-warisan-kejayaan-masa-silam-kini-adzan-mulai-kembali-berkumandang.html
https://kumparan.com/@kumparannews/sejarah-keindahan-istana-alhambra-di-spanyol
Muslimtoday
https://kuncikeyakinan-faisal.blogspot.com/2016/08/bangunan-peninggalan-kejayaan-islam-di_1.html
https://www.youtube.com/embed/0zHkAowMKrU
dan sumber-sumber (image) lainnya □□

Tuesday, February 6, 2018

Menelusuri Lima Kota Utama Andalusia







KATA PENGANTAR

Andalusia atau Al-Andalus (Arab: الأندلس al-andalus) adalah nama dari bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang diperintah oleh orang Islam, atau orang Moor, dalam berbagai waktu antara tahun 711 sampai tahun 1492. Al-Andalus juga sering disebut Andalusia, namun penggunaan ini memiliki keambiguan dengan wilayah administratif di Spanyol modern (sekarang) ini dengan nama Andalusia, yaitu sebagian kecil dari Al-Andalus tempo doeloe yang lebih besar dari sekarang.

Masa kekuasaan Islam di Iberia dimulai sejak Pertempuran Guadalete, ketika pasukan Umayyah pimpinan Thariq bin Ziyad mengalahkan orang-orang Visigoth (berasal dari Jerman) yang menguasai Iberia (Spanyol dan Portugis sekarang). Awalnya Al-Andalus merupakan provinsi dari Kekhalifahan Umayyah (711-750) yang berkedudukan di Baghdad (Iraq sekarang), lalu berubah menjadi sebuah Keamiran (750-929), selanjutnya sebuah Kekhalifahan sendiri (929-1031), dan akhirnya terpecah menjadi "taifa" yaitu kerajaan-kerajaan kecil (1031-1492).


PENDAHULUAN

P
Pada awal abad kesembilan, Al-Andalus merupakan ‘permata Eropa dengan ibukotanya Cordova. Dibawah Pemerintahan Abdur Rahman III, sebagai Khalifah Cordova yang terkenal. Di bawah kepemimpinannya, datang zaman keemasan Al-Andalus. Cordova, Al-Andalus (Spanyol Islam) merupakan pusat intelektual Eropa ketika itu.

Pada saat itu London merupakan sebuah desa berlumpur. Rumah-rumah berupa gubuk yang kecil. Tidak ada yang bisa dibanggakan. Lampu jalanannya redup-redup. Sementara itu di Cordova, ada setengah juta penduduk. Tinggal di rumah-rumah yang baik sebanyak 113 ribu rumah. Ada 700 masjid dan 300 pemandian umum yang tersebar di seluruh kota dan di dua puluh satu pinggiran kota lainnya. Jalan-jalan beraspal dan di terangi lampu yang menyala.

Rumah-rumah memiliki balkon marmer, untuk musim panas. Saluran udara panas di bawah lantai mosaik, untuk musim dingin. Mereka menghiasi tamannya dengan  air mancur buatan, dengan dihiasi pula di sekitarnya pertamanan yang indah.

Kertas sebagai bahan untuk menulis atau menggambar dan lainnya masih belum diketahui di Barat, sementara itu di Al-Andalus kertas di mana-mana. Ada toko-toko buku dimana-mana dan perpustakaan-buku lebih dari tujuh puluh banyaknya.


KOTA-KOTA UTAMA ANDALUSIA

Tak ada alasan untuk tidak jatuh cinta kepada Al-Andalus. Tak hanya kemolekannya, lebih dari itu, Al-Andalus pernah mengharumkan Eropa dengan pusat ilmu, budaya, dan seni yang dimilikinya. Kata-kata indah itu secara gamblang dinyatakan Iskander Nabiulin dalam tulisannya Andalusia: The Return of Islam to Europe yang dimuat Islam Magazine pada 2011.

Kota-kota di al-Andalus memang terhampar indah bak bentangan mutiara. Cordoba, Granada, Sevilla, dan Toledo terbilang kota yang penting bagi peradaban Islam di Al-Andalus. Cordoba merupakan pusat pemerintahan dan politik Al-Andalus selama berabad-abad. Madrid dan Toledo merupakan kota garda depan, Sevilla menjadi lumbung pangan, dan Granada menjadi saksi kebangkitan sekaligus runtuhnya kepemimpinan umat Islam.


Cordoba (Qurtubah)



Selama era Kerajaan Romawi, Cordoba merupakan ibu kota provinsi yang berperan penting di masa Visigothic pada abad kelima. Setelah penaklukan Iberia oleh Muslim pada 711, kekhalifahan Umayyah menjadikan Cordoba sebagai ibu kota Al-Andalus.

Salah satu khalifah Dinasti Umayyah, Abdul Rahman I, membuat Cordoba menjadi kota yang diperhitungkan dan menjadi saingan Baghdad. Para ahli ilmu berkumpul di sana untuk ambil bagian dalam perkembangan ilmu pengetahun yang sangat didukung khalifah. Budaya ini terus berlanjut hingga kepemimpinan khalifah setelah Abdul Rahman I.

Pada abad ke-10, di bawah kepemimpinan Khalifah Abdul Rahman III, Cordoba menunjukkan diri sebagai kota paling maju di Eropa. Rakyat menikmati aliran air bersih ke rumah-rumah, jalanan kota lapang, lampu jalan menyala, taman kota di mana-mana. Makanan, pakaian, obat-obatan, dan karya seni bukan barang langka.



Pada masa itu, populasi penduduk sempat mencapai lebih dari setengah juta jiwa. Permukiman, ratusan masjid, pemandian umum, pasar, dan istana rapi tertata.


Mari lihat juga video ---klik---> Masjid RayaQurtubah (Magnificent Mezquita Cordoba)



Pada awal abad ke-11, khalifah mengalami tekanan ekonomi dan pertahanan yang memicu menjamurnya kerajaan-kerajaan kecil (taifa). Meski begitu, Cordoba belum kehilangan sinarnya.

Hari ini, Cordoba adalah kota berpenduduk sekitar 300 ribu jiwa. Area permukiman warga Yahudi atau Juderia mudah dikenali dengan rumah-rumah berwana putih gading dan beratap genting. Masjid Agung Cordoba yang jadi salah satu Situs Warisan Budaya UNESCO, merupakan salah satu monumen utama dunia. Tiang-tiang dan lengkungan bangunan masjid dari batu berwarna merah dan putih memancarkan kecantikan tersendiri.

Beberapa kilometer di luar Kota Cordoba, penggalian istana kekhalifahan Umayyah masih berlangsung di situs Madinah al-Zahra, kota yang diyakini mewakili gaya hidup modern umat Islam saat itu. Kehidupan modern Cordoba saat ini dihiasi patung Maimonides dan Ibnu Rushdi untuk menghormati putra asli Cordoba. Tak jarang, festival musik dan budaya digelar untuk merayakan warisan Islam di Spanyol.

Dalam sebuah tulisan berjudul Cordoba, European Jewel of the Middle Ages yang dimuat laman Muslim Heritage, Cordoba juga mahsyur dengan 70 perpustakaan publik yang dibangun di masa Khalifah Hakam II. Perpusatakaan yang berada di masjid-masjid bahkan terbuka bagi siapa saja.

Kapan pun para pemimpin Leon, Navarre atau Barcelona butuh ahli bedah, arsitek, dan para pembuat pakaian, mereka akan mencarinya ke Cordoba. Pada awal abad kesembilan, komunitas Kristen di sana juga mengadopsi pola hidup komunitas Muslim. Sisi lain Cordoba, yakni kota ini juga pernah menjadi pusat pendidikan etika, kota terhormat yang ramai dikunjungi para ulama dan ilmuwan.


Granada (Gharnatah)

Granada menjadi kota penting selama era menjamurnya taifa di Al-Andalus. Setelah masa kekhalifahan berakhir, pengujung abad ke-11, suku Amazigh (Berber) atau yang lebih dikenal Zirids berpindah dari Cordoba untuk mendirikan kerajaan sendiri. Mereka kemudian mendirikan Granada.



Yahudi dan Muslim bermigrasi dari kota terdekat, Elvira, ke Granada. Saat itu, Yahudi Iberia menjadi penghuni mayoritas kota itu. Sementara, Muslim yang bermigrasi ini mulai membangun sebuah kota di kaki pegunungan Sierra Nevada. Pada pertengahan abad ke-13, Fernando III berkeliling dari kota ke kota, termasuk kota hunian komunitas Muslim, Sevillla dan Cordoba. Untuk mencegah invasi raja Kristen, pemimpin kota Granada, Muhammad Ibnu Ahmar, membuat sebuah aturan. Aturan ini mengharuskan Ibnu Ahmar membayar upeti tahunan dan membantu pertahanan militer Fernando.

Ibnu Ahmar dan keturunannya yang kemudian dikenal sebagai Dinasti Nasrid, memimpin Kerajaan Granada selama beberapa abad. Selama masa kepemimpinan mereka, para imigran Muslim dan Yahudi dari kota-kota taklukan Kristen, berpindah ke Granada. Granada menjadi kota terakhir. Kepemimpinan Islam tetap berdiri. Pada 1492, Isabella dan Ferdinand memaksa pemimpin dinasti Muslim terakhir, Boabdil, untuk menyerahkan Granada.

Langkah ini menjadi sinyal berakhirnya era emas Al-Andalus. Mayoritas Muslim yang tetap memilih bertahan di Granada dibandingkan pindah ke Afrika Utara, harus berasimilasi dengan Katolik sebagai Moriscos dan Marranos. Sejak itu, warga Kristen dari utara beramai-ramai pindah ke selatan.

Pada abad ke-18 dan ke-19, Granada diperluas. Hari ini, Granada adalah kota metropolitan dengan populasi 500 ribu jiwa. Warisan kota tua Islam masih bisa dijumpai di sana, salah satunya Albaicin. Kawasan kecil itu masyhur di kalangan pelancong sebagai pusat kafe dan kerajinan tangan.

Atraksi wisata lain di Granada adalah Alhambra. Dinasti Nasrid membangun kompleks istana yang amat luas di sebuah bukit. Taman, air mancur, dan lapangan-lapangan yang tersisa berhasil menarik setidaknya enam juta wisatawan tiap tahun. Karena itu, situs ini menjadi salah satu situs bersejarah paling banyak dikunjungi wisatawan di Eropa.

Menurut Iskander Nabiulin dalam Al-Andalus (Andalusia): The Return of Islam in Europe, Alhambra berasal dari kata serapan Bahasa Arab, Al-Hamra, yang berarti merah. Dalam kunjungannya ke sana, Nabiulin menilai, meski lima abad sudah kepemimpinan Islam berlalu dari Granada, pengaruh bangsa Moor (Muslim) masih amat terasa pada arsitektur, pakaian, dan kegiatan keseharian masyarakat. Berada di perbatasan peradaban timur dan barat, para hippies dan Rastafian mudah ditemui di Granada hari ini. Mereka membawa atmosfer kemerdekaan di sana.


Madrid (al-Majreet)

Madrid adalah kota kosmopolitan di jantung Spanyol, kini menjadi ibu kota Spanyol dengan populasi 3,5 juta jiwa. Bukti arkeologi menunjukkan, permukiman bangsa Roma sudah ada di sana sejak abad kedua sebelum Masehi, tepatnya di tepian Sungai Manzanares. Namun, referensi tekstual Madrid pada abad kesembilan menjelaskan, Madrid merupakan salah satu kota garis depan di bagian utara Al-Andalus di era kekhalifahan Umayyah.
Nama 'Madrid' merupakan turunan kata dari Bahasa Arab, Al-Majreet yang berarti kanal air. Istilah ini merujuk kepada teknik irigasi baru yang digunakan komunitas Muslim di area tandus.



Pada 1085, Alfonso VI Castile menaklulkan al-Majreet dalam perjalanannya menuju Toledo untuk memperluas pengaruh kekuasaan. Pada 1561, Madrid menjadi ibu kota Spanyol.

Selama adab ke-18, Madrid lebih banyak mengadopsi nilai-nilai Eropa saat Spanyol tengah jaya-jayanya. Pada akhir abad itu, Madrid dan kota-kota lain mengalami krisis politik dan intelektual seiring lepasnya satu per satu teritori Spanyol. Kondisi itu mencapai puncaknya saat perang Spanyol-Amerika pecah pada 1989 dan Perang Sipil Spanyol pada 1936-1939.

Spanyol akhirnya bergabung dalam Uni Eropa pada 1975. Sejak itu, Madrid memainkan peran penting di Eropa dan dunia. Hari ini, Madrid memiliki program edukasi dan kebudayaan El Legado Aldalusi untuk menghormati sejarah Islam di Spanyol dan sebagai alat promosi wisata. Pemerintah pusat di Madrid dan Pemerintah Daerah Andalusia menginisiasi program ini di perhelatan Universal Exposition di Sevilla pada 1992. Program ini tak hanya menuai dukungan birokrasi, tapi juga korporasi dan kelompok masyarakat.


Sevilla (Ishbiliyah)

Pada era Kerajaan Romawi, Sevilla terkenal sebagai kota pelabuhan, Hispalis. Terletak di tepi Sungai Guadalquivir, Sevilla menikmati akses langsung ke Samudra Atlantik. Sevilla sempat dipimpin para Phoenician dan Carthaginian sebelum menjadi bagian Kerajaan Visigothic.



Pada era kepemimpinan Muslim, Sevilla meraih masa cemerlang. Sevilla menjadi ibu kota Almoravid dan Almohad Spanyol. Sevilla bahkan sering bersaing dengan Cordoba sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kemakmuran. Setelah serangan Viking ke sana pada abad kesembilan, kekhalifahan Umayyah yang saat itu dipimpin Abdul Rahman II membangun pangkalan udara dan menara-menara pengawas untuk melindungi kekuasaannya. Selama era bermunculannya taifa, Sevilla bersinar di bawah kepemimpinan al-Mutamid.


Fernando III dari Castile menaklukkan Sevilla pada 1248. Beberapa legenda menyebut, ia memanjat La Giralda, sebuah menara masjid dengan tinggi 320 kaki, untuk mengumumkan kemenangannya. Pada abad ke-16 hingga ke-18, warga Spanyol mulai mengangkut perak dari Dunia Baru ke Sevilla. Sevilla bahkan mendokumentasikan pengaruh Spanyol di Amerika dalam sebuah dokumen berjudul Archives of the Indias.


Pada 1992, Sevilla menggelar Universal Exposition. Salah satu hajat besar Spanyol itu mengindikasikan negara itu sebagai negara demokratis dan modern di Eropa. Sevilla hari ini adalah kota dengan kekayaaan seni, budaya, sekaligus ibu kota keuangan di selatan Spanyol. Inilah kota metropolitan keempat di Spanyol dengan populasi mencapai 1,3 juta jiwa.


Toledo (Tulaytulah)

Terletak 70 kilometer di barat daya Madrid, Toledo terletak di perbukitan di atas dataran tinggi La Mancha. Tiga sisi kota ini dikelilingi Sungai Tajo sebagai benteng alam.


Saat era Kerajaan Romawi, Toledo menjadi lokasi strategis rute dari Emerita (Merida modern di barat daya) menuju Caesar-Augusta (Zaragoza modern) di timur laut. Toledo sempat menjadi ibu kota Visigothic sebelum dikuasai Iberia pada 510 hingga akhirnya ditaklukkan Muslim pada 711.

Toledo menjadi basis Gereja Spanyol dari era Visigothic hingga abad ke-16. Toledo memiliki banyak dewan gereja. Mereka memperdebatkan doktrin dan aneka hal lainnya. Di sana juga ada dua sinagog utama yakni Santa Maria La Blanca dan del Transito. Santa Maria yang dibangun pada abad ke-12 mencirikan konstruksi bergaya Mudejar. Didekorasi dengan elemen Mudejar seperti ornamen geometris dan flora serta tulisan Arab dan Hebrew, del Transito merupakan salah satu bangunan peninggalan abad ke-14.

Toledo menjadi kota kunci era Andalusia saat pengaruh kepemimpinan Islam di bawah kekhalifahan Umayyah sedang kuat di sana. Ketika Toledo menyerah pascaserangan Kristen di bawah pimpinan Alfonso VI pada 1085 di era kemunculan taifa, kepemimpinan Muslim mendapat sinyal kritis. Hilangnya Sevilla dan Granada dari tangan kepemimpinan Islam menggoda Amazigh (Berber) Almoravid dari Afrika Utara untuk bergabung mendukung pasukan Kristen, hingga akhirnya kedua kota itu berada di bawah kepemimpinan Kristen.

Selama abad ke-13, pempimpin Kristen, Alfonso X, mendirikan pusat ilmu di Toledo. Di sana, karya-karya ilmuwan dalam bahasa Arab di bidang matermatika, astronomi, kedokteran, botani, dan bidang-bidang keilmuan lain diterjemahkan ke Bahasa Latin. Toledo menjadi pusat transmisi intelektual dari peradaban Islam ke peradaban Eropa. Dari sanalah cikal bakal Renaissans berasal.

Hari ini, Toledo populer dengan mazapan (marzipan)-nya, yakni kudapan yang dibuat dari gula, telur, dan kacang almon. Makanan ini dikenalkan Bangsa Persia ke Andalusia.

Toledo juga dikenal dengan kerajinan logam, terutama senjata. Produk logam para ahli di sana sangat kental dengan kebudayaan Islam. Perhiasan dan kerajinan emas serta logam hitam lazim disebut damasquinos/. Istilah itu merujuk sebuah kota di Suriah, Damaskus. Kekhalifahan Umayyah dari Damaskus datang ke Andalusia untuk mendirikan kepemimpinan mereka di sana.

Nuansa abad pertengahan sangat terasa di Toledo dengan jalan-jalan yang tepiannya ditata batu dan aneka kerajinan. Dengan populasi sekitar 75 ribu orang, UNESCO menetapkan Toledo sebagai salah satu Situs Warisan Dunia pada 1986.

Kejatuhan Toledo yang berefek dramatis terhadap kekuatan dan peradaban Islam, tulis Salah Zaimeche dalam makalah berjudul Toledo pada 2005, memunculkan banyak tanya. Salah satunya soal lemahnya umat Islam. Banyak puisi di era itu yang menyalahkan kejatuhan Toledo tak hanya karena kelalaian para pemimpin Islam, tapi juga karena kendurnya ikatan umat Islam dengan ajarannya.


PENUTUP

Demikianlah sunatullāh telah mempergilirkan kejayaan setiap bangsa di dunia seperti yang kita tahu dari sejarah sejak dari kejayaan Babilonia, Mesir, Yunani, Romawi dst. Wallāhu ‘Alam Bish-Shawab, Billāhit Taufiq wal-Hidayah. □ AFM



Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Al-Andalus
https://afaisalmarzuki.blogspot.com/2015/08/islam-di-spanyol-dan-peninggalannya.html
http://republika.co.id/berita/koran/khazanah-koran/16/10/24/ofjfc23-mozaik-menelusuri-lima-kota-utama-andalusia   
dan sumber-sumber lain □□