Wednesday, March 27, 2019

Air Sumber Kehidupan



Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (curah hujan) diatasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis (tetumbuhan) yang indah. (QS Al-Hajj 22:5)

PENDAHULUAN

A
ir merupakan kebutuhan vital bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya di muka Bumi, seperti halnya oksigen. Pentingnya peran air seringkali tidak disadari karena pada umumnya air merupakan barang yang mudah didapat di alam dan tersedia dalam jumlah yang melimpah di sebahagian besar daerah, kecuali di gurun Sahara atau daerah padang pasir serta daerah kering lainnya. Karena sumber air langka sekali.

Tanpa ada air sumber kehidupan, terutama makhluk biologis, termasuk manusia, tidak ada. Begitu pula di Bulan atau di planit Mars. Disebutkan Bulan atau Mars, karena kedua planit ini sudah dalam jangkauan sains dan ekplorasi (penjajakan) manusia dengan mengirim mesin robot kesana. Dalam penelitiannya, kedua planit tersebut tidak ada kehidupan biologis (manusia, khewan dan tanaman), tidak ada sumber air seperti halnya di bumi.

Peran air biasanya baru dirasakan ketika kebutuhan akan air sulit dipenuhi. Seperti di gurun padang pasir yang langka sumber airnya. Atau ketika air menimbulkan masalah, yaitu, musim kemarau panjang. Atau banyak air tapi airnya tercemar, tidak bersih.

Kebutuhan air merupakan bahan yang memiliki banyak manfaat. Digunakan mulai dari keperluan untuk air minum, memasak, mencuci, irigasi untuk pertanian, keperluan industri sampai dengan untuk penyediaan energi listrik, rekreasi di tepi pantai untuk berenang dan bersilancar, atau tepi sungai untuk memancing bagi yang hobi memancing.

Dengan itu aktivitas manusia dapat dipastikan tidak bisa terlepas dari keberadaan air. Pentingnya peran air tergambar pula pada kenyataan sejarah, di mana kita dapat saksikan bahwa pusat-pusat peradaban manusia dimasa lalu selalu berkembang di daerah yang berdekatan dengan sumber air. Mesopotamia (terletak di Irak sekarang) yang dianggap sebagai pusat peradaban tertua berkembang di antara dua sungai besar, Euphrat dan Tigris. Kebudayaan Mesir Kuno sangat tergantung pada Sungai Nil. Bahkan kota-kota metropolitan yang kita dapati pada zaman modern ini pun, seperti misalnya Jakarta, Amsterdam, Annapolis (Negara Bagian Maryland, Amerika Serikat), London, Paris, New York, Shanghai, Tokyo dan lain-lain selalu berdekatan dengan sungai atau badan air yang besarnya cukup memadai sebagai sumber pemenuhan kebutuhan air dan prasarana transportasi melalui air.


ASAL MULANYA SUMBER AIR DI BUMI

Allah-lah yang menciptakan Langit Ruang Angkasa (Samāwāti) dan Bumi (Ard) dan segala apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa...maka apakah kamu tidak memperhatikan. [QS As-Sajdah 32:4]

”(27) Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangunnya? (28) Dia telah meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, (29) dan Dia menjadikan malamnya (gelap gulita), dan menjadikan siangnya (terang benderang). (30) Dan setelah itu bumi Dia hamparkan.  (31) Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. (32) Dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh. (33)  (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu. ”  [QS An-Nāzi’āt 79:27-33]

D
ari sejumlah ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kata sittati ayyāmin yang artinya enam masa (bukan enam hari) adalah pada surat ke-79, surat An-Nāzi’āt. Isi firman Allah SWT dalam surat An-Nāzi’āt pada ayat 27 sampai dengan ayat 33 seperti quotation (kutipan) firman Allah SWT dalam Al-Qur’an tersebut di atas, tampaknya dapat menjelaskan tahapan enam masa terjadinya penciptaan Alam Semesta secara kronologis. Urutan masa tersebut sesuai dengan urutan ayat-ayatnya, sehingga boleh jadi dapat diuraikan HANYA YANG BERKAITAN DENGAN AIR sebagaimana yang penulis kutip dari paparan Dr. T. Djamaluddin, pakar Astronomi, Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN), sebagai berikut:

MASA KE-3

Pembentukan Tata Surya Termasuk di Dalamnya Planet Bumi (surat An-Nāzi’āt, ayat 29). Bunyi firman-Nya: ”dan Dia menjadikan malamnya (gelap gulita), dan menjadikan siangnya (terang benderang)”. Ayat tersebut dapat ditafsirkan sebagai penciptaan Matahari sebagai sumber cahaya dan Bumi yang berotasi, sehingga terjadi siang dan malam.

Pembentukan tata surya diperkirakan seperti pembentukan bintang yang relatif kecil, kira-kira sebesar orbit Neptunus. Prosesnya sama seperti pembentukan galaksi, hanya saja ukurannya lebih kecil.

Seperti halnya Matahari, sumber panas dan semua unsur yang ada di Bumi berasal dari reaksi nuklir dalam inti besinya. Lain halnya dengan Bulan. Bulan tidak mempunyai inti besi. Unsur kimianya pun mirip dengan kerak bumi. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, disimpulkan bahwa Bulan adalah bagian Bumi yang terlontar ketika Bumi masih lunak. Lontaran ini terjadi karena Bumi bertumbukan dengan suatu benda angkasa yang berukuran sangat besar (sekitar 1/3 ukuran Bumi). Jadi, unsur-unsur di Bulan berasal dari Bumi, bukan akibat reaksi nuklir pada Bulan itu sendiri.

MASA KE-4

Awal Mula Daratan di Bumi (surat An-Nāzi’āt, ayat 30).  Bunyi firman-Nya: Dan setelah itu bumi Dia hamparkan”. Penghamparan yang disebutkan dalam ayat 30 ini dapat diartikan sebagai pembentukan superkontinen Pangaea di permukaan Bumi.

Masa Ketiga hingga Masa Keempat ini juga bersesuaian dengan surat-ke 41, surat Fushshilat ayat 9 yang artinya, “Katakanlah: ‘Pantaskah kamu ingkar kepada Tuhan yang menciptakan Bumi dalam dua masa dan kamu adakan pula sekutu-sekutu bagi-Nya?’ Itulah Tuhan Rabb Semesta Alam”.

MASA KE-5

Pengiriman Air ke Bumi Melalui Komet (surat An-Nāzi’āt, ayat 31). Bunyi firman-Nya: “Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya”. Dari ayat 31 di atas, dapat diartikan bahwa di Bumi belum terdapat air ketika mula-mula terbentuk. Jadi, ayat ini menunjukan evolusi Bumi dari tidak ada air menjadi ada air

Jadi, darimana datangnya air? Air diperkirakan berasal dari komet yang menumbuk Bumi ketika atmosfer Bumi masih sangat tipis. Unsur hidrogen yang dibawa komet kemudian bereaksi dengan unsur-unsur di Bumi dan membentuk uap air. Uap air ini kemudian turun sebagai hujan yang pertama. Bukti bahwa air berasal dari komet, adalah rasio Deuterium dan Hidrogen pada air laut, yang sama dengan rasio pada komet. Deuterium adalah unsur Hidrogen yang massanya lebih berat daripada Hidrogen pada umumnya.

Karena semua kehidupan berasal dari air, maka setelah air terbentuk, kehidupan pertama berupa tumbuhan bersel satu pun mulai muncul di dalam air.

MASA KE-6

Proses Geologis Serta Lahirnya Hewan Dan Manusia (surat An-Nāzi’āt, ayat 32 dan auat 33). Bunyi firman-Nya: ”Dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh” [Surat An-Nāzi’āt ayat 32]. Dalam ayat 32 di atas, disebutkan ”gunung-gunung dipancangkan dengan teguh.” Artinya, gunung-gunung terbentuk setelah penciptaan daratan, pembentukan air dan munculnya tumbuhan pertama. Gunung-gunung terbentuk dari interaksi antar lempeng ketika superkontinen Pangaea mulai tadinya satu kontingen, kemudian terpisah menyebar menjadi bagian benua-benua dengan nama masing-masing seperti Asia, Afrika, Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Australia. Baik juga dibaca uraian lengkapnya dengan (mengklik--->) Dahsyatnya Penciptaan Alam Semesta.


PERAN AIR BAGI KEHIDUPAN MANUSIA
DI DUNIA, SURGA, DAN NERAKA

V
italnya peran air di Bumi biasanya baru dirasakan ketika kebutuhan akan air sulit dipenuhi. Di gurun padang pasir sumber air sangat langka. Atau ketika air menimbulkan masalah, seperti musim kemarau panjang. Air banyak, tapi airnya tercemar yang tidak layak digunakan. Sebenarnya air merupakan bahan yang memiliki banyak manfaat. Digunakan mulai dari keperluan untuk air minum, memasak, mencuci, irigasi untuk pertanian, keperluan industri sampai dengan untuk penyediaan energi listrik yang menggunakan tenaga air.

Terdapat lebih dari 200 ayat di  dalam Al-Qur’an yang mengandung kata air atau hal yang berhubungan  dengan air, seperti hujan, sungai, laut, awan, mata air dan lain-lain. Di antara ayat-ayat itu terdapat uraian tentang proses-proses air di alam dengan ringkas tetapi sangat jelas. Yaitu, proses terjadinya hujan dan daur air.

Peran Air sebagai Sarana Ibadah

Di dalam agama Islam air penting seperti telah diuraikan diatas, juga sebagai sarana ibadah. Air diperlukan untuk bersuci sebagai salah satu syarat sebelum menunaikan shalat yang merupakan ibadah pokok dalam ajaran Islam. Berwudhu’ sebagai salah satu syarat sah shalat dilakukan dengan cara membasahi atau mencuci bagian-bagian tertentu dari anggota badan dengan air bersih (suci dan menyucikan). Perintah berwudhu’ dan mandi junub dengan menggunakan air bersih terdapat dalam surah Al-Mā’idah Allah SWT berfirman  yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan maka jika kamu tidak memperoleh air maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur. (QS Al-Mā’idah 5:6).

Air disamping sebagai sarana untuk memulai ibadah shalat, juga dalam Al-Qur’an banyak ayat yang membicarakan air dan fungsinya di alam. Seperti halnya tentang asal dan penopang kehidupan sebagaimana firman-Nya menyebutkan yang artinya:

“Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air..”(QS Al-Anbiya’ 21:30)

Air di Surga

Bahkan, surga dilukiskan sebagai kebun yang dialiri sungai-sungai yang jernih. Di lain pihak, dengan air Allah pernah mengazab umat-umat terdahulu yang ingkar dan melampaui batas sehingga menimbulkan kerusakan di muka bumi, antara lain yang dialami umat Nabi Nuh, Fir’aun, kaum Sabā’, dan umat-umat lainnya.

Beberapa peristiwa alam yang berkaitan dengan air disebutkan dalam bentuk sumpah (qasam). Proses-proses alam yang berkaitan dengan air banyak pula dipakai sebagai kiasan dalam menggambarkan hubungan sebab suatu perbuatan (amal) dengan akibatnya yang akan diperoleh manusia baik di dunia maupun di akhirat. Bagian dari keindahan Al-Qur’an adalah kalimatnya yang hemat kata-kata pada perumpamaan-perumpamaan yang dapat memberikan gambaran rinci dan cermat tentang suatu proses di alam tetapi selalu memberikan pencerminan yang tepat sebagai permisalan. Sebagai kitab hidayah, ayat-ayat Al-Qur’an tidak saja menukilkan tentang air yang ada di alam dunia ini, tetapi juga di alam akhirat. Allah SWT berfirman yang artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (QS Al-Hijr 15:45).

Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. (QS Al-Wāqi’ah 56:17-19).

Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya (QS Al-Bayyinah 98:7-8).

Ayat-ayat di atas adalah beberapa dari sekian banyak ayat lainnya yang melukiskan keadaan surga, yang diperuntukkan hanya bagi hamba-hamba-Nya yang diridhai, diekspresikan melalui penekanan terhadap adanya air yang mengalir di tengah taman sebagai gambaran umum untuk kenyamanan dan keindahan. Meminum airnya adalah gambaran dari kesejukan, kesegaran, dan kenikmatan.

Air di Neraka

Akan tetapi pada ayat-ayat lainnya digambarkan pula “Air di Neraka” seperi yang disebutkan dalam surah Shad dan Al-Kahfi yang artinya:

Inilah (azab neraka) maka biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. (QS Shad 38:57).

Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (QS Al-Kahfi 18:29).


MAKNA KEBERADAAN AIR DI AKHIRAT DAN DI DUNIA

K
eberadaan air di Akhirat, peran dan pengaruhnya bagi manusia sangat tergantung pada amalan-amalan yang telah diperbuat terdahulu semasa masih di dunia. Keberadaan air di mana-mana, termasuk di surga dan neraka, mengindikasikan bahwa air tidak pernah terpisah jauh dari kehidupan manusia sebagaimana firman-Nya menyebutkan yang artinya:

Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa; di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamar (anggur yang tidak memabukkan) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai madu yang mumi. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka. Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga ususnya terpotong-potong? (QS Muhammad 47:15).

Bahkan pada kenyataan yang kita hadapi di Dunia ini, air yang sedianya merupakan benda bermanfaat bagi manusia, acapkali menimbulkan masalah dan bencana. Secara langsung dan tidak langsung, manfaat dan persoalan yang berkaitan dengan air pada dasarnya akibat tindakan manusia sendiri. Yaitu cara kita berperilaku sehubungan dengan air sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, misalnya: (1) Permintaan seseorang yang tidak boleh ditolak, apabila persediaan cukup, adalah air, api, dan garam; (2) Salah satu sedekah yang akan memberikan pahala yang mengalir adalah menggali sumur untuk umum, sebagaimana disebutkan dari beberapa hadits yang artinya:

Ayahku meminta izin kepada Rasulullah, kemudian ia masuk, mencium, dan duduk bersanding dengan Beliau. Lalu ia bertanya, “Wahai Rasulullah, permintaan apakah yang tidak boleh ditolak?” Beliau menjawab, “Air”. la bertanya lagi, “Wahai Nabi Allah, permintaan apa lagi yang tidak boleh ditolak?” Beliau menjawab, “Garam”. la bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, permintaan apa lagi yang tidak boleh ditolak?” Beliau menjawab, “Kebaikan yang engkau lakukan adalah baik bagimu”. (Riwayat Abū Dāwūd dengan sanad daif dari seorang wanita yang biasa dipanggil Buhaisah).

Wahai Rasulullah! Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, lalu sedekah apakah yang lebih utama (agar pahalanya sampai kepada roh beliau)? Rasulullah menjawab, “Air”. Kemudian Sa‘d menggali sebuah sumur; ia berkata, “Sumur ini aku persembahkan untuk Ibu Sa‘d” (Riwayat Abū Dāwūd dari Sa‘d bin ‘Ubādah).

Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa air memiliki peran sosial yang penting. Hadits tentang perilaku terhadap air ini umumnya mengatur hubungan antarmanusia, termasuk dengan pihak selain umat Islam.

Perintah serta batasan-batasan yang berkaitan dengan kebersihan air telah banyak diulas ulama dalam kitab-kitab fikih. Di dalam Al-Qur’an ditemukan banyak ayat yang mengharuskan manusia menjaga lingkungan hidupnya di mana mereka hidup bersama termasuk dengan makhluk-makhluk lainnya.

Allah telah menata dan mengatur alam ini sebaik-baiknya dengan menyediakan berbagai keperluan untuk hidup dan berpenghidupannya manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Oleh sebab itu, sangat dilarang merusak lingkungan hidup yang memberi berbagai persediaan untuk kelangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya, termasuk di antaranya sumber daya air yang sangat vital. Salah satu ayat Al-Qur’an yang melarang keras manusia merusak Iingkungan yang telah ditata dan disediakan oleh Allah tersebut dalam surah Al-A‘rāf yang artinya:

Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus) Syu‘aib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman. (QS Al-A‘rāf 7:85).

PENUTUP

T
ulisan ini berusaha menyajikan telaah atas kandungan beberapa ayat kauniyah tentang air berdasarkan tafsir ilmu pengetahuan yang berkembang hingga saat ini. Yaitu melihat hubungan antara yang tertulis secara tekstual dalam Al-Qur’an dan tafsir seperti yang di uraikan oleh Dr. T. Jamaluddin seorang pakar Astronomi tentang terjadinya alam jagat raya (universe) khususnya yang dikaitkan dengan adanya air di bumi yang sebelumnya tiada, sebagai rahmat-Nya bagi kehidupan makhluk biologis yang eksis di bumi. Seperti segala tetumbuhan, khewan, serta manusia. 

Selanjutnya korelasi dengan adanya spesies manusia yang diciptakan diciptakan untuk beribadah [1] kepada-Nya. Mempunyai tugas sebagai pemakmur bumi [2]. Mempunyai kemampuan selaku ‘khalifah-khalifah’ (pemimpin-pemimpin) di bumi. [3] Yaitu dapat memelihara lingkungan hidup menjadi kewajiban manusia, disamping berhubungan dengan Allah Pencipta Alam Semesta melalui ibadah shalat [4] dan dzikir [5] dan beramal shaleh. [6] Kewajiban memelihara hubungan sesama manusia, yaitu ber-ta’aruf [7] dalam lingkungan hidup di mana manusia berada. Artinya kewajiban menegakkan 3T1I, yaitu: Ta’aruf; Tafahum; Ta’awun dan Itsar. Maknanya adalah (T) Ta’aruf, yakni saling mengenal; (T) Tafahum, yakni saling memaklumi latar belakang hidup, keyakinan dan pandangan hidup; namun dapat melakukan (T) Ta’awun, yakni kerja sama dalam masalah hubungan sesama manusia; (I) Itsar, yakni tidak saling bertengkar, tidak saling memusuhi, tidak saling memerangi.

Air sebagai sumber hidup jangan sampai terjadi kontaminasi (pencemaran). Sebagai mana disebutkan-Nya, “(Allah) Yang menjadikan Bumi sebagai tempat menetap bagimu dan Dia menjadikan jalan-jalan di atas Bumi untukmu agar mendapat petunjuk. Dan yang menurunkan air dari langit menurut ukuran (yang diperlukan), lalu dengan air itu Kami hidupkan negeri yang mati (tandus), QS Az-Zukhruf 43:10-11. Maksudnya air (bersih) untuk keperluan manusia yang dengan itu hidup menjadi sejahtera, karena air (bersih, tidak tercemar) adalah sumber keperluan hidup manusia.


Demikianlah paparan tajuk ‘Air Sumber Kehidupan’. Kami tutup urain ini dengan mengutip firman Allah SWT yang artinya:  Dan kamu lihat bumi ini kering (tadinya), kemudian apabila telah Kami turunkan air (curah hujan) diatasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan BERBAGAI JENIS (TETUMBUHAN) YANG INDAH”, [8] sebagaimana terlihat pada  imej gambar diatas. Rabbanā ātinā fid dun-yā hasanataw wa fil ākhirati hasanataw wa qinā ‘adzāban nār. [9] Billāhit Taufiq wal-Hidāyah. □ AFM


Saksikan pula video (klik--->) AIR SUMBERKEHIDUPAN


Video ‘Air Sumber Kehidupan’ yang disuguhkan itu adalah cerita  dalam permasalahan air dan konservasi hutan di Desa Yeh Embang - Kabupaten Negara, Bali. Video ini sebagai bentuk kepedulian masyarakat lokal tentang pentingnya menyelamatkan sumber air masyarakat untuk kehidupan mereka di masa mendatang.

Video yang dibuat pada tahun 2009 ini oleh peserta pelatihan Media Advocacy di yayasan Idep, saat ini ternyata permasalahan air di Yeh Embang memang benar-benar mengalami krisis. Sesuai dengan prediksi yang dilakukan di tahun 2009. □□


Catatan Kaki:
[1] Dan Aku tiada menciptakan Jin dan Manusia, melainkan supaya mereka beribadat kepada-Ku. [QS adz-Dzāriyāt 51:56]
[2] Firman Allah swt: “Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, QS Hūd 11:61. Yaitu, manusia sebagai penghuni bumi untuk menguasai, memakmurkan dan memelihara lingkungan hidup dan ekosistimnya.
[3] Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi. [QS Fathir 35:39]
[4] Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaanya dari ibadah yang lain). [QS Al-‘Ankabūt 29:45] Artinya: Shalat itu untuk mengingat Tuhan, memuja, memuji dan memohon doa kepada-Nya. Shalat ini merupakan media yang menghubungkan antara manusia dengan Tuhannya.
[5] Dzikrullah (mengingat atau menyebut Tuhan) adalah sesuatu perkara yang amat penting bagi menjaga diri supaya tetap dalam kesucian.
[6] Amal shaleh yang dimaksud seperti dalam ayat ini: “Kamu (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf (baik) - agent of development dan mencegah yang mungkar (buruk) - agent of change, dan beriman kepada Allah - believing in God. [QS Āli ‘Imrān 3:110]
[7] Apa arti dan makna berta’aruf, diambil dari ayat ini, “Wahai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu TA’ARUF (saling kenal mengenal, artinya kemauan orang yang siap hidup bersama dengan orang atau bangsa lain dalam ‘perbedaan’). (QS Al-Hujurāt 49:13).
   Prinsip TA’ARUF ini meliputi: Ta’aruf; Tafahum; Ta’awun dan Itsar. Maknanya adalah (T) Ta’aruf yakni saling mengenal; (T) Tafahum yakni saling memaklumi latar belakang hidup, keyakinan dan pandangan hidup; namun dapat melakukan (T) Ta’awun yakni kerja sama dalam masalah hubungan sesama manusia; (I) Itsar yakni tidak saling bertengkar, tidak saling memusuhi, tidak saling memerangi.
[8] QS Al-Hajj 22:5
[9] Rabbanā ātinā fid dun-yā hasanataw wa fil ākhirati hasanataw wa qinā ‘adzāban nār - Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan (hidup) di dunia dan kebaikan (pula) di akhirat dan lindungilah kami dari azab neraka, QS Al-Baqarah 2:201. □□□


Sumber:
https://afaisalmarzuki.blogspot.com/2015/10/dahsyatnya-penciptaan-alam-semesta.html
https://integrasi.science/air-sumber-kehidupan/
https://www.youtube.com/embed/_rXT8r2XLHM" frameborder □□□□