Thursday, May 16, 2019

Peristiwa Besar di Bulan Ramadhan




PERISTIWA-PERISTIWA BESAR
YANG TERJADI DI BULAN RAMADHAN
Oleh: A. Faisal Marzuki


PENDAHULUAN

B
ulan Ramadhan tidak sebatas sebagai bulan suci bagi umat Muslim. Dalam sejarah Islam, sejumlah peristiwa besar yang sangat menentukan perkembangan Islam dikemudian hari dan bermakna bagi umat Muslim terjadi di bulan Ramadhan. Sejarah telah mencatat bahwa pada bulan Ramadhan penuh dengan kisah kesuksesan dan kemenangan besar yang mampu diraih umat Islam.

Ini sekaligus membuktikan bahwa Ramadhan bukanah bulan malas dan lemah, akan tapi merupakan bulan kuat, bulan jihad, dan bulan kemenangan. Berikut beberapa peristiwa penting dan peperangan sekaligus kemenangan yang pernah terjadi pada bulan Ramadhan.

Peristiwa-peristiwa besar tersebut adalah: 1). Bulan diturunkannya Al-Qur’an, 2). Peristiwa Perang Badar, 3). Peristiwa Futhu Makkah, 4). Penyerahan Kota Taif, 5). Ekspedisi ke Yaman, 6). Pembebasan Andalus, 7). Islam Mengalahkan Mongol, 8). Peristiwa perang Hittin, 9). Peperangan Yakhliz, 10). Kemerdekaan Indonesia di Bulan Ramadhan. Mari ikuti uraian peristiwa-peristiwa besar tersebut berikut ini.


1. BULAN DITURUNKANNYA AL-QUR’AN

N
uzulul Qur'an yang secara harfiah berarti turunnya Al-Qur'an (kitab suci agama Islam) adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penting penurunan “Al-Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Lalu diturunkan berangsur-angsur kepada Rasul SAW sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu sekitar 23 tahun.” (HR Thobari, An-Nasai dalam Sunanul Kubro, Al-Hakim dalam Mustadroknya, Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Ibnu Hajar pun menyetujui sebagaimana dalam Al-Fath, 4:9).

Sedangkan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW - ketika itu berumur 4o tahun, yaitu sekitar tahun 11 Sebelum Hijriyah -  adalah surat Al-‘Alaq ayat 1 sampai denga ayat 5, yang artinya: (Ayat 1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan; (Ayat 2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah: (Ayat 3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah; (Ayat 4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam; (Ayat 5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. 

Kandungan Surat Al-‘Alaq ayat 1-5. 

Surat Al-‘Alaq ayat 1 sampai ayat 5 merupakan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW. Inilah wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, yang dalam kajian Ibnu Katsir dikatakan sebagai rahmat dan nikmat pertama yang dianugerahkan Allah SWT kepada para hamba-Nya (Lihat Tafsir Ibnu Katsir V/236). Dan inilah pula yang menandai penobatan beliau sebagai Rasulullah, utusan Allah SWT, kepada seluruh umat manusia. Wahyu inilah yang menjadi tonggak perubahan peradaban dunia. Dengan turunnya ayat tersebut maka berubahlah garis sejarah umat manusia. Berubah dari kehidupan jahiliyah nan gelap dalam semua aspek, termasuk di dalamnya kegelapan ilmu pengetahuian, menjadi terang benderang. Sejak saat itu, penduduk bumi hidup dalam keharibaan dan pemeliharaan Allah SWT secara langsung. Mereka hidup dengan terus memantau ajaran Allah SWT yang mengatur semua urusan mereka, besar maupun kecil. Dan perubahan-perubahan itu ternyata diawali dengan "Iqra" (bacalah). Perintah membaca di sini tentu harus dimaknai bukan sebatas membaca lembaran-lembaran buku, melainkan juga membaca ‘buku’ dunia. Seperti membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Membaca diri kita, alam semesta dan lain-lain. Berarti ayat tersebut memerintahkan kita untuk belajar dari mencari ilmu pengetahuan serta menjauhkan diri kita dari kebodohan.

Namun membaca yang mampu membawa kepada perubahan positif bagi kehidupan manusia bukanlah sembarang membaca, melainkan membaca ‘dengan menyebut nama Allah Yang Menciptakan’ اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ Dalam kajian Sayyid Quthb rahimahullah, bahwa surat ini adalah surat pertama dari Al-Qur’an, maka ia dimulai dengan Bismillah, dengan nama Allah. Dan Rasulullah SAW pertama kali melangkah dalam berhubungan dengan Allah dan pertama kali menapaki jalan da’wah dengan Bismillah: "Iqra’ bismi rabbik". (Tafsir Fi Zhilal Al Qur’an). Dengan demikian dalam makna yang lebih luas, ayat pertama merupakan perintah untuk mencari ilmu, ilmu yang bersifat umum baik ilmu yang menyangkut ayat-ayat qauliyah (ayat Al-Qur’an) dan ayat-ayat kauniyah (yang terjadi di alam). Ayat qauliyah ialah tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang berupa firmanNya, yaitu Al-Qur’an. Dan ayat-ayat kauniyah ialah tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang ada di alam jagat semesta dan alam jagat kecil (embriologi, sel biologi, inti zat atom).

Saat wahyu ini diturunkan Nabi Muhammad SAW sedang berada di Gua Hira, ketika tiba-tiba Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu tersebut. Adapun mengenai waktu atau tanggal tepatnya kejadian tersebut, terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama, sebagian menyebutkan peristiwa tersebut terjadi pada bulan Rabiul Awal pada tanggal 8 atau 18 (tanggal 18 berdasarkan riwayat Ibnu Umar), sebagian lainnya pada bulan Rajab pada tanggal 17 atau 27 menurut riwayat Abu Hurairah, dan lainnya adalah pada bulan Ramadhan pada tanggal 17 (Al-Bara' bin Azib), 21 (Syekh Al-Mubarakfuriy) dan 24 (Aisyah, Jabir dan Watsilah bin Asqo')

Sebagian muslim, memperingati Nuzulul Qur'an (Turunnya Al-Qur’an) waktu terjadinya peristiwa tersebut secara khusus. Di Indonesia setiap tanggal 17 Ramadhan, biasanya dilakukan ceramah atau pengajian khusus bertemakan Nuzulul Qur'an. Dilihat daripada bulan yang disuruh kita berpuasa sebulan penuh maka turunnya Al-Qur’an terjadi pada bulan Ramadhan. Dan dilihat daripada 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan turunnya lailatul qadar maka tentunya turunnya Al-Qur’an terjadi pada 10 malam terakhir pada bulan Ramadhan. Dan menurut menurut musnad Imam Ahmad, turunnya Al-Qur'an pada tanggal 24 Ramadhan, namun masih ada perbedaan pendapat antara ulama. namun yang paling masyhur adalah tanggal 17 Ramadhan. [1]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)..." (QS Al Baqarah 2:185)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan: “Allah SWT memuji Ramadhan di antara bulan-bulan lainnya, karena Dia telah memilihnya di antara semua bulan sebagai bulan yang padanya diturunkan Al-Qur’an yang agung". Sebagaimana Allah SWT mengkhususkan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an, sesungguhnya telah disebutkan oleh hadits bahwa pada bulan Ramadhan pula kitab Allah lainnya diturunkan kepada para Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW.

Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya meriwayatkan: "Lembaran-lembaran (shuhuf) Nabi Ibrahim diturunkan pada permulaan malam Ramadhan dan kitab Taurat diturunkan pada tanggal enam Ramadhan, dan kitab Injil diturunkan pada tanggal tiga belas Ramadhan, sedang Al-Qur’an diturunkan pada tanggal dua puluh empat Ramadhan.” (HR Ahmad dalam Musnad, dan dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 1575)


2. PERISTIWA PERANG BADAR

I
bnu Hisyam menyatakan perang ini merupakan kemenangan pertama yang menentukan kedudukan umat Islam dalam menghadapi kekuatan kemusyrikin Quraisy dari Makkah. Pertempuran Badar (gazwah badr - غزوة بدر) terjadi pada pagi Jumat, 17 Ramadhan 2 Hiriyah (13 Maret 624) di Badar, diluar Madinah. Kemenangan lebih kurang 313 orang pasukan Islam di bawah pimpinan Rasulullah Shallalāhu ‘Allaihi Wassalām (SAW) ini mengalahkan lebih kurang 1000 orang pasukan musyrikin Makkah. Pertempuran habis-habisan selama 2 jam. pasukan muslim berhasil menghancurkan barisan pertahanan Quraisy yang kemudian mundur dalam kekacauan.

Sebelum pertempuran ini, kaum Muslim dan penduduk Makkah telah terlibat dalam beberapa kali konflik bersenjata skala kecil antara akhir tahun 623 sampai dengan awal tahun 624, dan konflik bersenjata tersebut semakin lama semakin sering terjadi. Meskipun demikian, Pertempuran Badar adalah pertempuran skala besar pertama yang terjadi antara kedua kekuatan itu. Lokasi kota Badar 80 mil (128 km) baratdaya kota Madinah. Badar terletak diantara (lebih dekat ke) Madinah dan Makkah

Pasukan Muhammad SAW yang sangat berdisiplin bergerak maju terhadap posisi pertahanan lawan yang kuat, dan berhasil menghancurkan barisan pertahanan Makkah sekaligus menewaskan beberapa pemimpin penting Quraisy, antara lain ialah Abu Jahal alias Amr bin Hisyam.

Bagi kaum Muslim awal, pertempuran ini sangatlah berarti karena merupakan bukti pertama bahwa mereka sesungguhnya berpeluang untuk mengalahkan musuh mereka di Makkah. Makkah saat itu merupakan salah satu kota terkaya dan terkuat di Arabia zaman jahiliyah. Kemenangan kaum Muslim juga memperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahwa suatu kekuatan baru telah bangkit di Arabia, serta memperkokoh otoritas Muhammad SAW sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering bertikai antara sesama mereka. Berbagai suku Arab mulai memeluk agama Islam dan membangun persekutuan dengan kaum Muslim di Madinah; dengan demikian, ekspansi agama Islam pun dimulai.

Kekalahan Quraisy dalam Pertempuran Badar menyebabkan mereka bersumpah untuk membalas dendam, dan hal ini terjadi sekitar setahun kemudian dalam Pertempuran Uhud. [2]


3. PERISTIWA FATHU MAKKAH

P
embebasan Makkah atau Fathu Makkah (فتح مكة, Fathu Makkah) merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 Hijriyah, di mana Nabi Muhammad SAW beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Makkah, dan kemudian menguasai Makkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka'bah.

Penyebab

Pada tahun 628, Quraisy dan Muslim dari Madinah menandatangani Perjanjian Hudaibiyah. Meskipun hubungan yang lebih baik terjadi antara Makkah dan Madinah setelah penandatanganan Perjanjian Hudaibiyah, 10 tahun gencatan senjata dirusak oleh musyrikin Quraisy sendiri, dengan sekutunya Bani Bakr, menyerang Bani Khuza'ah yang merupakan sekutu Muslim (Madinah), walaupun sebenarnya yang pertama kali menyerang Bani Bakr adalah Bani Khuza'ah sebelum perjanjian Hudaibiyah, dan sayang sekali permasalahan tersebut hanya diselesaikan dengan perjanjian elite yang tidak melibatkan akar rumput, sehingga masih menimbulkan dendam dikalangan Bani Bakr. Pada saat itu musyrikin Quraisy ikut membantu Bani Bakr, padahal berdasarkan kesepakatan damai dalam perjanjian tersebut di mana Bani Khuza'ah telah bergabung ikut dengan Nabi Muhammad SAW dan sejumlah dari mereka telah memeluk Islam, sedangkan Bani Bakr bergabung dengan musyrikin Quraisy.

Sumber Lain [3]

Dari sumber lain menyebutkan bahwa, ternyata Bani Bakr memanfaatkan kondisi damai ini untuk melancarkan serangan kepada Bani Khuza’ah, agar mereka bisa membunuh orang-orang Khuza’ah tanpa mereka bersiap mengadakan perlawanan. Di suatu malam Bani Bakr mulai keluar dan menuju tempat Bani Khuza’ah. Mereka memburu Bani Khuza’ah sampai orang-orang Khuza’ah berlari ke tanah haram agar aman dari pembunuhan. Salah seorang dari Bani Bakr menyeru pemimpinnya yang bernama Naufal, “Wahai Naufal, sesungguhnya kita memasuki tanah haram. Ingatlah Tuhanmu, Tuhanmu.” Naufal malah menjawab, “Wahai Bani Bakr, tidak ada Tuhan pada hari ini! Balaskan dendam kalian! Aku bersumpah, kalau perlu kalian boleh mencuri di tanah haram. Tunggu apa lagi, balaskan dendam kalian di dalam tanah haram!” Dan terjadilah pembantaian di tanah haram. Peristiwa ini merupakan pelanggaran terhadap perjanjian damai yang telah disepakati, perjanjian damai Hudaibiyah telah dirobek-robek oleh orang-orang musyrikin Quraisy karena membiarkan sekutu mereka membantai sekutu Nabi Muhammad SAW.

Sampailah kabar tersebut ke telinga Rasulullah SAW, beliau pun memenuhi janjinya terhadap sekutunya, Bani Khuza’ah. Abu Sufyan (yang saat itu masih kafir) datang langsung menemui Rasulullahn SAW di Madinah, melobi beliau agar mau memaafkan penghianatan tersebut. Setelah ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah SAW, Abu Sufyan datang menemui istri Rasulullah yang merupakan anak kandungnya, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, agar anaknya mau melobi Rasulullah. Ternyata Ummu Habibah pun tegas menolak keinginan sang ayah, bahkan ia tidak sudi tikar yang biasa dipakai Rasulullah duduk di rumahnya diduduki sang ayah yang kala itu adalah musuh Allah dan Rasul-Nya.

Abu Sufyan terus melobi orang-orang dekat Rasulullah sampai Abu Bakar, Umar, dan Ali bin Abi Thalib, agar melobi Rasulullah untuk mengurungkan niat menyerang Makkah. Mereka semua tidak bisa memberikan solusi bagi Abu Sufyan. Ia pun pulang ke Makkah dan membawa kabar genting bahwa Muhammad akan menyerang Makkah.

Abu Sufyan, kepala suku Quraisy di Makkah, pergi ke Madinah maksudnya untuk memperbaiki perjanjian yang telah dirusak itu, tetapi Nabi Muhammad SAW menolak, Abu Sufyan pun pulang dengan tangan kosong. Sekitar 10.000 orang pasukan Muslim pergi ke Makkah yang segera menyerah dengan damai. Nabi Muhammad SAW bermurah hati kepada pihak Makkah dengan sama sekali tidak membantai habis mereka, dan hanya memerintahkan untuk menghancurkan berhala di sekitar dan di dalam Ka'bah. Selain itu hukuman mati juga ditetapkan atas 17 orang Makkah atas kejahatan mereka terhadap orang Muslim, meskipun pada akhirnya beberapa di antaranya diampuni.

Pemimpin Pasukan

Tanggal 10 Ramadan 8 Hijriyah, Nabi Muhammad SAW beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Makkah, dan kota Madinah diwakilkannya kepada Abu Ruhm Al-Ghifary.

Ketika sampai di Dzu Thuwa, Nabi Muhammad SAW membagi pasukannya, yang terdiri dari tiga bagian, masing-masing adalah: Khalid bin Walid memimpin pasukan untuk memasuki Makkah dari bagian bawah; Zubair bin Awwam memimpin pasukan memasuki Makkah bagian atas dari bukit Kada', dan menegakkan bendera di Al-Hajun, Abu Ubaidah bin al-Jarrah memimpin pasukan dari tengah-tengah lembah hingga sampai ke Makkah. Menurut pendapat lain, empat bagian pasukan, bagian yang keempat dipimpin oleh Sa'ad bin 'Ubadah memimpin orang Madinah supaya memasuki Makkah dari arah sebelah barat. Praktis kota Makkah di kepung 10.000 pasukan yang mengunci setiap usaha melawan pasukan Madinah.

Dari arah Al-Hajun Nabi Muhammad SAW memasuki Masjid Al-Haram dengan dikelilingi kaum Muhajirin dan Anshar. Setelah thawaf mengelilingi Ka'bah, Nabi Muhammad SAW mulai menghancurkan berhala dan membersihkan Ka'bah. Dan selesailah pembebasan Makkah. [4]


4. PENYERAHAN KOTA TAIF

J
arak kota Thaif dengan Makkah yang telah dibebaskan oleh Rasulullah SAW dengan 10.000 pasukan adalah 157 kilometer, namun pada tahun 9 Hijriyah masih belum tunduk.

Kota Taif pernah mencatat sejarah ketika penduduknya melempari batu dan mengusir dan Nabi Muhammad SAW saat berdakwah di sana sewaktu sebelum hijrah ke Madinah. Setelah beliau dan umat Islam berhasil membebaskan Makkah, kaum Bani Thaqif di kota Taif bersikeras tidak mau tunduk kepada Nabi Muhammad SAW, walaupun Makkah telah berhasil dibebaskan.

Kemudian Nabi Muhammad SAW dan tentara Islam lalu maju ke Taif dan mengepungnya dalam waktu lama. Akhirnya kaum Bani Thaqif datang ke Makkah di bulan Ramadan tahun ke-9 Hijriyah dengan menyerahkan kota Taif sebagai tanda menyerah.


5. EKSPEDISI KE YAMAN

Y
aman terletak di selatan semenanjung tanah Arab. Nabi Muhammad SAW mengutus Ali bin Abi Thalib RA dengan membawa surat beliau untuk penduduk Yaman khususnya suku Hamdan.

Sebelumnya telah diutus oleh Nabi SAW Abdur Rahman bin Auf melakukan ekspedisi (siriyyah) hingga Daumatul Jandal selama tiga hari. Pada hari ke-3 berhasil mengajak al-Ashbagh bin Amrul Kalbi pemimpim Nasrani masuk Islam.  Kemudian mengutus pula Amru ibnul Ash untuk melunakkan hati mereka.

Baihaqi meriwayatkan dari al-Barra’, Rasulullah mengutus Khalid Ibnul Walid Ke Yaman untuk mengajak penduduknya masuk Islam. Al-Barra’ berkata, ‘Aku termasuk orang yang pergi ke Yaman bersama Khalid bin Walid. Kami tinggal di sana enam bulan mengajak mereka masuk Islam, tapi mereka tidak menjawabnya’ Kemudian Rasulullah SAW mengutus Ali bin Abi Thalib RA mengganti Khalid bin Walid. Ketika kami (Ali dan Al-Barra’) sudah dekat dengan kaum suku Hamdan, mereka keluar menyambut Ali. Setelah itu membacakan kepada mereka surat Rasulullah SAW, tak lama kemudian, seluruh kabilah Hamdan masuk Islam. Lalu Ali mengirim surat kepada Rasulullah SAW tentang keislaman mereka. Setelah dibaca surat yang tiba itu Rasulullah SAW langsung sujud, lalu mengangkat kepala dan bersabda “Keselamatan bagi Hamdan! Keselamatan bagi Hamdan! [5]

Dalam satu hari dari kedatangam Ali bin Abi Thalib RA, semua mereka memeluk agama Islam secara aman. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada bulan Ramadan tahun ke-10 hijrah.


6. PEMBEBASAN ANDALUS

S
ebelum Islam masuk ke Andalus (Hispania, Spanyol), Spanyol dalam keadaan terpuruk akibat kekuasaan Visigotic yang ‘brutal’ dalam menangani kekuasaan daerah pendudukannya di semenanjung Iberia (Spanyol dan Purtugal), Eropa selatan. Suku bangsa Visigoths ini adalah salah satu suku-suku yang berasal dari Jerman yang dikenal oleh bangsa Yunani dan Romawi sebagai bangsa yang 'barbarian' dan berbudaya kasar serta rendah, tapi kekuatan serdadu sangat handal dan tangguh. Dia bisa menaklukkan, tapi tidak bisa membangunnya.

Penduduk (asli) Spanyol tertekan dan tidak sejahtera dibawah kekuasaan Visigoths. Karena tidak tertahankan lagi, mereka meminta bantuan ke tetangganya yang terdekat di seberang lautannya yang secara historis telah dikenalnya (karena sebagian penduduk Hispania/Spanyol telah lari menyelamatkan diri ke Afrika Utara) yakni Kerajaan Umayyah (Moors) yang dipisahkan oleh lautan Mediterranean, kemudiannya disanggupi oleh bangsa Moors ini.

Sebelum mendarat di dataran tanah Spanyol, mereka bersandar dulu di pulau ‘Gibraltar’ yang berbukit yang terletak di tepi pantai Eropah bagian paling selatan. Nama Gibraltar di ambil dari nama (pertama) panglima pasukannya bernama ‘Thariq’ ibn Ziyad, karena di pulau itu ada bukit atau gunung yang mencolok tinggi dan mudah untuk mengenalinya dalam bahasa Arab di sebut ‘Jabal’ dan nama panglimanya Thariq. Kemudian lidah non Arab menyebutnya Gibraltar (Jabal Al-Thariq).

Pertempuran pertama ini disebut juga sebagai Perang Guadalete. Yaitu Perang antara Dinasti Umayyah dengan bangsa Goth Eropa. Kala itu pasukan Dinasti Umayyah dipimpin seorang pahlawan Islam yang terkenal, Thariq bin Ziyad dan orang-orang Goth yang menduduki Andalus (Spanyol) dipimpin oleh Raja Roderic. Perang ini mulai terjadi pada tahun 711.

Thariq adalah salah seorang panglima terbesar dalam sejarah Islam yang merupakan prajurit Kerajaan Umayyah (Bani Umayyah). Setelah Musa bin Nushair membuka jalan pasukan Islam ke Eropa, Thariq ibn Ziyad menyempurnakannya dengan menaklukkan Andalus. Atas perintah Khalifah al-Walid bin Abdul Malik, Thariq membawa pasukan Islam menyeberangi selat Gibraltar menuju daratan Eropa

Andalus adalah nama Arab yang diberikan kepada wilayah-wilayah bagian semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal sekarang) yang diperintah oleh orang Islam selama beberapa waktu mulai tahun 711 sampai 1492.

Pada tanggal 28 Ramadan tahun ke-92 Hijriyah, panglima Islam bernama Tariq bin Ziyad dikirim pemerintahan Bani Umayyah untuk membebaskan Andalus. Tariq memimpin armada Islam menyeberangi laut yang memisahkan Afrika dan Eropa. Setelah pasukan Islam mendarat, Tariq membakar kapal-kapal tentara Islam agar mereka tidak berpikir untuk mundur. Akhirnya pasukan Tariq berhasil menguasai Andalus dan menyelamatkan rakyat Andalus yang dizalimi. Islam bertapak di Andalus selama delapan abad. [6][7]


7. ISLAM MENGALAHKAN MONGOL

P
ada tahun 1206 sampai 1405, kaum Mongol melebarkan penaklukannya hampir semua benua Asia. Menurut sejarah, kekaisaran penaklukan mereka seluas 33 juta kilometer persegi. Jenderal tentara Mongol dikenal sebagai Genghis Khan. Dalam misi penaklukan itu, mereka membunuh lebih sejuta rakyat negara yang dikalahkan. Penaklukan mereka menjangkau sampai ke Moscow dan Kiev.

Pada tahun 1258, tentara pimpinan jenderal Hulagu Khan menyerbu kota Baghdad yang menjadi kemegahan Dinasti Abbasiah. Dalam serangan itu, banyak umat Islam terbunuh dan banyak buku karangan sarjana Islam dibuang ke dalam Sungai Eufrat dan Dajlah sehingga airnya menjadi hitam karena tinta.

Pada 15 Ramadan 658 Hijriyah bersamaan tahun 1260 Masehi, tentara Islam bangkit membuat serangan balas. Tentara Islam dan para ulama pimpinan Sultan Qutuz dari dinasti Mamluk, Mesir menyerbu ke Palestina setelah Mongol menguasainya. Kedua pihak bertemu di Ain jalut. Terjadilah Perang Ain Jalut.

Dalam pertempuran itu, tentara Islam meraih kemenangan dan berhasil menawan Kitbuqa Noyen, penasihat Hulagu Khan yang menasihatinya untuk menyerang Baghdad. Kitbuqa akhirnya dieksekusi. Kemenangan itu adalah suatu yang luar biasa saat Mongol yang terkenal dengan kekerasan akhirnya kalah pada tentara Islam. [8]


8. PERISTIWA PERANG HITTIN

H
ittin teletaki di dekat Tiberias, dalam wilayah Israel masa kini. Medan pertempuran ini, dekat Kota Hittin, memiliki bukit ganda (Tanduk Hittin) sebagai ciri geografis utama yang terletak di sisi suatu lintasan pegunungan utara antara Tiberias dan jalan dari Akko menuju timur. Jalan Darb al-Hawarnah, dibangun oleh bangsa Romawi, berfungsi sebagai pelintasan timur-barat yang utama antara arungan-arungan Sungai Yordan, Danau Galilea dan pantai Mediterania.

Perang Hattin adalah kontak senjata yang terjadi antara umat Islam yang dipimpin oleh Shalahuddin al-Ayyubi melawan Tentara Salib (Cruseder) dari Kerajaan-Kerajaan Eropa Abad Tengah di Jerusalem (Perang Salib III). Perang ini terjadi pada musim panas, di bulan Ramadhan 4 Juli 1187. Wilayah Tiberias, di dekat kota Hittin, Israel sekarang, adalah medan laga antara pasukan muslim dan para pembela salib ini.

Di awal tahun 1180-an, Shalahuddin al-Ayyubi dan pihak salib yang terdeiri dari beberapa faksi melakukan gencatan senjata dan menghentikan peperangan dengan umat Islam. Namun kesepakatan itu dikhianati oleh salah satu faksi Salib yang dipimpin oleh Raynald pimpinan faksi Chatillon. Ia menyerang kafilah dagang muslim, bahkan ia juga telah menyiapkan pasukan untuk menyerang Mekah.

Perang ini diakhiri dengan kemenangan umat Islam. Raynald yang didukung oleh beberapa faksi salib pun berhasil ditaklukkan. Kekalahan ini merupakan salah satu kekalahan terbesar yang dialami pasukan salib dan juga merupakan gerbang pembuka penaklukkan Jerusalem dan kembalinya Palestina ke tangan umat Islam. [9]


9. PEPERANGAN YAKHLIZ

P
ada 15 Ramadan 1294 H, tentara Islam dari Dinasti Ottoman yang dipimpin oleh Ahmad Mukhtar Basya dengan jumlah 34.000 anggota mengalahkan tentara Rusia yang berjumlah 740.000. Sebanyak 10.000 tentara Rusia tewas dalam pertempuran itu. Ia menjadi kebanggaan umat Islam mempertahankan agama yang diancam oleh pemerintah Tzar di Rusia. [10]


10. KEMERDEKAAN INDONESIA DI BULAN RAMADHAN

T
entara pendudukan Belanda telah ditaklukkan oleh tentara Jepang pada tahun 1941, jadi sejak itu pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia tidak berkuasa lagi diganti oleh Jepang. Namun Jepang kalah dalam Perang Dunia Ke-2. Praktis ketika itu tidak ada lagi negera asing memerintah Indonesia. Dengan itu kesempatan untuk memerdekakan diri sendiri telah berada ditangan bangsa Indonesia.

Setelah kekalahan Jepang kepada Sekutu ditandai dengan dijatuhkannya Bom Atom Uranium “Little Boy” di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945. Tiga hari berikutnya, 9 Agustus, Amerika menjatuhkan lagi Bom Atom plutonium “Fat Man” di Nagasaki. Dalam kesempatan itu para pejuang di Indonesia berusaha untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia tanpa bantuan kemerdekaan dari Jepang maupun pemberian dari Belanda.

Sempat terjadi perdebatan antara golongan tua yang berpendapat menunggu situasi dulu dan golongan muda yang menginginkan kemerdekaan Indonesia harus segera diproklamasikan tanpa menunggu komando dari pihak Jepang.

Baik golongan tua maupun golongan muda, sesungguhnya sama-sama menginginkan secepatnya dilakukan Proklamasi Kemerdekaan dalam suasana kekosongan kekuasaan dari tangan pemerintah Jepang. Hanya saja, mengenai cara melaksanakan proklamasi itu terdapat perbedaan pendapat. Golongan tua, sesuai dengan perhitungan politiknya, berpendapat bahwa Indonesia dapat merdeka tanpa pertumpahan darah, jika tetap bekerjasama dengan Jepang.

Karena itu, untuk memproklamasikan kemerdekaan, diperlukan suatu revolusi yang terorganisir. Soekarno dan Hatta, dua tokoh golongan tua, bermaksud membicarakan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dengan cara itu, pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan tidak menyimpang dari ketentuan pemerintah Jepang. Sikap inilah yang tidak disetujui oleh golongan pemuda. Mereka menganggap, bahwa PPKI adalah badan buatan Jepang.

Sebaliknya, golongan pemuda menghendaki terlaksananya Proklamasi Kemerdekaan itu, dengan kekuatan sendiri. Lepas sama sekali dari campur tangan pemerintah Jepang. Perbedaan pendapat ini, mengakibatkan penekanan-penekanan golongan pemuda kepada golongan tua yang mendorong mereka melakukan aksi penculikan terhadap diri Soekarno-Hatta dan dibawa ke Rengasdengklok.

Dalam Peristiwa Rengasdengklok, Golongan Muda yang telah terbakar semangat untuk memerdekakan Indonesia dari penjajah-penjajah Indonesia membuat gerakan dengan membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Hal ini untuk mencegah mereka dipengaruhi oleh Jepang agar menunda proklamasi kemerdekaan. Golongan Muda meyakinkan kepada Golongan Tua bahwa Jepang telah benar-benar menyerah kepada Sekutu.

Rengasdengklok

Rengasdengklok kota kecil dekat Karawang dipilih oleh para pemuda untuk mengamankan Soekarno-Hatta dengan perhitungan militer; antara anggota PETA (Pembela Tanah Air) Daidan Purwakarta dengan Daidan Jakarta telah terjalin hubungan erat sejak mereka mengadakan latihan bersama-sama. Di samping itu, Rengasdengklok letaknya terpencil sekitar 15 km. dari Kedunggede Karawang. Dengan demikian, deteksi dengan mudah dilakukan terhadap setiap gerakan tentara Jepang yang mendekati Rengasdengklok, baik yang datang dari arah Jakarta maupun dari arah Bandung atau Jawa Tengah.

Di sebuah pondok bambu berbentuk panggung di tengah persawahan Rengasdengklok, siang itu terjadi perdebatan panas; "Revolusi berada di tangan kami sekarang dan kami memerintahkan Bung, kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu ..." "Lalu apa?" teriak Bung Karno sambil beranjak dari kursinya, dengan kemarahan yang menyala-nyala. Semua terkejut, tidak seorang pun yang bergerak atau berbicara.

Waktu suasana tenang kembali. Setelah Bung Karno duduk. Dengan suara rendah Bung Karno mulai berbicara; "Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Dalat (Saigon, Vietnam sewaktu diminta datang Bung Karno bersama Bung Hatta dan Rajiman kesana oleh Jepang yang diwakili oleh Marsekal Terauchi tanggal 12 Agustus 1945) saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17".

Kemerdekaan Indonesia



"Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16?" tanya Sukarni. "Saya seorang yang percaya pada “mistik”. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Qur'an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang (sholat wajib sehari) 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia". Demikianlah antara lain dialog antara Bung Karno dengan para pemuda di Rengasdengklok.

Sementara itu, di Jakarta, antara Mr. Ahmad Soebardjo dari golongan tua dengan Wikana dari golongan muda membicarakan kemerdekaan yang harus dilaksanakan di Jakarta. Laksamana Tadashi Maeda, bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Berdasarkan kesepakatan itu, Jusuf Kunto dari pihak pemuda, hari itu juga mengantar Ahmad Soebardjo bersama sekretaris pribadinya, Sudiro, ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta. Rombongan penjemput tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 17.00. Ahmad Soebardjo memberikan jaminan, bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00. Dengan jaminan itu, komandan kompi PETA setempat, Cudanco Soebeno, bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, pagi harinya di rumah Ir. Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, kemerdekaan Indonesia di proklamirkan oleh Ir. Soekarno dan Drs. M. Hatta atas nama bangsa Indonesia pada tanggal 17 bulan Agustus tahun 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 Hijriah. [11] [12]


PENUTUP

D
alam Islam, berperang di bulan apapun adalah haram hukumnya jika tidak ada alasan yang dibenarkan oleh syariat, apalagi di bulan-bulan haram. Bulan-bulan Haram adalah empat bulan yang ditetapkan dalam syariat Islam sebagai bulan yang harus dihormati. Bulan-bulan tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Meski ada kewajiban berpuasa pada bulan Ramadhan, namun sejarah mencatat sejumlah perang besar yang terjadi pada bulan suci ini. Rasulullah dan para pengikutnya tidak segan mengangkat senjata meski perut kelaparan dan mulut terasa seperti terbakar karena kehausan.

Mereka sadar betul, jihad adalah kewajiban dan apa pun akan mereka lakukan untuk menyebarluaskan dan menjaga kewibawaan Islam. Perang mestipun tidak disukai Rasulullah, namun karena situasi memaksa (menentukan ‘hidup atau mati’) maka perang untuk mempertahankan kebenaran dibelohkan.

Hebatnya, meski berperang dalam keadaan berpuasa ditambah lagi dengan minimnya persenjataan dan jumlah orang, namun Rasulullah dan pasukannya mampu memenangi sejumlah peperangan besar.

Salah satu perang besar yang terjadi saat Ramadhan adalah Perang Badar. Perang ini terjadi pada 13 (adapula yang menyebutkan 17) Maret 624 Masehi atau 17 Ramadhan 2 Hijriah.

Badar adalah nama lembah yang terletak di antara Madinah dan Makkah. Perang ini hanya melibatkan 313 orang Islam. Padahal, mereka harus menghadapi 1.000 tentara musyrikin Makkah yang bersenjata lengkap. Meski kalah jumlah personel, pasukan Islam mampu menandingi kekuataan kaum kafir. Dalam perang ini, sebanyak 70 tentara musyrikin tewas, 70 ditawan, dan sisanya melarikan diri.

Terakhir sebagai penutup kami kutipkan kabar gembira dari Allah Yang Mahakuasa (Almighty God) dari firman-Nya dalah Surah ke-3, Āli ‘Imrān ayat 123 s/d ayat 125  yang artinya:

“Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah agar kamu menyukurinya.”

(Ingatlah), ketika engkau (Muhammad) menyatakan kepada orang-orang yang beriman,  “Apakah tidak cukup bagimu bahwa Allahmembantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit).”

“Ya” (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa ketika mereka menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu yang memakai tanda.

Dan Allah tidak menjadikannya (pemberi bala bantuan itu, KEPADA UMMAT YANG AKAN DATANG) melainkan sebagai kabar gembira bagi (KEMENANGAN)-mu, dan agar hatimu tenang karenanya. Dan tidak ada kemenangan itu, selain dari Allah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. - Billāhit Taufiq wal-Hidāyah. □ AFM     



Catatan Kaki
[1]https://id.wikipedia.org/wiki/Nuzulul_Qur%27an
[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Badar
[3] https://kisahmuslim.com/3542-peperangan-di-bulan-ramadhan-bagian-1.html
[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Pembebasan_Mekkah
[5] Said Hawa, AR-RASUL Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, Gema Insani Press, 2003 hal 121 via:
https://books.google.com/books?id=FFrSAmZrhaUC&pg=PA121&dq=ekspedisi+utusan+rasul+ke+yaman&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwio1r2SzKDiAhXCzVkKHTwqDxMQ6AEIOzAC#v=onepage&q=ekspedisi%20utusan%20rasul%20ke%20yaman&f=true
[6] https://afaisalmarzuki.blogspot.com/2015/06/bangun-dan-jatuhnya-andalusia.html
[7] https://afaisalmarzuki.blogspot.com/2018/05/al-andalus-circa-711-1492.html
[8] https://kisahmuslim.com/3566-peperangan-di-bulan-ramadhan-bagian-2.html
[9] https://kisahmuslim.com/3566-peperangan-di-bulan-ramadhan-bagian-2.html
[10] http://fadhlulfahmi.blogspot.com/2012/07/11-peristiwa-sejarah-islam-di-bulan.html
[11] https://kuncikeyakinan-faisal.blogspot.com/2018/08/hari-kemerdekaan-indonesia.html
[12] https://bedahbuku-faisal.blogspot.com/2017/08/membuka-catatan-sejarah.html  □□