Wednesday, May 6, 2020

Jaga Jarak Berdiam di Rumah




Kata Pengantar

Seumur hidup penulis tidak pernah membayangkan adanya musibah dunia sedahsyat tahun 2020 ini yang biasanya ditimbulkan oleh ‘bencana alam’ seperti gunung meletus, banjir, tanah longsor, gelombang air laut tsunami yang sifatnya lokal tidak mendunia seperti wabah pandemic virus corona COVID-19 ini.

Khususnya Amerika dampak nyatanya dimulai bulan Maret 2020, namun tindakan lockdown - berdiam di rumah mulai tanggal 30 April. Artinya,  sekolah dan perguruan tinggi serta kegiatan ekonomi lainnya ditutup seperti mall, restoran, bioskop, bar dan nightclub pertandingan olahraga, namun hal ini dianalisis terlambat hingga kini yang terkena - menurut catatan pertanggal 6 Mei jam 15:12 EDT - yang terkena wabah telah mencapai sejuta lebih (1,214,572) atau sebesar hampir 33% dari global (3,721,779). Telah pula merenggut nyawa hampir 72 ribu (71.982) orang atau hampir 28% dari global (260,487) melebihi prediksi sebelumnya yang diperkirakan 60 ribu sampai dengan awal Agustus. Dengan data kematian seperti itu selanjutnya diperkirakan kematian dari COVID-19 di Amerika akan mencapai dobel (2x lipat) yaitu 134 ribu.

Sementara obat dan vaksin pencegahnya belum ada, maka apa yang dianjurkan Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallām lah yang terbaik yaitu isolasi (social distancing - jaga jarak dan lockdown - berdiam di rumah).



Setiap tindakan mempunyai konsekuensi sebagaimana yang dikatakan Gubernur New York. Andrew Cuomo, dimana daerah adminstrasinya terkana wabah COVID-19 yang paling parah, khususnya New York City. Akibat dari kebijakan social distancing dan lockdown ini menyebabkan tingkat pertumbuhan ekonominya merosot dan pengangguran meningkat tajam, tapi hidup manusia terjaga. Sebaliknya jika kebijakan social distancing dan lockdown ini tidak ada  maka ekonomi akan berjalan seperti biasa, tapi banyak warga yang terkapar wabah ini dan merengggut jiwa manusia yang semakin meningkat, pilih mana? katanya.

Suasana ditempat penulis terlihat sudah berlangsung selama 38 hari, lapangan parkir selalu penuh dan hampir tidak ada orang yang keluar, seperti terlihat pada flyer terlampir diatas.




SOCIAL DISTANCING - jaga jarak
& LOCKDOWN - berdiam di rumah
Oleh: A. Faisal Marzuki


PENDAHULUAN

D
unia Internasional telah dihebohkan oleh sebuah wabah yang sangat mengerikan pada penghujung tahun 2019 yang lalu. Wabah tersebut dikenal dengan virus corona (Covid-19) yang telah memakan korban ratusanribu nyawa manusia di seluruh dunia. Melihat dari fakta, virus corona ini termasuk dari wabah yang sangat mengerikan, karena penyebarannya yang sangat cepat dan mematikan bagi yang dihinggapinya.

Jauh sebelum kasus ini muncul, telah terdapat juga sebuah wabah yang dikenal dengan istilah tho’un. Lalu virus corona (COVID-19) jenis baru penyakit menular yang sangat berbahaya ini bisa dikategorikan sama dengan tho’un, [1] walaupun berbeda penamaan dan cirinya, penyakit ini sama-sama berbahaya dan menular yang tidak bisa disepelekan.

Sejarah terjadinya penyakit-penyakit wabah semacam tho’un sampai virus corona ini, khususnya tho’un sudah ditemukan sejak masa Nabi Muhammad saw bahkan jauh sebelum Nabi diutus, yaitu pada zaman Bani Isra’il.



SOCIAL DISTANCING - jaga jarak
& LOCKDOWN - berdiam di rumah

Dalam ranah Ajaran Islam, sangat penting diperhatikan usaha apa saja yang berdampak positif dan negatif. Usaha yang berdampak positif perlu dilakukan, sebaliknya usaha yang mengarah pada dampak negatif harus ditinggalkan. Ini adalah kaidah universal yang harus dijadikan pedoman umum, termasuk dalam hal menyikapi Virus Corona (COVID-19) ini.


Manusia lebih berharga dari materi

Usaha positif yang diajarkan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallām dalam menangkal penyebaran wabah antara lain ialah dengan mengisolasi area wabah. Apabila wabah sudah menyebar di suatu tempat, maka isolasi adalah langkah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallām. Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallām bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya:

“Apabila kalian mendengar thā’ūn (pes, lepra - penyakit menular yang berbahaya atau mematikan) [1] di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” (HR al-Bukhari).

Wabah thā’ūn dalam Hadits tersebut adalah penyakit menular yang berbahaya atau mematikan saat itu, sebab di masa lalu wabah yang populer dan memakan banyak korban jiwa itu adalah thā’ūn adalah jenis penyakit pes dan lepra, yaitu penyakit menular berbahaya yang mematikan sampai ribuan.  Sedangkan hukum isolasi sebagaimana yang disebutkan Hadits itu sendiri berlaku bagi semua wabah, termasuk wabah ‘Virus Corona’ (COVID-19) dimana (nyawa) manusia lebih berharga dari materi (ekonomi).

Isolasi (social distancing - jaga jarak (menggunakan masker dan sarung tangan), lockdown - berdiam di rumah) ini dapat mencegah penyebaran wabah ke daerah lebih luas, namun di satu sisi akan menyebabkan orang yang berada di daerah wabah akan ikut terdampak wabah juga. Dalam hal ini kemudian Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallām bersabda bahwa wabah tersebut akan menjadi siksaan bagi orang yang tidak beriman, tetapi akan menjadi rahmat bagi mereka yang beriman. Bahkan seorang muslim yang terkena wabah dan bersabar akan mendapatkan pahala, karena tidak menularkan atau tidak ditularkan oleh orang lain, termasuk pahala mati syahid. Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallām bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الطَّاعُونِ فَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَأَنَّ اللهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

Artinya:

“Dari ‘Aisyah radhiallāhu’anha, istri Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallām berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu shallallāhu ‘alaihi wasallām tentang masalah tha’un (penyakit pes, lepra) lalu beliau mengabarkan kepadaku bahwa tha’un (penyakit pes, lepra) adalah sejenis siksa yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki dan sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum muslimin dan tidak ada seorangpun yang menderita tha’un lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala dan mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah menakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid.” (HR al-Bukhari).

Dengan demikian, sangat tidak tepat apabila ada seorang muslim meremehkan adanya peredaran wabah atau justru melakukan hal-hal yang bertentangan dengan sabda anjuran Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallām di atas, misalnya dengan menampakkan keberanian menolak untuk isolasi wabah. Tindakan ini pada hakikatnya bukan keberanian melainkan kecerobohan yang menyebabkan bahaya bagi dirinya dan juga bagi orang lain, karena daya tularnya luar biasa. Segala tindakan yang mendatangkan potensi bahaya, secara Ajaran Islam (syari’ah) tergolong sebagai tindakan yang haram.

Demikian pula Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallām, meskipun beliau mengajarkan bahwa tidak ada penyakit yang dapat menular dengan sendirinya tanpa kontrol dari Allah subhāna wa ta’ālā, namun di waktu yang sama beliau juga menginstruksikan agar yang sakit tidak bercampur baur dengan yang sehat supaya tidak terjadi penularan. Beliau bersabda:

قَالَ أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُورِدُوا الْمُمْرِضَ عَلَى الْمُصِحِّ

Artinya:

Abu Salamah bin Abdurrahman berkata, Saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallām beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat”. (HR al-Bukhari).

Taat pada sabda yang berisi anjuran Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallāmdo not leave and do not visit infected area” bukan berarti takut (terhadap virus corona COVID-19 selain pada Allah saja), justru Hadits tersebut merupakan wujud pemahaman agama yang baik serta ikhtiar yang nyata untuk berbuat baik pada sesama (supaya jangan tular menularkan). Billāhit Taufiq wal-Hidāyah. Germantown, MD, 13 Ramadan 1441 H / 6 Mei 2020 M. □ AFM



Catatan Kaki:
[1] Pes atau sampar (plague) adalah penyakit menular pada manusia yang disebabkan oleh ‘enterobakteria yersinia pestis’ (sebagaimana bakteriolog Prancis A.J.E. Yersin). Penyakit pes disebarkan oleh hewan pengerat (terutama tikus). Wabah penyakit ini banyak terjadi dalam sejarah, dan telah menimbulkan korban jiwa yang besar.

Kusta (lepra, leprosy) disebabkan oleh infeksi bakteri ‘mycobacterium leprae. Penyakit ini terutama mempengaruhi kulit, hidung dan saraf perifer. Gejalanya meliputi bercak kulit berwarna atau merah terang dengan sensasi berkurang, mati rasa dan lemah pada tangan dan kaki.

Kusta atau lepra dapat ditandai dengan rasa lemah atau mati rasa di tungkai dan kaki, kemudian diikuti timbulnya lesi pada kulit. Kusta atau lepra disebabkan oleh infeksi bakteri yang dapat menyebar melalui percikan ludah atau dahak yang keluar saat batuk atau bersin. □□



Referensi:
Dari berbagai sumber. □□