Wednesday, February 24, 2016

Membedah Teori Benturan Peradaban Samuel Huntington



KATA PENGANTAR

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal - lita’ārafū (ta’aruf - saling mengenal; tafahum - saling memahami; ta’awun - kerja sama; itsar - saling membela dan tidak bertengkar). Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa.” [QS Al-Hujarāt 49:13]
 

S
amuel P. Huntington terkenal karena merupakan salah satu penasihat presiden Lyndon B. Johnson dalam Perang Vietnam, termasuk penggunaan gas (bom) Napalm dan metode-metode lain untuk membunuh para Vietkong. Tapi tentu saja tidak hanya Vietkong yang mati, rakyat biasa, anak-anak dan wanita ikut tewas dalam pembantaian tersebut. Sehingga menjadikan Samuel Huntington ikut bertanggung jawab atas kematian lebih dari 5 juta rakyat Vietnam, Kambodia dan Laos. Kendatipun begitu perang dimenangi Vietnam Utara, yang kemudiannya menyatukan Vietnam Selatan di bawah Vietnam Utara menjadi kesatuan Vietnam dengan nama Republik Sosialis Vietnam.

Teorinya Samuel P. Huntington diuraikan secara ilmiah dan rinci dalam bukunya yang terkenal, terbitan Simon & Schuster, 1996: The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. Versi bahasa Indonesianya berjudul Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia Edisi Baru terjemahan M. Sadat Ismail, suntingan Ruslan (Yogyakarta: Penerbit Qalam, Cetakan Keenam Januari 2003).

Apa yang Huntington maksudkan dengan “peradaban”?  Definisinya dalam bukunya agak rancu. Peradaban yang dia jelaskan bisa terdiri dari negara dan kelompok sosial, seperti kelompok etnik dan minoritas religius. Tapi peradaban bisa juga mengacu pada kedekatan geografik dan persamaan bahasa. Yang tampaknya menjadi suatu kriterium utama dalam definisinya tentang peradaban adalah agama yang paling dominan.

Berdasarkan definisinya yang agak rancu tadi, dia mengidentifikasi beberapa peradaban utama dunia. Di antaranya, peradaban Barat, dunia bagian Timur, dan peradaban Muslim. 

Peradaban Barat mencakup beberapa kawasan geografik. Ada Australasia, kawasan yang terdiri dari Australia, Selandia Baru, Papua Nugini, dan pulau-pulau yang berdekatan di Samudera Pasifik Selatan; Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada); dan Eropa (seperti Inggris, Jerman, Perancis, Belgia, dan Belanda), termasuk Eropa Tengah dan Eropa Timur-Tengah yang dominan Katolik. Ia mencakup juga Oseania, kawasan geografik yang terdiri dari kebanyakan pulau yang lebih kecil di bagian barat dan tengah Samudera Pasifik, yang mencakup juga Australia dan Selandia Baru.

Peradaban dunia bagian Timur adalah suatu campuran peradaban penganut Buddhisme dan Hinduisme serta peradaban Sino dan Jepang. Secara khusus, peradaban Sino terdiri dari penduduk China, Korea, Singapura, Taiwan, dan Vietnam. Orang-orang China perantauan, terutama di Asia Tenggara, tergolong pada peradaban Sino.

Peradaban Muslim mencakup penduduk Timur Tengah, kecuali Armenia, Siprus, Etiopia, Georgia, Yunani, Israel, Kazakhstan, dan Sudan. Ia mencakup juga Afrika Barat bagian utara, Albania, Bangladesh, Brunei, Kepulauan Komoro, Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Kepulauan Maldives.

Huntington menolak kepercayaan luas masyarakat Barat bahwa nilai-nilai dan sistem politik Barat bisa diterima dan dipraktekkan di mana pun di dunia. Ini kepercayaan yang naif, tegasnya. Karena itu, upaya tak henti-hentinya dari Barat untuk mendorong demokratisasi dan terlaksananya norma-norma “universal” lainnya dari mereka akan menimbulkan sikap bermusuhan peradaban-peradaban lainnya. Barat, lanjut Huntington, tidak rela menerima sikap ini. Bukankah merekalah yang membentuk sistem internasional, menulis undang-undangnya, dan memberi isinya dalam bentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa?

Huntington lalu mengidentifikasi suatu pergeseran utama dari kekuasaan ekonomi, militer, dan politik dari Barat ke peradaban-peradaban dunia yang lain. Pergeseran utama itu terjadi melalui munculnya dua “peradaban penantang”: peradaban Sino dan Muslim.

Menurut Huntington, peradaban Sino di Asia Timur tengah menegaskan diri dan nilai-nilainya dalam kaitan dengan peradaban Barat. Apa penyebab penegasan diri peradaban Sino? Pertumbuhan ekonominya yang cepat. Dia percaya tujuan khusus China dengan bertindak demikian adalah untuk menegaskan kembali dirinya sebagai penguasa regional; negara-negara lain di kawasan itu akan “membutuhkan” China. Mengapa? Sejarah China dan negara-negara itu adalah sejarah tentang struktur komando hierarkis, struktur yang menyiratkan pengaruh ajaran Konfusius (yang menekankan penguasaan diri, kepatuhan pada hierarki sosial, dan ketertiban sosial dan politik)  di balik peradaban Sino. Struktur ini bertolak belakang dengan individualisme (kepercayaan akan pentingnya kedudukan seseorang dalam suatu masyarakat) dan pluralisme yang dinilai tinggi di Barat.


Berbagai Kritik atas Teori Huntington

Teori politik Samuel P. Huntington tentang benturan antarperadaban mendapat berbagai kritik. Ringkasan kritik beberapa di antaranya demikian:
  1. Akar benturan antarperadaban adalah afisiliasi tunggal, seperti penganut Hinduisme yang melawan penganut Muslim di India. 
  2. Akar benturan antarperadaban adalah kepercayaan filsafati yang berbeda-beda di antara berbagai kelompok budaya atau agama.
  3. Teori tentang benturan antarperadaban lemah karena menunjukkan suatu geografi yang dibayangkan: Setiap struktur peradaban dibayangkan sebagai “terkurung pada dirinya” dan setiap ras memiliki takdir dan psikologi yang khusus. 
  4. Teori Huntington menunjukkan suatu taksonomi (asas-asas pengelompokan) yang sederhana dan acak karena mengabaikan dinamika intenal dan ketegangan pendukung di dalam suatu peradaban.
  5. Teori itu mengabaikan fakta bahwa ada peradaban yang terpecah-pecah dan menunjukkan sedikit kesatuan internal. Contoh: Dunia Muslim yang sangat terpecah-pecah sesuai garis-garis etnik dari orang Arab, Persia, Turki, Pakistan, Kurdi, Berber, Albania, Bosnia, Afrika, dan Indonesia – masing-masing memiliki pandangan dunia yang berbeda-beda.
  6. Teori itu mengabaikan juga fakta bahwa dalam masyarakat Islam secara khusus, konflik timbul antara nilai-nilai agama tradisional dan “modernitas”: Nilai-nilai konsumerisme dan dunia hiburan.
Terlepas dari berbagai kritik tadi, karya Samuel P. Huntington dipandang berisi pra-pengetahuan tentang konflik-konflik antarperadaban yang terjadi sesudah serangan teroris di Amerika 11 September 2001. Konflik-konflik itu mencakup serangan Amerika ke Afghanistan, pemboman Bali 2002, invasi tentara Amerika dan sekutunya ke Irak 2003, pemboman kereta api di Madrid 2004, krisis gambar kartun Nabi Muhammad saw 2006, pemboman London 2005, krisis nuklir Iran yang tengah berlangsung, konflik Israel-Lebanon 2006, dan konflik Israel-Gaza 2008-2009.

Masa kini, tesis Huntington tentang benturan antarperadaban bisa dipandang juga sebagai suatu nubuat yang digenapi dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy). Gagasannya sudah memengaruhi kaum neo-konservatif (pendukung baru dari mereka yang ingin kembali pada nilai-nilai konservatif) Amerika sebelum 11 September 2001. Dilaporkan bahwa banyak kelompok Islam radikal di Timur Tengah membenarkan pikiran pokok Huntington tentang benturan antarperadaban. □


MEMBEDAH TEORI BENTURAN PERADABAN
SAMUEL HUNTINGTON

Politik (as-siyasah) adalah kebijakan bernegara dan berantar negara dalam Islam adalah: “Segala aktivitas yang membuat manusia lebih dekat kepada kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan."


PENDAHULUAN

A
dalah karya Samuel Huntington, Clash of Civilization yang menjadi rujukan utama bagi paradigma kebijakan politik hampir di seluruh dunia saat ini. Yang menurutnya pasca Perang Dingin, dunia akan lebih banyak di dominasi oleh dinamika politik yang terjadi antara peradaban (kultural) alih-alih konflik antara National State seperti yang terjadi pada Perang Dingin (negara perang melawan negara, atau pakta melawan pakta). 

Clash of Civilization merupakan anti-tesis Samuel terhadap karya Francis Fukuyama dalam The End of History and the Last Man. Tesis Francis memakai teori Hegel tentang metode Dialektika Sejarah. Meskipun sangat bertentangan dengan Karl Marx tentang “the end of history” sebagai bentuk final dari evolusi sejarah dan peradaban manusia, tetapi memakai metode yang sama, berupa dialektika historikal.

Menurut Francis bentuk finalnya adalah demokrasi liberal ala Kapitalisme. Dunia pasca perang dingin antara komunisme dan kapitalisme; sebagai pemenangnya tentu saja kapitalisme sebagai ideologi yg diadopsi secara global. Namun tesis pada Francis tampaknya terlalu tergesa-gesa, karena melihat tren pergerakan ekonomi Eropa daratan, Amerika Utara dan Latin serta Inggris, pasca tercetusnya “The Third Way”, sudah bergeser ke arah Sosialism Demokratik (SosDem). Nah, kalau yang ini Marx sudah memprediksi bahwa ketika kapitalisme memasuki kegagalan sistem, maka pilihan yg terbaik bagi manusia adalah kembali ke fitrah asal manusia: Sosialisme. Yaitu bahwa manusia adalah sama dan sederajat.

Lalu mengapa Samuel kelihatan begitu tergesa-gesa dalam menjawab tesis Francis? Itu karena sifat alami dari para industrialis dalam kapitalisme yang enggan mengakui kebenaran Marx, bahwa kapitalisme pasti akan mengalami kegagalan sistem (system failure) dan hanya bisa disembuhkan oleh perang. Prediksi Marx terbukti ketika The Great Depression melanda dunia pada 1929, maka satu-satunya terapi bagi kapitalism adalah perang. Perang Dunia II, yg sebenarnya merupakan gontok-gontokan negara imperialis dalam menata ulang pengaruh mereka terhadap dunia. Lalu perang melawan teroris-nya Bush itu adalah penyembuh buat “economic bubble” yang melanda Asia dan dunia para 1997-2000 (krismon).

Dan kini ketika Amerika dan dunia lagi terkena krisis akibat kegagalan bayar kredit properti dan melambungnya harga minyak di dunia, maka bisa dipastikan mesin perang Amerika akan tetap menderu, menyapu manusia yang akan semakin kehilangan asa dan daya. Sekarang Irak, besok Iran, lusa Syria dan lain- lain, sebuah perang dibutuhkan untuk menyembuhkan kegagalan sistem kapitalisme. Dengan begitu aliran dana akan selalu terjaga perputarannya dan investasi terus meningkat. Secara kasat mata saja, yang untung adalah para penjual senjata dan para kontraktor-kontraktor Barat.

Samuel dan para ekonom dan ahli kapitalisme, tentu saja akan menyamarkan pertentangan sebenarnya dari “peradaban” manusia. Alih-alih pertentangan ideologi dan agama seperti yang digembar-gemborkan para industrialis, sebenarnya pertentangan yang terjadi adalah pertentangan kelas antara para kapitalis dan para buruh yang telah dirampok hidupnya. Bush dan kawan-kawan selalu berkata, perang suci melawan teroris Islam, tapi toh ujung-ujungnya adalah kontrak milyaran dollar terhadap perusahaan-perusahaan konstruksi, minyak, senjata dan sebagainya.

Menurut Samuel, akan terjadi “Clash of Civilization”, Clash berarti pertentangan atau benturan, jadi akan ada semacam pertentangan antara peradaban yg merupakan sebuah entiti kultural menggantikan entitas negara yang konvensional. Akan ada sekitar 8-10 peradaban besar yg nantinya akan mendominasi dinamika politik dan konflik di dunia.

Masing-masing entitas “peradaban” tersebut memiliki dinamika sejarah yg bergesekan dengan entiti lainnya. Barat misalnya, memiliki persengketaan dengan dunia Islam, Sino, sedikit dengan Hindu dan Orthodox dan sedikit sekali dengan Amerika Latin dan Afrika. Dan Islam-lah yang memiliki hubungan persengketaan terbanyak, dengan Barat, Orthodox dan lain-lain Pemikiran Samuel ini rupanya begitu mempengaruhi dinamika sejarah dan politik saat ini, dimana pasca teori itu diserap ke dalam mindset Gedung Putih, tak ada hujan tak ada angin tiba-tiba Amerika memiliki musuh baru bernama Islam, setelah Blok Timur loyo pada akhir 1980-an.


Teori Pembenaran

P
emikiran Samuel ini lahir ketika dunia sedang dilanda kecamuk perang-perang “menghabisi” Blok Timur. Di Persia, Irak disikat, di Balkan, Yugo dipreteli dan Amerika Latin diobok-obok. Tahun 1991 Amerika menyerbu Iraq dalam rangka menggulingkan si “Nebuchadnezzar wannabe”, Saddam Husein. Sehingga sebagai seorang yang ikut andil dalam berbagai kebijakan luar negeri Amerika, Samuel tentunya berupaya keras menyediakan landasan “teologis“ mengapa Amerika “harus” menyerbu Irak. Dan kebetulan Irak merupakan salah satu negara Islam yang memiliki militer kuat. Ditambah lagi pada 1988, lahir sebuah gerakan fundamental Islam Al-Qaeda yg didirikan oleh Usamah bin Ladin sebagai reaksi akan penyerbuan Amerika ke negara Islam.

Trend fundamentalisme inilah yang rupanya dibaca Samuel sebagai bangkitnya kekuatan Islam yg nantinya akan menjelma sebagai kekuatan adidaya, sebagai sebuah peradaban. Para akademisi dan ahli di seluruh dunia mengkritisi dan mengutuk karya tersebut sebagai pemikiran yang meracuni dunia. Tesis Samuel yang sangat mirip dengan pemikiran kuno pada masa Medieval (abad pertengahan) ketika dunia masih dianggap datar dan kalau anda berlayar ke tepian dunia, maka nanti bisa jatuh ke bawah, dimakan oleh “Buto Ijo”.


Teori Geosentris

G
eosentris menganggap bahwa “peradaban” manusia terbagi menjadi dua yaitu Barat dan Timur. Peradaban Eropa Kristen-Katholik adalah peradaban Barat, karena waktu itu belum ada kapal yang mampu menembus cakrawala barat, karena dihalangi oleh Samudra Atlantik yang ganas. Sedangkan kalau ke timur maka akan sampai pada peradaban-peradaban besar seperti: Persia, Judea, Mesir, Cina, India, Jepang, Jawa dan Maluku. Dimana rempah-rempah, kemenyan (incense), kayu manis (cinnamon), kepulaga, sutera, batu Jade dan lain-lain diperdagangkan lewat Jalur Sutera yg telah ada sekitar abad ke-2. Atas dasar pemikiran seperti itulah bangsa Eropa membentuk sebuah paradigma berpikir  primordial yang picik. Padahal kalau bisa mengarungi samudra ke Barat dia juga akan sampai juga ke “Timur“. Baru abad 15-16 teori itu runtuh ketika ekspedisi-ekspedisi Bruno Diaz, Magellan dan Cano berhasil melakukan perjalanan mengelilingi bumi (Earth Circumambulation).

Ide bahwa Eropa adalah peradaban Barat dan Asia adalah peradaban Timur, sampai kini tetap digunakan, walau sebenarnya hal ini sudah tidak valid lagi, belahan baratnya orang Amerika itu orang Asia Pasifik? Bagaimana? Ide yang keliru itu juga menyangkut tentang strukturalisme peradaban manusia, dimana juga terjadi pembagian kasar antara Barat dan Timur. Paradigma peradaban Timur yang dipunyai oleh orang-orang Eropa adalah sebuah peradaban yang barbarik, kejam, kanibal, idiot, terbelakang dan lain-lain. Padahal peradaban Barat jauh tertinggal dengan peradaban besar Asia waktu itu, bahkan banyak penemuan -penemuan berasal dari timur. Sepak bola saja sudah ada di Cina dan Jepang, sewaktu orang Eropa masih hidup nomadik. Peradaban Barat baru bisa unggul ketika menguasai ilmu membuat mesiu dan senapan. Hal ini turut diperkuat oleh cerita-cerita “ngibul” yang dibawa pengelana-pengelana Eropa yang menggambarkan Asia dengan berbagai macam versi. Yang terkenal tentu saja si Marco Polo yang menceritakan bahwa Xanadu di Cina dipenuhi dengan jalan-jalan emas.


Konsep Teori Benturan Peradaban

P
emikiran Samuel jelas sekali terpengaruh oleh pemikiran Arnold J. Toynbee, yang membagi dunia Barat dan Timur, Kristen dan Pagan. Terutama kemungkinan bangkitnya kekuatan Islam sebagai “peradaban” yang solid. Hal ini tentu saja diwarisi oleh kenangan super pahit Eropa (terutama Inggris dan Perancis) pasca kekalahan Perang Salib melawan pasukan Islam. Paradigma Barat-Timur-Kristen-Pagan itulah yang bahkan tetap terjaga di dalam benak orang-orang Amerika dan Inggris, terutama pada “the ruling Plutocracy” Kristendom. Pada PD II Eisenhower menjuluki perang melawan NAZI adalah melawan paganis Eropa, yang padahal sebelumnya merupakan sekutu mereka melawan Uni Soviet yang komunis.

Dan yang paling baru adalah si bapak-anak Bush dkk yang mungkin menganggap diri mereka semacam Kristus masa kini dengan berusaha mengalahkan negara- negara anti-Kristus macam Irak, Iran, Islam, Cina dan Rusia. Banyak ahli menganggap karya Samuel ini tendensius, pengingkaran dan penyangkalan historis (ahistoris), mengada-ada, terlalu primordial, tentu saja sangat naif. Dalam dunia yang semakin mengglobal dan bervarian, pemikiran Samuel justru terlempar jauh ke belakang seribu tahun. Pembagian peradabannya adalah: 1)  Barat: Sang pemenang dalam teori ini. 2) Islam: Semua negara yang berbau Islam. 3) Orthodox: Penganut Kristen Orthodox. 4) Hindu: India. 5) Sino: Rumpun Cina, termasuk Cina Diaspora, Korea, Vietnam, Singapura dan negara  lain yang mayoritas merupakan etnik Cina. 6) Jepang; 7) Afrika. 8) Buddha: Thailand, Myanmar, Laos, Tibet. 9) Amerika Latin: Katholik yang sinkretik dengan kepercayaan lokal, terutama animisme-dinamisme. 10) Alone, solitaire dan unique civilization, seperti Israel, Caribia dan lain-lain.

Ada beberapa kelemahan dari klasifikasi diatas. Adalah tidak disebutkannya ideologi Kristen Protestan. Anehnya malah disebut sebagai Barat tidak disebut sebagai peradaban Kristen, sekalipun merupakan Kristendom terbesar di dunia, dipengaruhi secara kuat oleh doktrin-doktrin Kristen Protestan. Hal ini sungguh aneh, mengingat Samuel menyebutkan peradaban lain ada yang Islam, Hindu, Buddha dll. Karena menurutnya adalah sebuah entiti kultural-ideologikal yang dipengaruhi secara kuat oleh kredo-kredo agama, tapi kok tidak ada peradaban Protestan?

Selanjutnya adalah terminologi yang sangat subyektif (prejudice) adalah Kristen Orthodox. Kristen Orthodox adalah semua domain yang berbasiskan Kristen Orthodox, mulai dari Balkan sampai Slavia. Aneh bin ajaib hampir semuanya kebetulan juga merupakan negara-negara komunis, jadi yang benar peradaban Orthodox atau peradaban Komunis?

Sedangkan mengenai peradaban-peradaban kultural macam Afrika, Amerika Latin dan yang lainnya, flux sejarahnya tidak terlalu signifikan. Afrika dan Amerika Latin belum menjadi entiti yang homogen (misal: belum terciptanya masyarakat Uni Afrika atau Uni Latin), dan dalam sejarah hanyalah koloni-koloni peradaban lain, jadi bisa dibilang sub-peradaban. Dan jangan lupa Samuel, sama seperti orang Eropa-Amerika, selalu beranggapan Afrika dan Latin itu merupakan sebuah kesatuan kultural yang sama, padahal sebenarnya, terdiri dari ras-ras dan etnik-etnik yg berbeda-beda. Dalam hal ini Samuel menyajikan fakta yang agak keliru.

Khusus Jepang, bisa dimasukkan sebagai sebuah peradaban (tercatat dalam sejarah memiliki dinamika sejarah yang masif dan panjang, juga terdiri dari satu entiti kultural yang homogen), tapi yang perlu dicatat juga adalah sepertinya Samuel bertendensi melakukan pendiskreditan terhadap Jepang yang kini sebagai kekuatan ekonomi sebagai rival Amerika.


RRC dan Rusia

A
ncaman terbesar yang nyata saat ini sepertinya datang dari rival lawas blok Barat yaitu RRC dan Rusia. Konflik militer seringkali dipicu oleh kedua kekuatan ini. Contohnya Irak, Iran, Afghan dan Pakistan, biarpun merupakan negara yang berbau Islam, tetapi merupakan sekutu alami dari Russia, terutama dalam hal pasokan senjata. Kampanye Amerika di Asia Tengah adalah usaha untuk membuka pasar-pasar yang dulunya dikuasai oleh Uni Soviet.

Namun demi untuk tidak secara frontal berhadapan dengan Russia, maka Blok Barat menjadikan Islam sebagai sasaran antara. Sampai kini krisis Iran tak kunjung padam karena Russia dan RRC menjadi sekutu yg mendukung Iran baik secara teknis maupun politis di DK PBB. Mengapa negara-negara Islam lebih bisa bersekutu dengan Russia? Karena masih sama-sama tertinggal, bahwa Islam (oknum ya!) dan Russia lebih cenderung mengadopsi totaliter atau fasisme daripada demokrasi. Di samping itu memang Sosialisme pernah menjadi kredo populer di dunia Arab dan Islam.

RRC dan Russia mempunyai kekuatan militer terbesar di dunia, dengan rudal balistik yang banyak yang bisa dipasangi nuklir. Ditambah dengan semakin menguatnya industrialisasi murah meriah di sana yang menyebabkan kemajuan ekonomi dan teknologi juga semakin imbang. Jika Uni Soviet dan RRC Maois dulu runtuh karena keroposnya ekonomi, kini tidak lagi, bahkan kini pertumbuhan ekonominya cenderung lebih unggul dari negara Eropa dan Amerika Utara.

Sehingga menjadikan Russia dan RRC sebagai negara industrialisasi yang mapan ekonominya sehingga bisa menopang kekuatan militernya. Ditambah dengan totaliter yg masih kuat mencengkram paradigma kenegaraan RRC dan Russia maka akan berpotensi menciptakan “NAZI Jerman” baru yg saat membutuhkan Lebensraum maka tidak segan-segan mencaplok teritori tetangganya. Jadi saat ini, dibanding Islam, RRC dan Russia jauh lebih mengkuatirkan keberadaannya.


Dimana Posisi Umat Muslim

U
mat Muslim sendiri bagaimana? Umat saat ini masih terjebak pada domain ras, aliran, mahzab dan kultur, belum bisa dipersatukan secara kohesif. Sejarah politik kekuasaan Islam setelah kejatuhan Kekhalifahan Utsmaniyah tahun 1924 terbagi menjadi beberapa domain, yaitu: Jazirah Arab, Asia Tengah, Afrika, Turki dan Melayu. Sebelumnya, penjajahan Barat ke Dunia Islam membuat politik dan ekonomi umat Muslim jatuh, setelah mendapat kemerdekaan baik, politik, ekonomi, dan pendidikan masih menyedihkan. Malah antar kelompok umat ada yang bertikai, bahkan  antar negara berperang satu sama lain. Ikatan kredo yang mengikatnya tidak terlalu kuat seperti era Khalifatur Rasyidin.

Apalagi jika sudah masuk dalam pembahasan-pembahasan yang bersifat 'furuiyah' sulit berkompromi atau bertoleransi. Semuamya terjadi karena faktor kultural - egoisme kelompok jauh lebih mendominasi daripada “kanonikal” - ajaran Islam yang sebenarnya yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.


KESIMPULAN

J
adi kesimpulannya peradaban ideologis itu sulit tegak berdiri, selama kontroversi perbedaan tidak pernah bisa diatasi. Namun jika melihat perkembangan kontemporer saat ini, Islam benar-benar akan tumbuh menjadi “momok” tersendiri (bagi Barat) sebagai potensi yang lagi menggeliat. Mengingat semakin mendekatnya Islam Syumuliyyah [1] kepada penganutnya.

Ajaran Islam fitrahwi (moderat) yang pernah diajarkan Muhammad saw 1400 tahun lalu, yang sempat di “destruski“ oleh pandangan kaum sufis pada abad Renaissance Eropa, menjadi sebuah filosofis yang meninabobokan kaum Muslimin. Namun kini kesadaran dan 'kredo' ajaran Islam yang sebenarnya kembali ke semangat yang dibangun generasi pertama Islam yang mengguncang sejarah dengan kemuliaan akhlak dan ajarannya, sebagaimana dikatakan pula oleh seorang ahli pikir Perancis bernama Dr. Gustave Le Bon (1841-1931) mengatakan:

“Dalam satu abad atau tiga keturunan, tidak ada bangsa-bangsa manusia dapat mengadakan perubahan yang berarti. Bangsa Perancis memerlukan 30 keturunan atau 1000 tahun baru dapat mengadakan suatu masyarakat yang bercelup Perancis. Hal ini terdapat pada seluruh bangsa dan umat, tak terkecuali selain dari umat Islam, sebab Muhammad El-Rasul (maksudnya Muhammad Rasullullah saw) sudah dapat mengadakan suatu masyarakat baru dalam tempo satu keturunan yang tidak dapat ditiru atau diperbuat oleh orang lain”.

Jika ajaran Islam fitrahwi yang diajarkan Rasul saw dilaksanakan, maka bukan tidak mungkin teori Toynbe, Huntington, akan menjadi self-fulfilling prophecy, dan menjadi sebuah kebenaran, bahwa Islam akan muncul menjadi kekuatan yang akan mendamaikan kekuatan-kekuatan peradaban lainnya sebagaimana Rasul saw memimpin Madinah 1400 tahun yang lalu, karena Islam yang dibawa Rasul saw itu adalah Islam rahmatan lil’ālamīn - membawa kepada kedamaian dan kesejahteraan dunia bagi semua bangsa di dunia. 

Sir George Bernard Shaw (1856-1950), seorang dramawan Irlandia, kritikus dan polemik yang pengaruhnya terhadap teater, budaya dan politik Barat yang berkembang dari tahun 1880 sampai kematiannya tahun 1950, mengatakan: 
  • “Saya senantiasa menghormati agama Muhammad, karena potensi yang dimilikinya. Ini (Islam) adalah satu-satunya agama yang bagi saya memiliki kemampuan menyatukan dan merubah peradaban. Saya sudah mempelajari Muhammad sesosok pribadi agung yang jauh dari kesan seorang anti kristus, dia harus dipanggil “sang penyelamat kemanusiaan”.
  • Saya yakin, apabila orang semacam Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, dia akan berhasil mengatasi segala permasalahan sedemikian hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia." [The Genuine Islam - Islam yang Sebenarnya, Vol. 1, No. 8, 1936]
Pendapat Shaw diatas tidak berlebihan, karena sebagaimana juga paradigma rahmatan lil’ālamīn dalam ajaran Islam yang melahirkan konsep azaz pandang bahwa: “Setiap bangsa atau negara menegakkan ta’aruf (saling mengenal); tafahum (saling memahami); ta’awun (kerja sama); itsar (saling membela dan mendukung serta tidak bertengkar atau perang satu sama lainnya). Peradaban semacam itulah yang ditawarkan oleh Islam untuk manusia di muka bumi ini. [2] Allahu ‘alam bish-shawab, billahit Taufiq wal-Hidayah. □ AFM


Baca juga tajuk terkait dalam tulisan ini: Pengertian Politik Dalam Islam 2


Catatan Kami:
[1] Islam Syumiliah - Syumul maknanya atau maksudnya adalah lengkap (comprehensive, menyeluruh).  Ini berarti dengan dikaitkan dengan Islam, yaitu, bahwa agama Islam adalah sebuah agama yang lengkap dan sempurna serta meliputi kehidupan dunia (dalam kosakata dunia Barat disebut secular) dan akhirat (dalam kosakata dunia Barat disebut religious). Artinya (ajaran) Islam itu comprehensive, lengkap atau menyeluruh yaitu mengatur atau ajaran untuk hidup di dunia selamat dan begitu pula akhirat selamat pula, sebagai konsekwensi percaya kepada adanya hari akhirat - hari pembalasan. 
[2] “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal - lita’ārafū (ta’aruf - saling mengenal; tafahum - saling memahami; ta’awun - kerja sama; itsar - saling membela dan tidak bertengkar). Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa.” [QS Al-Hujarāt 49:13]  □□


Sumber:
http://ringkasan-infoiptek21.blogspot.com
https://harmanza.wordpress.com/2010/06/04/membedah-teori-benturan-peradaban-samuel-huntington/
Dan sumber-sumber lainnya. □□□


Tuesday, February 9, 2016

Latar Belakang Lahirnya Zaman Kegelapan 2





Disebutkan pula dalam Al-Quran bahwa orang yang berakal bisa mengambil pelajaran dari sejarah umat manusia: “Sungguh pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi mereka yang berakal (ūlil albāb).” [QS Yūsuf 12:111)

 “Dia (Allah) memberikan hikmah kepada siapa yang Dia (Allah) kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal (ūlul albāb).” [QS Al-Baqarah 2:269]



Kekejaman Inkuisisi

P
roses interogasi dan eksekusi hukuman pada inkuisisi sangat berbeda dengan proses pada pengadilan modern. Penyiksaan pada inkusisi memang diizinkan dengan tujuan mendapatkan kebenaran dari si tertuduh. Masalahnya, dengan penyiksaan semacam itu orang yang mengaku tentunya bukan hanya mereka yang benar-benar ‘bersalah’, tapi juga mereka yang tidak tahan menghadapi siksaan. Siksaan dan hukuman pada inkuisisi memang tidak ditujukan untuk kebaikan si tertuduh, tapi demi membuat takut masyarakat umum dan mencegah mereka dari kejahatan.

Ini jelas berbeda dengan konsep qishah di dalam Islam, setidaknya dalam tiga hal mendasar. Pertama, inkuisisi secara aktif mencari dan menghukum pelaku penyimpangan, bahkan seringkali cenderung ’mencari-cari’ kesalahan. Sementara jika kita mengacu pada qishah yang diterapkan Nabi saw, beliau tidak mau mencari-cari kesalahan orang, bahkan cenderung enggan untuk langsung menghukum ketika ada yang mengakui kesalahannya (seperti pada kasus pezina yang datang pada Nabi dan melaporkan kesalahan dirinya). Kedua, pada Islam tidak ada proses penyiksaan untuk memaksa tertuduh mengaku. Ketiga, menurut Islam ketika seorang terbukti bersalah dan dihukum di depan umum, maka kebaikannya bukan hanya bagi masyarakat umum, tapi juga bagi si tersalah, karena itu merupakan bentuk taubatnya dan akan menghindarkannya dari hukuman di akhirat.

Menurut Henry Kamen dalam bukunya Spanish Inquisition (diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Para Algojo Tuhan), penyiksaan dalam proses inkuisisi tidak seserius yang dituduhkan pihak-pihak yang memusuhi inkuisisi dan tidak sekejam penyiksaan pada pengadilan sekuler abad pertengahan.

Setidaknya ada tiga bentuk siksaan utama pada inkuisisi: garrucha, toca, dan potro. Garrucha berarti kerekan yang diikatkan ke pinggang tertuduh yang mengangkatnya ke langit-langit ruangan. Kaki tertuduh diikat dengan pemberat besi. Korban diangkat ke atas dan dijatuhkan ke bawah secara mengejutkan dan berulang-ulang. Hal ini bisa menyebabkan otot tangan dan kaki putus.

Toca adalah kain linen yang dimasukkan ke mulut tertuduh secara paksa. Kemudian air dituangkan secara pelahan-lahan ke dalam perut tertuduh melalui kain linen tersebut hingga ia merasa tersiksa karenanya. Potro adalah bentuk siksaan di mana tubuh tertuduh diikat kuat-kuat ke sebuah tiang. Kemudian para algojo menarik tali yang melilit tubuh korban dari arah berlawanan secara bertahap hingga tali-tali itu menembus daging. Pada semua bentuk penyiksaan ini, para tertuduh, baik laki-laki maupun perempuan, selalu ditelanjangi.

Betapapun pembelaan yang diberikan atas inkuisisi Spanyol, proses yang berlangsung di dalamnya tetap saja tidak berperikemanusiaan. Proses pada lembaga ini bersifat tertutup (hanya hukuman akhirnya yang dipertontonkan secara terbuka), saksi-saksinya dirahasiakan, dan pengacara yang membela pun dari pihak yang ditetapkan oleh pihak inkuisisi. Semua itu sangat memberatkan dan menyulitkan pihak yang dituduh bersalah.

Seorang tertuduh biasanya ditangkap dan dipenjara selama berminggu-minggu tanpa diberitahu apa sebabnya ia ditangkap. Ia dibiarkan menduga sendiri kesalahannya dan mengaku secara sukarela. Setelah dibiarkan dalam kondisi bingung seperti itu, barulah kepadanya disodorkan tuduhan-tuduhan dan ia diinterogasi untuk mengaku (biasanya disertai siksaan).

Tidak seperti pengadilan modern di mana tertuduh dianggap tidak bersalah sampai ia dibuktikan bersalah di sebuah pengadilan yang terbuka, pada inkuisisi seorang tertuduh dianggap bersalah dan ia mesti membuktikan kalau dirinya tidak bersalah pada suatu pengadilan tertutup tanpa pembelaan yang memadai. Adanya siksaan membuat para tertuduh ini menjadi lebih sulit lagi untuk mempertahankan diri.

Inkuisisi Spanyol berlangsung selama empat abad lebih dan menelan banyak korban. Keinginan gereja dan masyarakat Katholik di sana untuk memurnikan darah (limpieza de sangre) masyarakatnya telah menyebabkan wajah peradabannya yang dulunya toleran dan damai menjadi berdarah-darah. Semoga hal semacam ini tidak pernah terulang lagi dalam sejarah kita. [Alwi Alatas]


Mengungkap Sejarah Gelap Para Paus

Sejarah Gelap Para Paus – Kejahatan, Pembunuhan, dan Korupsi di Vatikan”. Itulah  judul sebuah buku yang belum lama ini diterbitkan oleh Kelompok Kompas-Gramedia (KKG). Edisi bahasa Inggris buku ini ditulis oleh Brenda Ralph Lewis dengan judul Dark History of the Popes – Vice Murder and Corruption in the Vatican.

Banyak penulis sudah mengungkap sisi gelap kehidupan kepausan. Salah satunya Peter de Rosa, penulis buku Vicars of Christ: The Dark Side of the Papacy. Buku ini juga mengungkapkan bagaimana sisi-sisi gelap kehidupan dan kebijakan tahta Vatikan yang pernah melakukan berbagai tindakan kekejaman, terutama saat menerapkan Pengadilan Gereja (Inquisisi). Kekejaman Inquisisi sudah sangat masyhur dalam sejarah Eropa. Karen Armstrong, mantan biarawati dan penulis terkenal, menyebutkan, bahwa Inquisisi adalah salah satu dari institusi Kristen yang paling jahat (one of the most evil of all Christian institutions). (Karen Armstrong, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, (London: McMillan London Limited, 1991).

Inquisisi diterapkan terhadap berbagai golongan masyarakat yang dipandang membahayakan kepercayaan dan kekuasaan Gereja. Buku Brenda Ralph Lewis mengungkapkan dengan cukup terperinci bagaimana Gereja menindas ilmuwan seperti Galileo Galilei dan kawan-kawan yang mengajarkan teori heliosentris. Galileo (lahir 1564 M) melanjutkan teori yang dikemukakan oleh ahli astronomi asal Polandia, Nikolaus Copernicus. Tahun 1543, tepat saat kematiannya, buku Copernicus yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium, diterbitkan.

Tahun 1616, buku De Revolutionibus dimasukkan ke dalam daftar buku terlarang. Ajaran heliosentris secara resmi dilarang Gereja. Tahun 1600, Giordano Bruno dibakar hidup-hidup sampai mati, karena mengajarkan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Lokasi pembakaran Bruno di Campo de Fiori, Roma, saat ini didirikan patung dirinya. Melihat situasi seperti itu, Galileo yang saat itu sudah berusia lebih dari 50 tahun, kemudian memilih sikap diam.

Pada 22 Juni 1633, setelah beberapa kali dihadirkan pada sidang Inquisisi, Galileo diputus bersalah. Pihak Inquisisi menyatakan bahwa Galileo bersalah atas tindak kejahatan yang sangat mengerikan. Galileo pun terpaksa mengaku, bahwa dia telah bersalah. Bukunya, Dialogo, telah dilarang dan tetap berada dalam indeks  Buku-Buku Terlarang sampai hampei 200 tahun. Galileo sendiri dihukum penjara seumur hidup. Ia dijebloskan di penjara bawah tanah Tahta Suci Vatikan. Pada 8 Januari 1642, beberapa minggu sebelum ulang tahunnya ke-78, Galileo meninggal dunia. Tahun 1972, 330 tahun setelah kematian Galileo, Paus Yohanes Paulus II mengoreksi keputusan kepausan terdahulu dan membenarkan Galileo.

Kisah-kisah kehidupan gelap para Paus serta berbagai kebijakannya yang sangat keliru banyak terungkap dalam lembaran-lembaran sejarah Eropa. Peter de Rosa, misalnya,  menceritakan, saat pasukan Napoleon menaklukkan Spanyol tahun 1808, seorang komandan pasukannya, Kolonel Lemanouski, melaporkan bahwa pastor-pastor Dominikan mengurung diri dalam biara mereka di Madrid.

Ketika pasukan Lemanouski memaksa masuk, para inquisitors itu tidak mengakui adanya ruang-ruang penyiksaan dalam biara mereka. Tetapi, setelah digeledah, pasukan Lemanouski menemukan tempat-tempat penyiksaan di ruang bawah tanah.  Tempat-tempat itu penuh dengan tawanan, semuanya dalam keadaan telanjang, dan beberapa di antaranya gila.

Pasukan Prancis yang sudah terbiasa dengan kekejaman dan darah, sampai-sampai merasa muak dengan pemandangan seperti itu. Mereka lalu mengosongkan ruang-ruang penyiksaan itu, dan selanjutnya meledakaan biara tersebut.

Kejahatan penguasa-penguasa agama ini akhirnya berdampak pada munculnya gerakan liberalisasi dan sekularisasi di Eropa. Masyarakat menolak campur tangan agama (Tuhan) dalam kehidupan mereka.

Sebagian lagi bahkan menganggap agama sebagai candu, yang harus dibuang, karena selama ini agama digunakan alat penindas rakyat. Penguasa agama dan politik bersekutu menindas rakyat, sementara mereka hidup berfoya-foya di atas penderitaan rakyat. Salah satu contoh adalah Revolusi Perancis (1789), yang mengusung jargon “Liberty, Egality, Fraternity”.

Pada masa itu, para agamawan (clergy) di Perancis menempati kelas istimewa bersama para bangsawan.  Mereka mendapatkan berbagai hak istimewa, termasuk pembebasan pajak. Padahal, jumlah mereka sangat kecil, yakni hanya sekitar 500.000 dari 26 juta rakyat Prancis.


Mosi tidak percaya kepada Agama Kristiani

Dendam masyarakat Barat terhadap keistimewaan para tokoh agama yang bersekutu dengan penguasa yang menindas rakyat semacam itu juga berpengaruh besar terhadap sikap Barat dalam memandang agama. Tidak heran, jika pada era berikutnya, muncul sikap anti pemuka agama, yang dikenal dengan istilah “anti-clericalism”. Trauma terhadap Inquisisi Gereja dan berbagai penyimpangan kekuasaan agama sangatlah mendalam, sehingga muncul fenomena “anti-clericalism” tersebut di Eropa pada abad ke-18. Sebuah ungkapan populer ketika itu, ialah: “Berhati-hatilah, jika anda berada di depan wanita, hatilah-hatilah anda jika berada di belakang keledai, dan berhati-hatilah jika berada di depan atau di belakang pendeta.” (Beware of a woman if you are in front of her, a mule if you are behind it and a priest whether you are in front or behind).”  (Owen Chadwick, The Secularization of the European Mind in the Nineteenth Century, (New York: Cambridge University Press, 1975).

Trauma pada dominasi dan hegemoni kekuasaan agama (Kristen) itulah yang memunculkan paham sekularisme dalam politik, yakni memisahkan antara agama dengan politik. Mereka selalu beralasan, bahwa jika agama dicampur dengan politik, maka akan terjadi “politisasi agama”; agama haruslah dipisahkan dari negara. Agama dianggap sebagai wilayah pribadi dan politik (negara) adalah wilayah publik; agama adalah hal yang suci sedangkan politik adalah hal yang kotor dan profan.

Trauma Barat terhadap sejarah keagamaan mereka berpengaruh besar terhadap cara pandang mereka terhadap agama. Jika disebut kata “religion” maka yang teringat dalam benar mereka adalah sejarah agama Kristen, lengkap dengan doktrin, ritual, dan sejarahnya yang kelam yang diwarnai dengan inquisisi (inquisition, penyidikan atau pemeriksaan atas tertuduh yang biasanya disertai dengan penyiksaan) dan sejarah persekusi (persecution, penganiayaan, penindasan) para ilmuwan.

Berbagai penyelewengan penguasa agama, dan pemberontakan tokoh-tokoh Kristen kepada kekuasaan Gereja yang mengklaim sebagai wakil Kristus menunjukkan bahwa konsep “infallible” (tidak dapat salah) dari Gereja sudah tergoyangkan.


Hikmah bagi Islam

Kaum Muslim, perlu mengambil hikmah dari kasus kejahatan para pemimpin Gereja ini. Ketika para tokoh agama tidak mampu menyelaraskan antara ucapan dan perilakunya, maka masyarakat akan semakin tidak percaya, bahkan bias “alergi” dengan agama.  Jika orang-orang yang sudah terlanjur diberi gelar - atau memberi gelar untuk dirinya sendiri - sebagai “Ulama”, tidak dapat mempertanggungjawabkan amal perbuatannya, maka bukan tidak mungkin, umat akan hilang kepercayaannya kepada para ulama. Mereka akan semakin jauh dari ulama dan lebih memuja selebriti – baik selebriti seni maupun politik.

Kasus yang menimpa sejumlah tokoh agama Katolik itu dapat juga menimpa agama mana saja. Jika tokoh-tokoh partai politik Islam tidak dapat memegang amanah - sibuk mengeruk keuntungan pribadi dan kelompoknya, tak henti-hentinya mempertontonkan konflik dan pertikaian - maka bukan tidak mungkin, umat akan lari dari mereka dan partai mereka.

Jika para pimpinan pesantren tidak dapat memegang amanah, para ulama sibuk mengejar keuntungan duniawi, dan sebagainya, maka umat juga akan lari dari mereka.  Jika orang-orang yang dianggap mengerti agama tidak mampu menjadi teladan bagi masyarakat, tentu saja sulit dibayangkan masyarakat umum akan sudi mengikuti mereka. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari semua kisah ini, untuk kebaikan umat Islam di masa yang akan datang. [hidayatullah]


Penutup

Demikianlah sejarahnya kenapa di dunia Barat terjadi pemisahan antara urusan dunia (secular) dan agama (religion) - sekularisme. Sekulerisme adalah sebuah konsep yang memisahkan antara negara dan agama (state and religion). Yaitu, bahwa negara merupakan lembaga yang mengurusi tatatanan hidup yang bersifat duniawi dan tidak ada hubungannya dengan yang berbau akhirat, sedangkan agama adalah lembaga yang hanya mengatur hubungan manusia dengan hal-hal yang bersifat metafisis dan bersifat spiritual, seperti hubungan manusia dengan tuhan.

Sejarah munculnya sekularisme sebenarnya merupakan bentuk kekecewaan (mosi tidak percaya) masyarakat Eropa kepada Gereja saat itu (abad tengah, medieval ages, the dark age Eropa) karena dominasi sosio-ekonomi dan cultural dan tindakan represif terhadap penggunaan tafsir (juga: pengetahuan) diluar gereja. Sedangkan inti ajaran dari sekulerisme mencakup Penidak-keramatan alam, Desakralisasi Politik dan Dekonsekrasi Nilai.

            Jadi gerakan sekulerisasi adalah gerakan yang terjadi di Barat yang ingin maju, untuk masalah-masalah yang ada di Barat. Sementara itu dalam kurun yang sama Muslim dengan Pemerintahan Kekhalifahan Islam baik di Baghdad maupun di Spanyol Islam (Al-Andalus) telah maju. Ajaran Islam tidak mengajarkan keterpisahan antara agama (religious) dan dunia (seculer) sebagaimana yang telah pula dipelajari sejarahnya dan dituliskan oleh Michael H. Hart dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Person in History,  mengatakan: “Pilihan saya Muhammad (saw) memimpin daftar orang-orang paling berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan pembaca dan dapat dipertanyakan oleh orang lain, tapi dialah satu-satunya manusia dalam sejarah yang sangat berhasil baik dalam tingkat religious (agama) maupun seculer (dunia).

            Oleh karena itulah dunia Barat kini (post Modern) selalu menawarkan kepada dunia lainnya konsep Demokrasi; HAM; Humanisme; Kebebasan; Trias Politika; bahkan Sekularisme, dst-nya, karena sepanjang sejarah gelapnya tidak mendapatkan hal-hal tersebut diatas. □ AFM







Catatan Kaki:


[1] Charles Peter Hill, Ahli sejarah ekonomi dan sosial bangsa Inggris.

[2] Nugroho Notosusanto (Prof. Dr.), Rektor Universitas Indonesia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Ahli sejarah Militer dan Profesor Sejarah di Universitas Indonesia. Ia berkarir juga di Militer dengan pangkat Brig. Jendral TNI (Purn.). Selain itu ia juga terkenal sebagai sastrawan, yang oleh H.B. Yassin digolongkan pada Sastrawan Angkatan 66.

[3] Alwi Alatas, Penulis, adalah mahasiswa S3 (PHD) pada bidang sejarah di Universiti Islam Antarbangsa, Malaysia.



Sumber:

http://siti-alvi-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-91431-Umum-Latar%20Belakang%20lahirnya%20Zaman%20Kegelapan.html

https://ibnumariam.wordpress.com/2010/10/16/gereja-dan-inkuisisi-spanyol/

https://ibnumariam.wordpress.com/2011/05/13/mengungkap-sejarah-gelap-para-paus/

Dan sumber-sumber lainnya. □□□

Latar Belakang Lahirnya Zaman Kegelapan 1





Disebutkan pula dalam Al-Quran bahwa orang yang berakal bisa mengambil pelajaran dari sejarah umat manusia: “Sungguh pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi mereka yang berakal (ūlil albāb).” [QS Yūsuf 12:111)

Dipelajarinya sejarah berbagai bangsa, kemudian disimpulkannya satu pelajaran yang bermanfaat, yang dapat dijadikan petunjuk dalam mengambil keputusan di dalam kehidupan ini. “Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal (ūlul albāb).” [QS Āli ‘Imrān 3:7]


KATA PENGANTAR

   Banyak tokoh ahli sejarah seperti Charles Peter Hill [1] mengatakan mempelajari sejarah banyak kegunaannya seperti memuaskan rasa ingin tahu; dapat membandingkan kehidupan zaman sekarang dengan masa lampau.

  Demikian pula Nugroho Notosusanto [2] mengungkapkan bahwa dengan mempelajari sejarah akan memiliki wawasan sejarah. Dengan wawasan sejarah dapat mengkonsepkan proses sejarah yang berguna untuk mengantisipasi masa depan.

   Notosusanto melanjutkan, dengan demikian mempelajari sejarah banyak kegunaannya dan manfaatnya, antara lain sebagai berikut:

1) Memberikan Kesadaran Waktu: Kesadaran waktu yang dimaksud ialah kehidupan dengan segala perubahan, pertumbuhan, dan perkembangannya terus berjalan melewati waktu. Kesadaran itu dikenal juga sebagai kesadaran akan adanya gerak sejarah. Kesadaran tersebut memandang peristiwa-peristiwa sejarah sebagai sesuatu yang terus bergerak dari masa silam bermuara ke masa kini dan berlanjut ke masa depan.

2) Memberi Pelajaran: Sejarah memberikan pelajaran, sering kita mendengar ucapan: “belajarlah dari sejarah”. Dengan mempelajari sejarah seseorang atau suatu bangsa, kita akan bercermin dan menilai peristiwa-peristiwa masa lampau yang merupakan keberhasilan (prestasi) dan peristiwa-peristiwa masa lampau yang merupakan kegagalan. Peristiwa-peristiwa sejarah pada masa lampau, baik yang positif maupun negatif dijadikan hikmah. Untuk nilai-nilai positif yakni keberhasilan-keberhasilan kita pertahankan dan kita tingkatkan, sebaliknya untuk nilai-nilai negatif, kesalahan-kesalahan masa silam tidak terulang lagi. Dengan ini jelas bahwa sejarah memberikan pelajaran yang dapat memberikan kearifan dan kebijaksanaan bagi yang mempelajarinya.

3) Sumber Inspirasi (Ilham): Inspirasi berarti memberikan ilham atau semangat yang berkaitan dengan pelajaran sejarah yang dapat diambil (diteladani) kelebihannya dan mengelakkan  (memperbaiki) segala kekurangannya.

   Jadi kalau penulis mengekpos sejarah suatu bangsa atau golongan kebetulan dalam artian "negatif" bukanlah berarti “memburukkan”, akan tetapi maksudnya adalah mengambil hikmahnya. Dengan itu agar generasi mendatang dapat mengambil “pelajarannya” seperti apa yang dikatakan dua ahli sejarah diatas. □ AFM




S
eperti tajuk diatas, sejarah Eropa memiliki bentangan waktu yang panjang dimulai dari zaman paleolithikum ribuan tahun yang lalu. Secara garis besar, sejarah Eropa dibagi menjadi 3 periode, yaitu: Eropa klasik, Eropa pertengahan, dan Eropa modern. Di sini kita akan membahas tentang Eropa abad pertengahan pada masa abad kegelapan.

Abad pertengahan adalah periode sejarah yang terjadi di daratan Eropa yang ditandai sejak bersatunya kembali daerah bekas kekuasaan Kekaisaran Romawi Barat pada abad ke-5 hingga munculnya monarkhi-monakhi nasional. Dimulainya penjelajahan samudera, kebangkitan humanisme, serta reformasi Protestan dengan dimulainya renaissance pada tahun 1517.

Abad pertengahan sering diwarnai dengan kesan-kesan yang tidak baik. Hal ini mungkin disebabkan oleh banyaknya kalangan yang memberikan stereotipe kepada abad pertengahan sebagai periode buram sejarah Eropa mengingat dominasi kekuatan agama Kristiani yang begitu besar sehingga menghambat perkembangan ilmu pengetahuan, prinsip-prinsip moralitas yang agung membuat kekuasaan agama Kristiani menjadi begitu luas dan besar di segala bidang.


ZAMAN KEGELAPAN (The Dark Ages)

Abad  kegelapan merupakan sebuah zaman antara runtuhnya Kekaisaran Romawi dan Renaisannce atau munculnya kembali peradaban lama. Dari masa sebelum masehi yang kental dengan Filsafat Relativisme (Kebenaran) Sofisme Yunani Kuno, berlanjut ke apa yang kemudian dinamakan Jaman Abad Pertengahan yang berlangsung lama, kurang lebih selama lima belas Abad, dari sekitar Abad ke-1 sampai Abad ke-15.

Masa ini disebut juga sebagai Era atau masa Medieval (Medieval ages) atau juga Abad Kegelapan (The Dark Ages) dan dimulai setelah masa Nabi Isa bin Maryam as menapakkan kaki di muka Bumi dan berdakwah. Beliau dikenal juga sebagai Isa bin (anak) Maryam, yang dengan sejumlah perkecualian dan catatan perbedaan mendasar adalah hampir dapat dikenal sama juga sebagai Yesus Kristus atau Yesus dari Nazareth dalam khazanah Kristen. Dari nama daerah dimana Isa as dibesarkan di Nazareth inilah nama lain dari Kristen ini disebut sebagai kaum Nasrani.

Kegemparan akan datangnya ’Yesus dari Nazareth’ yang tak memiliki ayah dan nasabnya ditahbiskan kepada Maryam (Maria), ibunya, dan dalam hidup singkatnya (umur 30 tahun diangkat menjadi Nabi dan menjalankan tugasnya selama 3 tahun)  menampilkan berbagai mukjizat luar-biasa itu, mengguncang peradaban manusia di sekitarnya saat itu, dan banyak orang yang kemudian berspekulasi akan kenyataan ini.

Di masa ini, lahir pula agama Kristen, dan ide-idenya mendominasi relung kehidupan masyarakat Eropa dan pengikutnya, termasuk para Pemikirnya. Dan wajah peradaban Barat pada Abad Pertengahan ini, karenanya, didominasi oleh Filsafat Kristen.

Filsafat Kristen atau Abad Pertengahan ini, antara lain bertokohkan Filsuf Plotinus, (Santo atau Saint) Augustinus atau Augustine, (Saint) Anselmus, Robert Grosseteste, Roger Bacon, Albert Agung, Thomas Aquinas, dsb. Yang kesemuanya sepakat mengedepankan iman dogmatis - tak boleh dibantahi. Kristiani, dan telaahnya pun bersifat religius-dogmatis. Akibat pengaruh hebat dan dominan Agama Kristen yang didominasi oknum kaum Gerejawan dan Monarki Baratnya dengan segala ragam tafsir dogmatisnya.

Dan tak pelak pemanfaatan Platonisme ala Yunani Kuno (dicetuskan Plato) yang mengajarkan bahwa kebenaran itu sudah ada dengan sendirinya dan berpusat kepada Tuhan namun berjenis dan berbungkus baru, yang disebut sebagai Neo-Platonisme, menjadi gencar dan ditahbiskan sepenuhnya tanpa telaah kristis kepada iman Kristiani. Ini, mau tak mau mendukung pula klaim dogmatis akan kebenaran Kristen.

Para ahli Filsuf dan Agamawan mereka di saat itu karenanya teguh bermottokan ”Credo et intelligam” atau ”Keyakinan (keimanan agama) berkedudukan di atas pemikiran (logika), keyakinan mengungguli pemikiran” atau lebih mudahnya, ”Yakini dulu sesuatu, baru carikan alasan untuk menjelaskannya”.

Maka, dengan sendirinya, Akal (di Barat) benar-benar kalah pada masa ini (terutama terlihat pada isi Filsafat dari Plotinus, Augustinus, Anselmus). Bahkan potensi pemanfaatan akal diganti mutlak oleh Augustinus dengan Iman dogmatis, sebelum penghargaan terhadap potensi Akal sempat muncul kembali kemudian pada masa Thomas Aquinas di akhir masa Abad Pertengahan itu.

Dan karenanya pula, Aquinas kemudian ditentangi hebat dan dibenci sebagian besar masyarakat Gereja yang terlanjur menjadi pendukung jalur hati iman Kristiani yang dalam hal ini sebagaimana telah disebutkan di atas adalah iman mutlak dogmatis Kristiani yang tidak mengindahkan telaah kritis akal.

Ini juga tak pelak menyebabkan masyarakat Barat di masa itu secara luas menjadi percaya dan beriman dogmatis akan ‘rasa hati’ (atau yang adalah agama, Kristen, lebih tepatnya Kristen Katolik, bagi mereka), karena menurut mereka agama adalah rasa hati dan Filsafat adalah pemikiran. Filsafat dan Agama itu sendiri, satu hal yang di masa sesudahnya terutama masa Thomas Aquinas, dicoba untuk disatu-padukan namun menemui sejumlah kendala sampai masa Modern merebak.

Keyakinan Kristiani yang mendominasi di masa Abad Pertengahan ini, menjadikannya tidak boleh atau tidak mudah untuk dapat dikritiki, sekaligus membuat kedudukan mereka yang berada dalam struktur otoritas agamanya menjadi tinggi dan tak dapat disalahkan. Dan karenanya ini juga membuat mereka makmur secara ekonomi juga sebagai pemegang mandat negara dengan mandat Otokrasi dan Teokrasi Kristiani.

Dan kenyataan ini bagi sebagian orang lain, misalnya rakyatnya yang mereka pimpin, artinya juga adalah kesemena-menaan yang diorganisasikan. Kekuasaan absolut negara dan pusat-pusat kesejahteraan masyarakat saat itu dipegang mutlak oleh Gereja dan Kerajaan, dengan pajak sistem Feodalisme berdasarkan tafsir mereka terhadap iman Kristiani dan bahwa Gereja adalah wakil Tuhan di Bumi dan bahwa sistem pemerintahan yang terbenar adalah Kerajaan Kristiani penyokongnya. Golongan Ksatria, dan Raja adalah pelindung rakyat dan rakyat harus membayar pajak kepada mereka yang penafsirannya seringkali dianggap semena-mena oleh rakyat.

Tak pelak juga, maka, perkembangan ilmu-pengetahuan yang biasanya berdasarkan kepada gelitikan pemikiran, rasa penasaran, kebertanya-tanyaan  pemikiran pun menjadi lambat pula. Pendeknya, potensi telaah akal pada masa ini dihambati.

Di saat Zaman Kegelapan, segala keputusan pemerintah dan hukum negara tidak diambil berdasarkan demokrasi di parlemen seperti ketika zaman Kekaisaran Romawi. Keputusan tersebut diambil oleh Majelis Dewan Gereja. Tidak setiap individu berhak berpendapat, karena pada zaman itu yang berhak mengeluarkan pendapat keputusan adalah para ahli agama. Gagasan tentang dark age (abad gelap) berasal dari Petrarch (seorang humanis, cendekiawan dan penyair Italia) pada tahun 1330-an. Dia menulis tentang orang-orang yang hidup sebelum dia, ia berkata: "Di tengah kesalahan bersinar seorang genius, mata mereka melihat dengan tajam meskipun mereka dikelilingi oleh kegelapan yang sangat pekat".  Para penulis yang beragama Kristen, termasuk Petrarch sendiri telah lama menggunakan kiasan "terang melawan gelap" untuk menggambarkan "kebaikan melawan kejahatan". Petrarch adalah orang pertama yang menggunakan kiasan dan memberikan makna sekuler dengan membalikkan penerapannya. Zaman klasik telah lama dianggap sebagai zaman "gelap" karena kurangnya kekristenan yang dilihat oleh Petrarch sebagai zaman "cahaya" karena prestasi dan pencapaian kultural, sedangkan pada zaman Petrarch, diduga kurang prestasi budaya sehingga Petrarch memandangnya sebagai zaman kegelapan.

Abad pertengahan merupakan zaman dimana Eropa sedang mengalami masa suram. Berbagai kreativitas sangat diatur oleh gereja. Dominasi gereja sangat kuat dalam berbagai aspek kehidupan. Agama Kristen sangat mempengaruhi berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Seolah Raja tidak mempunyai kekuasaan, justru malah Gereja-lah yang mengatur pemerintahan. Berbagai hal diberlakukan demi kepentingan gereja, tetapi hal-hal yang merugikan Gereka akan mendapat balasan yang sangat kejam. Contohnya, pembunuhan Copernicus mengenai teori tatasurya yang menyebutkan bahwa matahari pusat dari tata surya, tetapi hal ini bertolak belakang dari gereja sehingga Copernicus dibunuhnya.

Pemikiran manusia pada Abad Pertengahan ini mendapat doktrinasi dari Gereja. Hidup seseorang selalu dikaitkan dengan tujuan akhir (ekstologi). Kehidupan manusia pada hakekatnya sudah ditentukan oleh Tuhan. Maka tujuan hidup manusia adalah mencari keselamatan. Pemikiran tentang ilmu pengetahuan banyak diarahkan kepada teologi (theology). Pemikiran filsafat berkembang sehingga lahir “filsafat scholastic” yaitu suatu pemikiran filsafat yang dilandasi pada agama dan untuk alat pembenaran agama. Oleh karena itu disebut dark ages atau zaman kegelapan.

Abad pertengahan merupakan abad kebangkitan religi di Eropa. Pada masa ini agama berkembang dan mempengaruhi hampir seluruh kegiatan manusia, termasuk pemerintahan. Sebagai konsekuensinya, sains yang telah berkembang di zaman klasik dipinggirkan dan dianggap sebagai ilmu sihir yang mengalihkan perhatian manusia dari pemikiran ketuhanan.

Eropa dilanda Zaman Kegelapan sebelum tiba Zaman Pembaharuan. Yang dimaksud Zaman Kelam atau Zaman Kegelapan ialah zaman masyarakat Eropa menghadapi kemunduran intelektual dan kemunduran ilmu pengetahuan. Menurut Ensikopedia Amerikana, zaman ini berlangsung selama 600 tahun, dan bermula antara zaman kejatuhan Kerajaan Romawi dan berakhir dengan kebangkitan intelektual pada abad ke-15 Masehi.

Gelap juga dianggap sebagai tidak adanya prospek yang jelas bagi masyarakat Eropa. Keadaan ini merupakan wujud kekuasaan agama, yaitu gereja Kristiani yang sangat berpengaruh. Gereja serta para pendeta mengawasi pemikiran masyarakat serta juga politik. Mereka berpendapat hanya gereja saja yang pantas untuk menentukan kehidupan, pemikiran, politik dan ilmu pengetahuan. Akibatnya kaum cendekiawan yang terdiri daripada ahli-ahli sains merasa mereka ditekan dan dikawal ketat. Pemikiran mereka pun ditolak dan timbul ancaman dari gereja, yaitu siapa yang mengeluarkan teori yang bertentangan dengan pandangan gereja akan ditangkap dan didera, malah ada yang dibunuh. segala keputusan pemerintah dan  hukum negara tidak diambil berdasarkan demokrasi di parlemen seperti ketika zaman kekasiaran Roma. Keputusan tersebut diambil oleh majelis dewan Gereja. Tidak setiap individu berhak berpendapat, karena pada zaman itu yang berhak mengeluarkan pendapat-keputusan adalah para ahli agama. Bahkan segala sesuatu yang bertentangan dengan penafsiran dewan gereja merupakan pelanggaran hukum berat.

Akibatnya setiap inovasi yang berasal dari kaum ilmuan selalu digagalkan oleh dewan gereja. Yaitu tadi pokoknya bila dewan gereja tidak paham dan tidak memiliki dasar argumen yang kuat di dalam Injil maka inovasi tersebut merupakan perkara pelanggaran agama berat. Salah satu yang menjadi korbannya adalah Nicholas Coppernicus yang berakhir tragis akibat teorinya yang mengatakan Mataharilah sebagai pusat tata surya bukan bumi – Heliosentris (sedangkan kitab suci Kristen menyebutkan bumilah sebagai pusat tata surya). Akibat terlalu banyak intervensi dewan Gereja pada sendi-sendi kehidupan, termasuk juga pelarangan terhadap temuan maupun inovasi baru yang tidak ada pada Injil maka akhirnya terjadi stagnasi secara multi dimensi yang lambat laun berimbas pada timbulnya krisis multi dimensi. □□□