Sunday, February 3, 2019

Ideologisasi Sejarah Islam

Oleh: Mi’raj Dodi Kurniawan [1]



“Terlepas apa motivasi sejarawan Barat atau non-Muslim dalam mempelajari sejarah Islam, ada satu hal penting yang dapat diteladani, yaitu mereka mengaktualisasikan kebutuhan untuk mengetahui (need to know) dan mengusahakan kepentingannya atas sejarah Islam.”



Pendahuluan

S
ejarah Islam – tepatnya sejarah kaum Muslim – adalah salah satu khazanah sejarah peradaban dunia yang menarik untuk diteliti, dipelajari, dielaborasi, dan dipublikasikan, bukan hanya oleh dan bagi sejarawan muslim, tetapi juga oleh dan bagi sejarawan Barat atau non-Muslim. Oleh karena itu, tidak aneh jika sampai sekarang bertebaran historiografi (karya tulis sejarah) peradaban Islam, baik di Timur maupun Barat.

Dari kalangan sejarawan muslim muncul Tarikh al-Islam Wa Thabaqat Masyahir al-A’lam karya Al-Dzahabi, Tarikh Baghdad karya Khatib al-Baghdadi, An-Nawadir al-Sulthaniyah Wa al-Mahasin al-Yusufiyah karya Bahauddin Abu-l-Mahasin Yusuf bin Rafi’, Nasb Quraisy karya Al-Zubair ibn Bakkar ibn ‘Abdullah, dan Akhbar al-‘Arab karya Abu al-Mundzir Hisyam ibn Muhammad Ibnu Al-Saib ibn Basyar al-Kalbi.

Selain itu, ada pula Muqaddimah karya Ibn Khaldun, Fakhri karya Ibn Al-Tiqtaqa’, Tarikh Thabaristan karya Ibn Isfandiar, Aja’ib al-Athar karya Abdul Rahman al-Jabarti, Tarikh al-Tamaddun al-Islami karya Jurji Zaidan, trilogi Fajr al-Islam, Duha al-Islam, dan Zuhr al-Islam karya Ahmad Amin, Al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn Asir, Mu’jam al-Buldan karya Yaqut al-Hamawi, dan al-Bidayahwa al-Nihayah karya Ibn Khathir.

Selanjutnya, Tarikh al-Umam Wa al-Mulk karya Ibn Jarier al-Tabari, Tarikh al-Islam Wa Thabaqat Masyahir al-A’lam karya Al-Dzahabi, Tarikh Baghdad karya Khatib al-Baghdadi, Irshad al-Arib Ila Ma’rifat al-Abid karya Yaqut, Ujun al-Anba’ fi Tabagat al-Atibba karya Abu Usayibah, Wafayat al-A’yun karya Ibn Khallikan, Ar-Rakhiqul Makhtum karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, dan Sirah Nabawiyah karya Ibn Hisyam.

Kemudian, Al-Ishaabah Fi Tamyiizi Shahaabah karya Ibn al-Hajar Al-Asqalani, Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haikal, Islam dan Keturunan Arab dalam Pemberontakan Melawan Belanda karya Hamid Al-Gadri, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaharuan Islam Indonesia karya Azyumardi Azra, dan masih banyak lagi.

Dari kalangan sejarawan Barat atau non-muslim muncul Preaching of Islam karya T.W. Arnold, Saladin dan Moors In Spain karya Stanley Lane, History of the Arabs dan Islam and the West karya Philip K. Hitti, Islam in Modern History karya Wilfred Cantwell Smith, dan Ibn Batuta (1304-1377) dan Mohammedanism: An Historical Survey serta Shorter Encyclopedia of Islam juga Studies on the Civilization of Islam karya Hamilton Alexander Rosskeen Gibb.

Kemudian, Muhammad at Mecca dan Muhammad at Medina serta Muhammad: Prophet and Statesman karya W. Montgomery Watt, Het Mecca anche Feest dan De Atjehers karya C. Snouck Hurgronje, La Passion de’ al-Hallaj dan Martyr Mystique de l’Islam karya Louis Massignon, Histoire de la Litterature Arabe dan Dans les pas de Mahomet karya Blachere, Turkey: A Past and a Future karya Arnold Joseph Toynbee, dan masih banyak lagi.

Oleh karena itu, karya-karya tersebut terkesan mengulangi dan mengumpulkan belaka jika hanya mengurai fokus, lokus, dan perspektif sejarah yang serupa. Kecuali, selain menyaring dan menyampaikan berbagai informasi relevan yang tersebar dari berbagai karya itu, ditawarkan pula perspektif baru, atau setidaknya informasi yang masih jarang diungkap sekaligus diberi tekanan pesan pengambilan inspirasi atau pelajaran tertentu.

Dengan kata lain, tidak melulu dan sekadar memposisikan sejarah Islam dengan pandangan retrospektif yaitu mengenang kembali, memandang balik, atau melihat ke masa silam, tetapi juga menjadikannya inspirasi. Artinya, melihat sejarah menurut sudut pandang prospektif yang bertitik tekan kepada prospeknya atau kemungkinan mewujudkan torehan masa lampau yang gemilang itu di masa kini dan masa mendatang.

Selain itu, sebenarnya para sejarawan masih dapat mengungkap fokus, lokus, dan perspektif sejarah Islam yang berbeda dengan karya-karya historiografi sebelumnya. Sebab, sulit dipungkiri, alih-alih yang sudah terungkap, bagian-bagian dan rincian sejarah Islam justru masih lebih banyak yang belum dikuak. Bagaimanapun, sejarah Islam merupakan salah satu khazanah kesejarahan yang kaya yang dimiliki dunia.


Al-Qur’an dan Sejarah

S
atu hal yang menarik dari sejumlah karya historiografi sejarah Islam itu adalah fakta bahwa para sejarawan Barat atau non-Muslim turut meneliti, mempelajari, mengelaborasi, dan mempublikasikan sejarah Islam. Artinya, bukan hanya sejarah Islam dianggap menarik, tetapi terutama mereka berkepentingan atas sejarah Islam. Menurut As-Siba’ie, terdapat beberapa hal yang mendorong mereka untuk menuliskannya, yaitu karena: keagamaan, penjajahan, perniagaan dan ekonomi, politik, dan ilmiah. [2]

Philip K. Hitti, misalnya, dalam bukunya yang berjudul Islam and the West menyatakan bahwa Nabi Muhammad merupakan seorang penipu yang lihai. Menurutnya, Islam tidak lebih daripada warisan orang Yahudi dan Kristen yang diarabisasikan dan dinasionalisasikan. Jadi, selain menuturkan sejarah Islam secara deskriptif, dalam karya historiografinya itu pun Hitti menyodorkan penafsiran bahkan penilaian yang bersifat ideologis yang sangat subjektif. [3]

Namun, terlepas pro-kontra atas motivasi sejarawan Barat atau non-Muslim dalam mempelajari sejarah Islam, ada satu hal penting yang dapat diteladani, yaitu mereka mengaktualisasikan kebutuhan untuk mengetahui (need to know) dan mengusahakan kepentingannya atas sejarah Islam. Dalam dunia ilmu pengetahuan, rasa ingin tahu adalah modal untuk berpengetahuan, sedangkan dalam dunia politik, mengusahakan kepentingan adalah modal tercapainya tujuan.

Oleh sebab itu, mudah dimengerti jika Barat digdaya di Abad Modern. Sebab, mereka bukan hanya berusaha menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga berusaha untuk mengetahui pihak lain (the other) dan mengetahui kepentingannya atas pihak lain – dalam konteks ini atas umat Islam. Dengan pengetahuan dan kepentingan ini, mereka berlaku sebagai subyek dan memperlakukan umat Islam sebagai obyek.

Dengan demikian, umat Islam maka bukan hanya harus mengetahui pihak lain dan sejarahnya, tetapi juga – terutama – harus mengetahui dirinya terlebih dahulu, termasuk sejarah dirinya sendiri. Jangan sampai alih-alih kaum Muslim, justru yang lebih mengetahui sejarah Islam adalah para sejarawan Barat atau non-Muslim.

Kalau saja kaum muslim membaca dan memahami al-Qur’an, tentu akan paham bahwa dua pertiga Kitab Suci disajikan dalam bentuk kisah (sejarah). Dengan kata lain, kisah sejarah digunakan oleh Allah SWT untuk menerangkan dan menyampaikan banyak hal. Selain itu – baik tersurat maupun tersirat, al-Qur’an menyerukan keharusan untuk mempelajari sejarah.

Berikut ini adalah beberapa ayat Al-Qur’an yang menyatakan hal itu: Kesatu, “Maka kisahkanlah kisah-kisah agar mereka berpikir” (Q.S. Al-A’raf: 176). Kedua, “Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah (umat) yang telah lalu, dan sungguh, telah Kami berikan kepadamu suatu peringatan (Al-Qur’an) dari sisi Kami” (Q.S. At-Thaaha: 99). Ketiga, “Sesungguhnya dalam sejarah itu terdapat pesan-pesan sejarah yang penuh perlambang bagi orang-orang yang memahaminya” (Q.S. Yusuf: 111).

Keempat, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Q.S. Ar-Rum: 41). Kelima, “Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi kemudian lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka ialah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)”” (Q.S. Ar-Rum: 42).

Keenam, “Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat (pelajaran) dan peringatan bagi orang yang beriman” (Q.S. Hud: 120). Ketujuh, “Perhatikanlah sejarahmu, untuk masa depanmu” (Q.S. Al-Hasyr: 18).


Manfaat Sejarah

S
ecara umum, terdapat empat manfaat mengadakan studi sejarah. Kesatu, rekreatif, yaitu studi sejarah sebagai hiburan atau mengajak para pembelajarnya untuk rekreasi, karena – dengan demikian – ia akan bertamasya ke dalam berbagai ruang, waktu, dan kisah di masa silam. Kedua, inspiratif, yaitu studi sejarah sebagai inspirasi (ilham atau ide) bagi kehidupan, karena banyak hal dapat diambil hikmahnya dari kehidupan orang-orang di masa lampau.

Ketiga, instruktif, yaitu studi sejarah sebagai pelajaran keterampilan atau pengetahuan generasi terdahulu, karena dengan menelusuri sejarah dapat menyingkap keterampilan atau pengetahuan yang dimiliki generasi terdahulu. Keempat, edukatif, yaitu studi sejarah mendidik pengkajinya, sehingga beroleh kearifan dalam melangkah di masa kini menuju masa depan, sebab – dengan demikian – dapat belajar dari pengalaman orang lain. [4]

Dengan demikian, andai mempelajari sejarah, maka kaum Muslim bukan hanya dapat menarik manfaat inspiratif dan edukatif – sebagaimana diterangkan Al-Qur’an, tetapi juga dapat memetik manfaat rekreatif dan instruktif – sebagaimana dijelaskan oleh Louis Gottschalk tadi.


Respon Sejarawan Muslim


“Mempelajari sejarah bukan hanya karena diperintahkan di dalam al-Qur’an dan bermanfaat, melainkan juga resisten karena bernuansa ideologis. Narasi yang dibangun sejarawan bukan hanya berisi fakta, melainkan juga penafsiran yang tidak netral dari kepentingan.”


A
khirnya, menarik untuk dicermati sikap para sejarawan Muslim atas sejarah Islam itu sendiri. Menarik, karena dihadapkan pada kedigdayaan Barat melalui modernisme atas dunia Islam dan munculnya karya-karya historiografi para sejarawan sekaligus orientalis Barat atau non-muslim yang tendensius, tampak bahwa respon sejarawan muslim terbagi menjadi tiga.

Kesatu, sikap apologetik. Para sejarawan muslim yang bersikap seperti ini membela kelebihan peradaban muslim klasik sebagai capaian sempurna. Namun, dengan rasa kememadaian diri (self sufficiency) di dalamnya, sikap ini terkesan retrospektif, reaksioner, idealistik, dan normatif, sehingga secara intelektual mendorong pemecahan soal Muslim kekinian ke arah retrospektif (ke masa lalu) dan menimbulkan problem abstrak, karena acap kurang relevan dengan realitas sekarang. [5]

Kedua, sikap identifikatif. Para sejarawan Muslim yang bersikap seperti ini menelusuri sejarah Muslim dengan mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi guna merumuskan respon dan identitas Islam di masa modern. Respon ini menjadikan sejarah kaum muslim – terutama klasik – sebagai bahan inspirasi untuk merumuskan respon dan identitas muslim di zaman kontemporer. [6]

Ketiga, sikap afirmatif. Para sejarawan muslim yang bersikap seperti ini melihat sejarah kaum Muslim – terutama klasik – dengan perspektif yang menegaskan kembali kepercayaan kepada Islam sekaligus menguatkan kembali eksistensi masyarakat muslim. [7] Dengan kata lain, jika memandang sejarah Islam klasik, kalangan ini berusaha menegaskan lagi kepercayaannya kepada Islam sekaligus menguatkan lagi eksistensi masyarakat muslim di masa kini.

Dalam takarannya yang ekstrem, sulit dipungkiri bahwa sikap apologetik dan sikap identifikatif dengan sikap afirmatif bukan hanya berbeda, tetapi juga saling menegasikan dan sebagian diantaranya dianggap kurang berdaya guna bagi perbaikan nasib Muslim masa kini dan masa depan. Namun, dalam takarannya yang pas, tiga respons atau sikap tersebut bukan hanya saling melengkapi, namun juga berguna.

Sikap apologetik yang pas bukan hanya pembelaan diri atas berbagai serangan yang tak jarang kurang adil, tetapi juga melahirkan rasa percaya diri. Sikap identifikatif menimbulkan kesadaran historis dan kesadaran merumuskan respon dan identitas muslim kontemporer. Dan sikap afirmatif menegaskan lagi kepercayaan diri muslim kepada Islam dan menguatkan eksistensi masyarakat muslim kontemporer.


Ideologisasi

D
engan demikian, menjadi jelaslah bahwa mempelajari sejarah bukan hanya karena diserukan al-Qur’an dan bermanfaat, melainkan juga resisten karena bernuansa ideologis. Sebab, sejarah bukan hanya menelusuri dan menyuguhkan deskripsi peristiwa, tetapi juga di dalamnya terbuka kesempatan bagi para pengkaji dan pemaparnya untuk menyodorkan interpretasi berdasarkan pengetahuan dan kepentingannya.

Lantaran sejarah adalah ilmu mengenai kenyataan di masa lampau, maka tentu saja bukan hanya fakta atau deskripsi, tetapi juga penafsirannya itu sendiri harus dapat dibenarkan menurut teori kebenaran korespondensi. Namun, karena obyeknya sudah lewat dan penafsirannya acap bias keyakinan dan kepentingan, maka alih-alih menguji penafsiran sejarawan, yang lebih mudah dilakukan justru menguji kebenaran fakta-fakta yang disuguhkan sejarawan.

Betapa pun demikian, menguji kebenaran suatu penafsiran bukanlah kemustahilan. Kendati rentan bias keyakinan dan kepentingan sejarawan, tetapi dengan menggunakan teori kebenaran koherensi (paparannya saling menguatkan) dan teori kebenaran korespondensi (sesuai dengan obyek atau fakta), maka keyakinan dan kepentingan sejarawan yang tergambar dalam bentuk penafsiran sejarahnya akan terlihat dan dapat diterima atau ditolak.

Jadi, permasalahan resistensi dan ideologis dalam blantika historiografi sejarah Islam bukan sesuatu yang luar biasa. Sebab, dengan memberikan kesempatan bagi sejarawan untuk menawarkan penafsirannya, maka dengan sendirinya, setiap karya historiografi sejarah Islam memberikan ruang bagi sejarawan itu untuk mengelaborasi pengetahuan dan kepentingannya dalam karya historiografinya tersebut.

Kalau sudah begitu, biarkan saja khalayak membaca, menilai, dan menyaring sendiri setiap karya historiografi sejarah Islam. Terpenting bagi khalayak adalah mampu membedakan dan menilai fakta yang benar dan penafsiran yang mendekati kebenaran. Selain itu, khalayak juga penting menyadari bahwa narasi sejarah – dalam historiografi – yang dibangun sejarawan bukan hanya berisi fakta, melainkan juga penafsiran yang tidak netral dari kepentingan.

Dengan kata lain, manakala penafsiran sejarah Islam dipublikasikan, maka hal itu sama dengan sejarawan mengadakan ideologisasi (penyebarluasan pandangan). Maka menjadi kian jelas pula bahwa historiografi tidak hanya berguna atau digunakan untuk menyiarkan informasi deskriptif kesejarahan, melainkan juga untuk membangun persepsi atau narasi besar (grand naration) dan karakter (character building) khalayak.

Persoalannya, apakah pandangan tersebut benar, baik, dan indah serta didukung fakta-fakta sejarah? Untuk menjawab pertanyaan ini bukan hanya membutuhkan penguasaan atas pandangan dunia yang teruji kekokohannya, melainkan juga membutuhkan penguasaan atas metode penelitian sejarah, setidak-setidaknya sejak tahap heuristik (pencarian sumber) hingga kritik internal dan eksternal.

Dengan demikian, sebagai wujud syi’ar Islam, maka kaum Muslim terutama sejarawan Muslim harus mengadakan ideologisasi sejarah Islam. Bukan pembelaan membabi buta apalagi menyebarluaskan kekeliruan, melainkan ideologisasi tersebut berlandaskan pada kebenaran sejarah di atas kepentingan sejarawan. Ideologisasi sejarah Islam mestilah diperkuat dengan fakta dan metodologi sejarah serta pemikiran yang jernih.

Dan di antara banyak topik yang penting untuk dijadikan ideologisasi, sejarah Islam klasik terutama sejarah Nabi dan para sahabatnya adalah yang terpenting. Sebab, Nabi bukan saja pembawa Risalah Islam, tetapi juga dalam dunia Islam, sejarah Nabi dan para sahabatnya, merupakan yang paling ideal. Jadi, sejarah Nabi dan para sahabatnya bukan hanya harus diselamatkan dari kekeliruan dan fitnah, tetapi juga harus diutamakan untuk diideologisasikan. □



Catatan Kaki:
[1] Ketua Bidang Litbang KAHMI Cianjur, Sejarawan UPI Bandung, dan Penulis essay-essay tentang Keislaman di berbagai media Nasional.
[2] Lihat Musthafa as-Siba’ie. 1983. Akar-akar Orientalisme. Surabaya: Bina Ilmu.
[3] Silakan periksa Philip K. Hitti. 1963. Islam and the West. Van Nostrand Reinhold Inc., U.S.
[4] Louis Gottschalk. 1986. Mengerti Sejarah. Jakarta: UI-Press.
[5] Azyumardi Azra. 1996. Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modernisme, Hingga Pos-modernisme. Jakarta: Paramadina. Hlm iv-vi.
[6] Ibid.
[7] Ibid. □□

Sumber:
Copyright © 2017 — Gana Islamika.
https://ganaislamika.com/ideologisasi-sejarah-islam-1/
https://ganaislamika.com/ideologisasi-sejarah-islam-2/□□□

Puasa Ramadhan 1440H




Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa (di bulan Ramadhan) sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. [QS Al-Baqarah 2:183]


 Kata Pengantar

H
ari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tidak terasa tiga bulan lagi Ramadhan tiba. Kini bulan Jumadil Awal, selanjutnya, Jumadil akhir, Rajab, Sha’ban, dan Ramadhan 1440 AH yang bertepatan jatuh di awal pekan kedua bulan Mei 2019 CE. Berpuasa di bulan suci Ramadhan menjadi bagian dari perintah agama. Sementara itu agama dan spiritualitas merupakan bentuk perilaku manusia yang dikontrol otak.

Ketika Allah SWT meniupkan roh ke dalam jasad Adam, roh masuk kepada Adam melalui kepalanya. Di kepala inilah terletak otak manusia. Otak bukan saja berfungsi sebagai alat berfikir sebagaimana khalayak umum mengetahuinya. Melainkan juga sebagai perangkat atau alat untuk mengontrol kemauan dan perilaku manusia. Otak yang terlatih baik, akan menghasilkan karsa, kreasi dan karya yang baik pula.

   Ketua Centre for Neuroscience, Health, and Spirituality (C-NET) Doktor Taufiq Pasiak mengatakan bahwa puasa menjadi latihan mental yang berkaitan dengan sifat otak, yakni neuroplastisitas. “Sel-sel otak dapat mengalami regenerasi dan membentuk hubungan struktural yang baru, salah satunya karena latihan mental yang terus-menerus,” kata Taufik.

Bahasa awamnya, kata dia, apabila seseorang melakukan perbuatan baik secara terus-menerus, struktur otaknya akan berubah fungsinya menjadi baik pula. Waktu yang dibutuhkan untuk mengubah sel saraf itu minimal 21 hari. Menurut Taufik, puasa adalah latihan mental yang menggunakan perantara latihan menahan kebutuhan fisik seperti makan, minum, dan hubungan suami-istri.

   Selain membentuk struktur otak baru, Taufik menjelaskan bahwa puasa merelaksasi sistem saraf, terutama otak. Tetapi ada perbedaan mendasar antara relaksasi sistem pencernaan dan sistem saraf. Selama puasa, sistem pencernaan benar-benar beristirahat selama sekitar 14 jam, sementara di dalam otak orang yang berpuasa justru terjadi pengelolaan informasi yang banyak.

Di dalam Al-Qur’an, menurut Taufik, ada istilah an-nafsul-muthmainah (jiwa yang tenang) karena memang dalam suasana tenang orang dapat berpikir dengan baik dan memiliki kepekaan hati yang tajam. “Ketenangan membuat kita tidak reaktif - yang membabi buta - menghadapi permasalahan,” katanya. Inilah antara lain keajaiban puasa dan manfaatnya bagi yang berpuasa - di bulan Ramadhan ini.


PENDAHULUAN

Penciptaan Manusia Pertama

S
alman al-Farisi: “Allah SWT membuat tanah liat Adam berfermentasi [1] selama empat puluh hari dan kemudian menyatukannya dengan tangan-Nya sendiri. Bagiannya yang baik keluar dari tangan kanan Allah, dan bagiannya yang buruk dari kiri Allah. Allah SWT lalu mengusap tangan-Nya satu dengan yang lain dan mencampur keduanya (baik dan buruk). Itulah mengapa yang ‘baik’ muncul dari yang ‘buruk’, dan yang ‘buruk’ dari yang ‘baik’ (dalam susunan manusia).”

   Ibnu Ishaq: Dikatakan – Allah SWT tahu yang terbaik! – Allah SWT menciptakan Adam, lalu meletakkan dia dan memandangnya selama empat puluh hari sebelum meniupkan roh ke dalam dirinya, sampai dia menjadi salsal seperti tanah liat tembikar yang tak tersentuh api. Ketika, setelah periode itu di mana Adam adalah salsal seperti tanah liat tembikar, Allah SWT berkehendak meniupkan roh ke dalam dirinya, Dia menghampiri para malaikat dan berkata kepada mereka: ‘Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.’[2]


Roh Ditiupkan Melalui Kepala

   Ketika Allah SWT meniupkan roh ke dalam Adam, roh masuk kepada Adam melalui kepalanya, seperti yang dikatakan oleh para ulama pendahulu. Berikut ini adalah riwayatnya.

Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan beberapa sahabat Nabi: “Pada saat Allah SWT hendak meniupkan roh ke dalam Adam, Dia berkata kepada para malaikat: ‘Ketika aku meniup sebagian roh-Ku ke dalam dia, bersujudlah dirimu kepada dia!’ Sekarang, setelah Dia meniup roh ke dalam dirinya, dan roh itu memasuki kepalanya, Adam bersin. Para malaikat berkata: ‘Katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah’” [3], dan dia melakukannya (bersujud).

Lalu Allah SWT berkata kepadanya: ‘Semoga Tuhanmu menunjukkan belas kasihan kepadamu!’ Ketika roh memasuki matanya, dia melihat buah-buah Firdaus, dan ketika (roh) itu memasuki perutnya, dia menginginkan makanan. Jadi dia melompat, sebelum roh itu mencapai kakinya, dalam ketergesa-gesaannya untuk mendapatkan buah surga. Inilah (yang dimaksud) ketika Allah SWT berkata: ‘Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.’[4]

   ‘Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu.’[5] ‘ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.’[6] Lalu Allah SWT berkata kepada Iblis: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ – kepada apa yang Aku ciptakan dengan tangan-Ku sendiri – Menjawab iblis: ‘Aku lebih baik daripadanya,’[7] aku bukan yang bersujud kepada manusia yang telah Engkau ciptakan dari tanah liat. Karena itu Allah SWT berkata kepadanya: ‘Turunlah engkau dari surga itu! Karena engkau sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Maka keluarlah! Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang hina.’” [8]

   Ibnu Abbas: “Ketika Allah SWT meniupkan sebagian roh-Nya kepadanya – ke dalam Adam – itu melalui kepalanya. Ketika roh Allah mulai bergerak di dalam tubuh Adam, dia menjadi daging dan darah. Ketika roh yang ditiup mencapai pusarnya, dia melihat tubuhnya, dan senang melihat keindahannya. Dia berusaha bangkit tetapi tidak bisa. Ini (yang dimaksud dengan) firman Allah: ‘Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.’ [9]

Dia berkomentar (tentang ketergesa-gesaan Adam): ‘Menderita, dengan ketidaksabaran terhadap baik keberuntungan maupun ketidakberuntung-an.’ Ketika roh yang ditiup itu benar-benar menyelimuti tubuhnya, dia bersin dan berkata, dengan ilham Ilahi: ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam!’ [10]

   Allah SWT berkata: ‘Semoga Tuhanmu menunjukkan belas kasihan kepadamu, Adam!’ Kemudian Dia berkata kepada malaikat-malaikat tertentu yang bersama Iblis, bukan mereka yang berada di surga: ‘‘Sujudlah kalian kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur,’ [11] karena kesombongan dan merasa paling penting yang berasal dari jiwanya. Iblis berkata: ‘Aku tidak akan bersujud, karena aku lebih tua dan lebih baik daripada dia, dan juga secara fisik lebih kuat. Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah,’ [12] yang berarti bahwa api lebih kuat dari tanah.

Ketika Iblis menolak untuk bersujud, Allah SWT membuatnya susah (ablasahu), [13] yaitu, Dia melenyapkan harapan baginya untuk mencapai sesuatu yang baik dan menjadikannya sebagai setan yang dirajam sebagai hukuman atas ketidaktaatannya. [14]”


FUNGSI OTAK

A
llah SWT menciptakan Adam, lalu meletakkan dia dan memandangnya selama empat puluh hari sebelum meniupkan roh ke dalam dirinya, sampai dia menjadi salsal seperti tanah liat tembikar yang tak tersentuh api. Ketika, setelah periode itu di mana Adam adalah salsal seperti tanah liat tembikar, Allah SWT berkehendak meniupkan roh ke dalam diri Adam. Ketika Allah SWT meniupkan roh ke dalam Adam, roh masuk kepada Adam melalui kepalanya.


Bagian-Bagian Otak dan fungsinya masing-masing

   Di dalam kepala ini berisi Otak. Otak manusia memiliki berat sebesar 1,3 hingga 1,4 kilogram. Terbuat dari kumpulan jaringan pendukung yang empuk dan seperti jeli. Saraf-saraf di kepala ini terhubung pada saraf tulang belakang. Sel pembentuk otak disebut neuron. Neuron memiliki bentuk yang berbeda tergantung letak di tubuh dan peran yang mereka miliki. Setiap neuron memiliki proyeksi seperti jari yang disebut dendrit [15] dan serabut panjang yaitu akson. [16].

   Terdapat 2 jenis materi pada otak: materi abu-abu dan materi putih. Materi abu-abu menerima dan menyimpan impuls dan merupakan sel saraf utama pada otak. Materi putih pada otak membawa impuls ke dan dari materi abu-abu. Materi putih mengandung serabut saraf (akson, axon). Materi putih juga mencakup kebanyakan sistem saraf di mana mereka dapat mengantar dan mengumpulkan sinyal elektrokimia. Materi putih membuat jaringan dari jutaan serabut saraf.

   Beberapa saraf pada otak langsung menuju mata, telinga dan bagian lain pada otak. Saraf lainnya menyambung otak dengan bagian tubuh lainnya melalui saraf tulang belakang. Otak ini memiliki 3 bagian utama: cerebrum, cerebellum dan batang otak.

Cerebrum pada manusia sangat besar dan lebih utama dari bagian otak lainnya. Bagian otak luar yang besar mengatur aktivitas membaca, berpikir, belajar, bicara, emosi dan pergerakan otot yang direncanakan seperi berjalan. Cerebrum juga mengendalikan penglihatan, pendengaran dan indera lainnya. Cerebrum terbagi menjadi 2 belahan. Bagian kiri cerebrum mengendalikan bagian kanan tubuh dan bagian kiri cerebrum mengendalikan bagian kiri tubuh.

   Belahan cerebrum kemudian terbagi lagi menjadi 4 bagian yaitu, Frontal lobe, Temporal lobe, Parietal lobe, Occipital lobe dengan fungsi masing-masing sebagai beikut.

   Frontal lobe: Bertanggung jawab pada fungsi kognitif dan pengambilan keputusan; Temporal lobe: Bertanggung jawab memproses memori, menggabungkannya dengan sensasi rasa, suara, penglihatan, sentuhan dan emosional; Parietal lobe: Bertanggung jawab memproses informasi tentang suhu, rasa, sentuhan, pergerakan dan orientasi spasial; Occipital lobe: Bertanggung jawab pada penglihatan.

Cerebellum memiliki fungsi penting pada kontrol motorik dan bertanggung jawab mengkoordinasi pergerakan otot dan mengendalikan keseimbangan. Cerebellum terdiri dari matter abu-abu dan putih dan menghantar informasi pada saraf tulang belakang serta bagian lain pada otak.

Batang otak terletak pada bagian bawah otak, menghubungkan cerebrum dengan saraf tulang belakang. Tiga puluh satu pasang saraf keluar dari sumsum tulang belakang melalui bukaan di kolom vertebral. Ini adalah saraf tulang belakang. Posterior, atau punggung, akar saraf tulang belakang membawa informasi sensorik dari daerah yang mereka layani kembali ke otak. Saraf siatik adalah saraf terbesar dalam tubuh. Ini keluar dari tulang belakang melalui sebuah lubang di panggul disebut foramen siatik. Saraf toraks menyediakan fungsi motorik ke otot-otot perut dan dada, serta otot-otot tangan khusus yang memungkinkan seorang individu untuk menyebarkan jari-jarinya terpisah. Saraf serviks melayani otot-otot lengan dan tangan.



PUASA RAMADHAN

S
elama puasa di bulan Ramadhan, umat Islam jalani runititas sahur, menahan diri dari makan, minum dan hubungan suami-istri, serta melakukan amalan ibadah lainnya seperti shalat tarawih, mempelajari Al-Qur’an dan mentilawahnya, serta ibadah-ibadah lainnya.

Penelitian menunjukkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori meningkatkan kinerja otak. Subhanallah, puasa Ramadhan terbukti bermanfaat untuk membentuk struktur otak baru dan merelaksasi sistem saraf.

Ketika Allah SWT meniupkan roh ke dalam Adam, roh masuk kepada Adam melalui kepalanya. Dalam tempurung kepala ini terletaklah otak manusia. Otak manusia berfungsi bukan saja untuk berfikir sebagaimna awam mengenalnya. Namun lebih luas lagi. Seperti yang telah diuraikan dalam bab fungsi otak diatas.

   Otak merekam kegiatan yang dilakukan secara simultan. Begitu juga dengan aktivitas puasa. Selama satu bulan, tubuh diajak menjalani rutinitas sahur, menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri, kemudian berbuka di petang hari serta menjalankan ibadah Ramadhan lainnya.

Berpuasa di bulan Ramadhan menjadi bagian dari perintah agama [17]. Sementara itu agama dan spiritualitas merupakan bentuk perilaku manusia yang dikontrol otak. Ketika Allah SWT meniupkan roh ke dalam jasad Adam, roh masuk kepada Adam melalui kepalanya. Di kepala inilah terletak otak manusia. Otak bukan saja berfungsi sebagai alat berfikir sebagaimana khalayak umum telah mengetahuinya. Melainkan juga sebagai perangkat atau alat untuk mengontrol kemauan dan perilaku manusia. Otak yang terlatih baik, akan menghasilkan karsa, kreasi dan karya yang baik pula.


   Ketua Centre for Neuroscience, Health, and Spirituality (C-NET) Doktor Taufiq Pasiak mengatakan bahwa puasa menjadi latihan mental yang berkaitan dengan sifat otak, yakni neuroplastisitas. “Sel-sel otak dapat mengalami regenerasi dan membentuk hubungan struktural yang baru, salah satunya karena latihan mental yang terus-menerus,” kata Taufik.

   Bahasa awamnya, kata dia, apabila seseorang melakukan perbuatan baik secara terus-menerus, struktur otaknya akan berubah. Waktu yang dibutuhkan untuk mengubah sel saraf itu minimal 21 hari. Menurut Taufik, puasa adalah latihan mental yang menggunakan perantara latihan menahan kebutuhan fisik (makan, minum, hubungan suami-istri).


Apabila seseorang melakukan perbuatan baik secara terus menerus, struktur otaknya akan berubah

   Selain membentuk struktur otak baru, Taufik menjelaskan bahwa puasa merelaksasi sistem saraf, terutama otak. Tetapi ada perbedaan mendasar antara relaksasi sistem pencernaan dan sistem saraf. Selama puasa, sistem pencernaan benar-benar beristirahat selama sekitar 14 jam, sementara di dalam otak orang yang berpuasa justru terjadi pengelolaan informasi yang banyak.

   Contohnya, kata dia, otak dapat mengingat dengan baik di saat tenang dan rileks. Ketika tidur, biasanya orang bermimpi. Kenapa? Karena di waktu ini otak hanya menerima dan mengelola informasi yang berasal dari dalam dirinya. Di dalam Al-Qur’an, menurut Taufik, ada istilah an-nafsul-muthmainah (jiwa yang tenang) karena memang dalam suasana tenang orang dapat berpikir dengan baik dan memiliki kepekaan hati yang tajam. “Ketenangan membuat kita tidak reaktif menghadapi permasalahan,” katanya.

   Luqman Al-Hakim pernah menasihati anaknya, “Wahai anakku, apabila perut dipenuhi makanan, maka gelaplah pikiran, bisulah lidah dari menuturkan hikmah (kebijaksanaan), dan malaslah segala anggota badan untuk beribadah.”

   Otak terdiri atas triliunan sel yang terhubung satu dengan lainnya. Di dalamnya bisa disimpan 1 miliar bit memori atau ingatan. Ini sama dengan informasi dari 500 set ensiklopedia lengkap.

Penelitian lain yang dilakukan oleh peneliti dari Salk Institute ini menemukan bahwa otak manusia ternyata memiliki kapasitas memori setidaknya 1 petabyte atau setara dengan 10 juta gigabyte. Jumlah itu diperkirakan setara dengan internet saat ini. [18]

   Di dalam otak, ada sel yang disebut sebagai neuroglial cells. Fungsinya sebagai pembersih otak. Saat berpuasa, sel-sel neuron yang mati atau sakit akan ‘dimakan’ oleh sel-sel neuroglial ini. Fisikawan Albert Einstein dikenal sebagai orang yang suka berpuasa. Ketika mendonasikan tubuhnya, para ilmuwan menemukan sel-sel neuroglial di dalam otak Einstein 73 persen lebih banyak ketimbang orang kebanyakan.


Penelitian Universitas Harvard, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori meningkatkan kerja otak

   Sebuah penelitian yang dilakukan John Rately, seorang psikiater dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori meningkatkan kinerja otak. Dengan alat functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI), Rately memantau kondisi otak mereka yang berpuasa dan yang tidak. Hasilnya, orang yang shaum (berpuasa) memiliki aktivitas motor korteks yang meningkat secara konsisten dan signifikan.

Taufik mengatakan bahwa puasa adalah salah satu bentuk tazkiyatun nafs (menumbuhkan nafsu dalam artian membersihkan jiwa, memperbaikinya dan menumbuhkannya agar menjadi semakin baik perilaku nafsunya) dan tarbiyatun iradah (mendidik kehendak). Karena itu, sejak niat puasa, perilaku selama berpuasa dan ritual-ritualnya berada dalam konteks memperbaiki nafsu, menumbuhkan, kemudian mengelola kemauan-kemauan manusia.


PENUTUP

Y
ang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah fungsi otak yang ada di kepala manusia. Dari sini kreasi, karsa, karya manusia melebihi makhluk lainnya. Fungsi otak ini mesti dijaga, dipelihara dan dikembangkan bagi kemashlahatan kehidupan (diri dan sesama) manusia, alam dan Tuhan. Tuhan yang memberi mandat kepada manusia sebagai khalifah pemakmur kehidupan di bumi.

   Terobosan-terobosan mutakhir dalam bidang neurosains dan studi kecerdasan menunjukkan bahwa IQ - Kecerdasan Berfikir kebendaan atau material bukanlah satu-satunya jaminan kesuksesan hidup. Manusia memiliki pula EQ - Kecerdasan Emosional dan SQ - Kecerdasan Spiritual. Kecerdasan pun tidak berbentuk tunggal, tetapi majemuk - dikenal dengan sebutan Multiple Intelligence - dan setiap orang memiliki bakat yang khas. Kehidupan yang bisa dikatakan sukses dan utuh adalah kehidupan yang memberdayakan potensi fisik, rasio, emosi, dan spiritual dalam diri kita.

   Sementara puasa Ramadhan adalah sebagai media yang memelihara, bahkan meningkatkan, dan menjaga agar tetap fitsnya fungsi otak, ‘CPU’ - Central Processing Unit bagi manusia. Penciptaannya yang pertama, meniupkan roh-Nya ke dalam diri Adam, roh mana masuk kepada Adam melalui kepalanya. Di dalam tempurung kepala ini ‘CPU’ manusia berada. Wallāhu A’lam bish-Shawab. Billāhit Taufiq wal-Hidayah. □ AFM


 
Catatan:
Artikel Penciptaan Manusia Pertama dan Roh Ditiupkan Melalui Kepala - merupakan penceritaan ulang dari buku Al-Țabari, Taʾrīkh al-Rusūl wa al-Mulūk: Volume 1, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Franz Rosenthal (State University of New York Press: New York, 1989), hlm 262-265. Sumbernya dari Gana Islamika.


Catatan Kaki:
[1] Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal. ‘Respirasi dalam biologi adalah proses mobilisasi energi yang dilakukan jasad hidup melalui pemecahan senyawa berenergi tinggi (SET) untuk digunakan dalam menjalankan fungsi hidup. Dalam pengertian kegiatan kehidupan sehari-hari, respirasi dapat disamakan dengan ‘pernapasan. Namun, istilah respirasi mencakup proses-proses yang juga tidak tercakup pada istilah pernapasan. Respirasi terjadi pada semua tingkatan organisme hidup, mulai dari individu hingga satuan terkecil, sel. Apabila pernapasan biasanya diasosiasikan dengan penggunaan oksigen sebagai senyawa pemecah, respirasi tidak melulu melibatkan oksigen.
[2] QS Sad Ayat 72.
[3] Menurut al-Țabari, ini merujuk kepada QS Al-Fatihah Ayat 2: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”
[4] Lihat Q.S Al-Anbiya Ayat 37: “Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.”
[5] QS Al-Hijr Ayat 30-31.
[6] Lihat QS Al-Baqarah Ayat 34: Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
[7] Lihat QS Al-A’raf Ayat 12: Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”
[8] QS Al-A’raf Ayat 13.
[9] Lihat QS Al-Anbiya Ayat 37.
[10] QS Al-Fatihah Ayat 2.
[11] Lihat QS Al-Baqarah Ayat 34.
[12] Lihat QS Al-A’raf Ayat 12 dan Sad Ayat 76.
[13] Ulama Arab secara alami menghubungkan Iblis dengan akar kata “ablasa”, yang artinya diindikasikan kepada “membuat seseorang putus asa, atau untuk menghilangkan harapan seseorang.”
[14] Menurut al-Tabari, ini adalah penafsiran atas QS Baqarah Ayat 30 dan 34.
[15] https://id.wikipedia.org/wiki/Dendrit
[16] https://id.wikipedia.org/wiki/Akson
[17] Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa (di bulan Ramadhan) sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. [QS Al-Baqarah 2:183]
[18] Kapasitas memori otak manusia memang dikenal cukup besar untuk menampung beberapa informasi sekaligus. Namun, sebuah hasil penelitian terbaru tampaknya dapat mengubah pandangan itu. Sebab, dari penelitian tersebut diketahui ternyata kapasitas memori otak manusia 10 kali lebih besar dari yang pernah dipikirkan sebelumnya. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Salk Institute ini menemukan bahwa otak manusia ternyata memiliki kapasitas memori setidaknya 1 petabyte atau setara dengan 10 juta gigabyte. Jumlah itu diperkirakan setara dengan internet saat ini. "Ini adalah sebuah kabar yang mengejutkan di bidang neurosains," ujar Terry Sejnowski, salah seorang peneliti dari Salk Intitute, seperti dikutip dari laman Tech Times, Rabu (27/1/2016).
https://www.liputan6.com/tekno/read/2420057/kapasitas-memori-otak-manusia-ternyata-setara-1-juta-gb □□


Sumber Bacaan:
https://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_saraf
https://id.wikipedia.org/wiki/Fermentasi
https://id.wikipedia.org/wiki/Dendrit
https://id.wikipedia.org/wiki/Akson
https://www.sridianti.com/fungsi-saraf-tulang-belakang.html
https://budisma.net/2014/12/fungsi-saraf-tulang-belakang.html
https://www.liputan6.com/tekno/read/2420057/kapasitas-memori-otak-manusia-ternyata-setara-1-juta-gb
https://ganaislamika.com/kisah-tentang-adam-3-masa-penciptaan/
http://fadhilahislam.blogspot.com/2012/01/keajaiban-puasa-ramadhan-pembaruan.html  □□□