Sunday, September 25, 2016

Mengenal Pondok Pesantren Buya Hamka Maninjau




Kata Pengantar

Siapa Buya Hamka atau Prof. DR. Hamka? Professor Doktor Haji Abdul Malik Karim Amrullah, pemilik nama pena Hamka. Lahir di Maninjau, Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908. Meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun. Beliau adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia melewatkan waktunya sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Ia terjun dalam politik melalui Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan. Ia  menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif dalam organisasi Muhammadiyah sampai akhir hayatnya.

Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar ‘Doktor Kehormatan’, sementara Universitas Moestopo, Jakrta mengukuhkan Hamka sebagai ‘Guru Besar’ (Professor). Namanya disematkan untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah. Beliau masuk dalam daftar sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Dibayangi nama besar ayahnya Abdul Karim Amarullah, Hamka sering melakukan perjalanan jauh sendirian. Ia meninggalkan pendidikannya di Thawali, Padangpanjang, kemudian menempuh perjalanan ke Jawa dalam usia 16 tahun. Setelah setahun melewatkan perantauannya, Hamka kembali ke Padangpanjang membesarkan Muhammadiyah. Pengalamannya ditolak sebagai guru di sekolah milik Muhammadiyah karena tak memiliki diploma dan kritik atas kemampuannya berbahasa Arab melecut keinginan Hamka pergi ke Makkah. Dengan bahasa Arab yang dipelajarinya, Hamka mendalami Sejarah Islam dan sastra secara otodidak. Kembali ke Tanah Air, Hamka merintis karier sebagai wartawan sambil bekerja sebagai guru agama sementara waktu di Medan. Dalam pertemuan memenuhi kerinduan ayahnya, Hamka mengukuhkan tekadnya untuk meneruskan cita-cita ayahnya dan dirinya sebagai ulama dan sastrawan. Kembali ke Medan pada 1936 setelah pernikahannya, ia menerbitkan majalah ‘Pedoman Masyarakat’. Lewat karyanya ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah’ dan ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’ (yang kemudian karyanya telah diangkat menjadi filem), nama Hamka melambung sebagai sastrawan.

Selama revoluis fisik, Hamka bergerilya bersama Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) menyusuri hutan pengunungan di Sumatera Barat untuk menggalang persatuan menentang kembalinya Belanda. Pada 1950, Hamka membawa keluarga kecilnya ke Jakarta. Meski mendapat pekerjaan di Departemen Agama, Hamka mengundurkan diri karena terjun di jalur politik. Dalam pemilihan umum 1955, Hamka dicalonkan Masyumi sebagai wakil Muhammadiyah dan terpilih duduk di Konstituante. Ia terlibat dalam perumusan kembali Dasar Negara Indonesia. Sikap politik Maysumi menentang komunisme dan gagasan Demokrasi Terpimpin memengaruhi hubungannya dengan Sukarno (Presiden Indonesia). Usai Masyumi dibubarkan sesuai Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Hamka menerbitkan malalah ‘Panji Masyarakat’ tetapi berumur pendek, dibredel oleh Sukarno setelah menurunkan tulisan Hatta, yang telah mengundurkan diri sebagai wakil presiden, berjudul "Demokrasi Kita". Seiring meluasnya pengaruh Komunis, Hamka dan karya-karyanya diserang oleh organisasi kebudayaan Lekra. Tuduhan melakukan gerakan subversif membuat Hamka diciduk dari rumahnya ke tahanan Sukabumi pada 1964. Ia merampungkan karya ‘Tafsir Al-Azhar’ dalam keadaan sakit sebagai tahanan.

Seiring peralihan kekuasaan ke Suharto, Hamka dibebaskan pada Januari 1966. Ia mendapat ruang pemerintah, mengisi jadwal tetap ceramah di RRI dan TVRI. Ia mencurahkan waktunya membangun kegiatan dakwah di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta. Ketika pemerintah menjajaki pembentukan MUI pada 1975, peserta musyawarah memilih dirinya sebagai Ketua. Namun, Hamka memilih meletakkan jabatannya pada 19 Mei 1981, menanggapi tekanan Menteri Agama untuk menarik fatwa haram MUI atas perayaan Natal bersama bagi umat Muslim. Ia meninggal pada 24 Juli 1981 dan jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.


T
elah banyak ulama yang telah mendahului kita, khususnya di daerah Maninjau dan sekitarnya. Sebelumnya Maninjau merupakan daerah yang banyak melahirkan tokoh-tokoh yang berkiprah bukan hanya di pentas Nasional tetapi juga Internasional.

Kemudian banyak timbul kesimpang siuran fatwa tentang hukum agama di daerah Agam khususnya dan Sumatera Barat serta Indonesia pada umumnya, dengan tidak ditarjih terebih dahulu oleh para ulama, hal ini sangat meresahkan masyarakat. Berdasarkan fenomena inilah sepakat para tokoh Maninjau baik yang berada di kampung maupun yang berada di perantauan untuk mencarikan solusinya, serta mengantisipasi dari kekhawatiran tersebut. Salah-satu jalan waktu itu sepakatlah mereka membangun sebuah Pondok Pesantren (Ponpres) yang diberi nama ‘Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka’


PENDIRIAN PONDOK PESANTREN





Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka telah berdiri 27 tahun yang silam tepatnya tahun 1989 di daerah Maninjau Kecamatan Tanjung Raya Kab. Agam. Telah banyak alumni yang ditamatkan, diantara mereka banyak yang berkiprah sebagai pendakwah, wirasawasta, guru, dosen, dan sebagainya.



Pendirian Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka berawal dari pertemuan Buya Hamka (Alm) dengan bapak Suharto Presiden RI pada tahun 1977, dalam pertemuan tersebut Buya Hamka menyampaikan rencananya yang sudah lama yaitu akan mendirikan Qutub Khanah (Perpustakaan) di Maninjau. Bapak Suharto waktu itu menyarankan agar buya Hamka membuat pesantren saja agar ada kader pelanjut dan penerus cita-cita buya Hamka serta akan besar manfaat bagi masyarakat, usulan dari bapak Suharto di iringi dengan janji akan memberi bantuan modal awal sebesar Rp. 52 juta.

Saran dan janji dari bapak Presiden Suharto tersebut memberikan semangat kepada Buya Hamka untuk membangun Pondok Pesantren yang sebenarnya sudah lama menjadi harapan dan cita-cita beliau, untuk merealisasikan janji dari bapak Presiden Suharto tersebut dibentuklah Yayasan “DR. Abdul Karim Amarullah”, nama dimabil dari ayah Buya Hamka,  dengan Akta Notaris nomor 58 tahun 1977. Dalam Akta Notaris tersebut termasuk diantaranya adalah bapak H. Basyir Gany, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka. Beliau ditugaskan untuk mencari tanah di Maninjau seluas 2 hektar. Oleh karena sulitnya dana untuk pembebasan tanah tersebut maka oleh bapak H. Bashir Gany disediakannyalah tanahnya sendiri seluas 4 hektar, dua hektar di Tanjung dan 2 hektar lagi di Sibarasok,  keduanya berada di daerah Sigiran Kecamatan Tanjung Sani Kabupaten Agam, Sumatera Barat tanpa meminta biaya pembebasan tanah.

Setelah disampaikan ke Jakarta bahwa tanah untuk Pesantren sudah ada, maka panitia yang berada di Jakarta mengatakan bahwa kita menunggu sampai selesai pemilu tahun 1977. Ternyata akhir tahun 1977 dapat khabar dari Jakarta yang mengatakan bahwa rencana bantuan dari bapak Presiden Suharto sebesar Rp. 52 juta tersebut tidak ada realisasinya.

Mendapat khabar kegagalan tersebut maka rencana pembangunan Pesantren di Maninjau terhenti beberapa waktu, empat tahun setelah itu tepatnya tahun 1982 kembali diadakan pertemuan untuk pembahasan pembangunan Pondok Pesantren yang diadakan di rumah H. Udin Rahmani (Alm) yaitu di Maninjau dan dihadiri oleh H. Udin Rahmadhani (dari Maninjau), H. Bashir Gany (dari Sigiran), M. Nur Hamzah (dari Bayur) , Rusdi St. Iskandar (dari Maninjau), Masni Salam Ketua DDII perwakilan Sumatera Barat, Jufri Sultani Pengurus DDII Sumatera Barat dan St. Nasar Khatib Basa (dari Koto Kaciak). Dari hasil pertemuan tersebut didapatlah dua macam program: 1. Jangka pendek, yaitu membentuk kader ulama dengan pembinaan selama dua tahun, 2. Jangka Panjang kembali merintis rencana pendirian Pondok Pesantren yang diberi nama dengan Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka.

Enam bulan setelah pertemuan tersebut kembali bapak H. Bashir Gany ke Jakarta untuk menyampaikan hasil kesepakatan kepada Bapak H. Muhammad Natsir (H. M. Natsir). Alhamdulillah Bapak H. M. Natsir sangat menyetujui program pembinaan tersebut yang merupakan langkah awal untuk mengatasi krisis ulama di Maninjau, untuk merealisasikan pelaksanaannya maka ditugaskanlah bapak H. Bashir Gany sebagai ketua pelaksananya. Pada akhir tahun 1982 di mulailah program pembinaan tersebut dengan jumlah peserta sebanyak 20 orang, semuanya berasal dari daerah sekitar Danau Maninjau dengan usia diatas 17 Tahun. Dimana pada waktu itu menghabiskan dana sebesar Rp. 25 juta, keseluruhan dana tersebut berasal dari sumbangan Bapak H. M. Natsir.

Pada akhir tahun 1983 pembinaan kader ulama berakhir dengan di tutup langsung oleh bapak H. M. Nastir. Hasil dari pembinaan kader ulama ini cukup menggembirakan, karena sudah mampu mengatasi kekurangan mubaligh dari masing-masing daerah di sekitar Danau Maninjau, dimana sebelumnya hal ini merupakan persoalan yang sangat mendesak terutama untuk menjadi khatib pada sholat Jum’at.


PEMBANGUNAN GEDUNG PONDOK PESANTREN

Enam tahun setelah itu tepatnya pada tahun l989, H. Bashir Gany kembali ke Jakarta untuk membicarakan rencana pembangunan Pondok Pesantren yang masih tertunda, setelah delapan kali pertemuan yang diadakan di Jakarta yaitu diataranya di rumah H. M. Nastir, pertemuan terakhir yaitu di rumah A. R. St. Mansyur barulah disepakati pembangunan Pondok Pesantren, dan diberilah mandat bapak bapak H. Bashir Gany untuk mendirikan Pondok Pesantren yang disebut oleh buya Hamka dengan “Pesantren Pembangkit Batang Tarandam”.

Sekembalinya bapak H. Bashir Gany dari Jakarta, langsung dibentuk Yayasan Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka, dengan Bismillāhir Rahmānir Rahīm tepatnya tanggal 1 Muharam 1410 H bertepatan dengan tanggal 2 Agustus 1989 M, dimulailah kegiatan Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka yang pada awal bertempat di gedung SMP Muhammadiyah Bancah, Bayur, Kecamatan Tanjung Raya yaitu 3 kilo meter arah Utara dari pasar Maninjau, dengan jumlah santri 25 orang dan tenaga pengajarnya disamping guru yang berasal disekitar danau Maninjau juga didatangkan dari tamatan Pesantren pulau Jawa seperti Gontor, Ngeruki Solo dan lain sebagainya. Tetapi kegiatan belajar dan mengajar di SMP Muhammadiyah Bayur ini hanya berjalan selama tiga tahun.

Alhamdulillah pada tahun 1992 mendapat tanah seluas 2 hektar yang merupakan wakaf dari bapak Muchtar Khatib Sutan Rajo Lelo. Setelah duduk perwakafan maka orang yang mewakafkan meminta ganti rugi untuk tanaman yang ada didalamnya, sebab famili beliau telah lebih dahulu menanami dengan tanaman berharga. Atas kesepakatan antara pewaqaf dengan Yayasan serta si penanam, penggantian tanaman tersebut sebesar Rp. 3 dan sudah dibayar tunai kepada bapak B. A. Dt. Gunuang Ameh yang sekarang bergelar Dt. Majo Lelo, uangnya di peroleh Yayasan dari bapak H. Mohammad Zen dan Hj. Nursiah orang asli Maninjau yang tinggal di Jakarta. Setelah mendapat Tanah waqaf tersebut barulah Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka pindah kelokasi baru yaitu daerah Batunanggai, Maninjau, tepatnya pada tanggal 15 Juli 1992, sekita 15 kilometer dari arah selatan ibukota kecamatan Maninjau. Berhubung tanah masih kosong maka kegiatan belajar mengajar diadakan di gedung MDA Muhammadiyah Batunanggai, sedangkan pemondokan santri buat sementara menumpang di rumah-rumah penduduk yang ada disekitarnya.

Sedangkan kegiatan Pondok Pesantren di SMP Muhammadiyah Bayur dilanjutkan oleh Pimpinan Muhammadiyah Cabang Tanjung Raya dengan nama Pondok Pesantren Mu’alimin Muhammadiyah Bancah, Bayur, sekarang berubah nama menjadi SMP Muhammadiyah Bayur. Barulah setelah 3 tahun menumpang di MDA Muhammadiyah Batunanggai tepatnya akhir tahun l995 kita dapat membangun sebuah Masjid, yang merupakan bantuan dari ibu Hj. Halimah ‘Ali Bin Abdullah sebesar Rp. 29 juta, ditambah dengan dana lain yang di usahakan pihak Yayasan, pembangunan baru selesai setelah menghabiskan dana sebesar Rp. 42 juta.





Dengan selesainya pembangunan Masjid tersebut maka kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke masjid, artinya tidak lagi menumpang di MDA Muhammadiyah Batunanggai. Sekarang alhamdulillah, secara berangsur kita sudah memiliki Ruang Belajar sebanyak enam lokal, Asrama putra dan asrama putri memiliki daya tampung masing-masing 100 orang santri, Ruang perpustakaan, rumah Ustadz dan Ustadzah, ruang makan, ruang komputer, Aula, Masjid, lapangan olah raga dan kantor Pondok serta Yayasan. Disamping bangunan fisik kita sudah memiliki unit usaha diantaranya karamba ikan sebanyak 20 petak, peternakan sapi, kebun coklat dan koperasi pondok dll.

Untuk menunjang kualitas pendidikan sebagian besar guru-guru berasal dari alumni Pondok Pesantren unggulan di Jawa seperti Gontor, Ngruki, Mujahadah, Dārunnajah dan Nurul Huda. Disamping itu juga berasal dari universitas-universitas terkemuka di Pulau Jawa dan Sumatera seperti UIN SGD, Universitas Negeri Padang, STKIP Ahlussunnah Bukittinggi, IAIN Imam Bonjol Padang dan Universitas Andalas Padang. Perpaduan antara kurikulum Gontor dan pondok pesantren unggul lainnya akan menghasilkan lulusan Pondok Pesantren Prof DR. Hamka, insya Allah diyakini menguasai dan mampu bercakap Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan dapat membaca kitab kuning (menjadi ulama tarjih) juga menguasai ilmu-ilmu eksakta, sehingga lulusan Pesantren juga bisa bersaing di UMPTN





Selain itu untuk meningkatkan kualitas para guru, Yayasan Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka Maninjau bekerja sama dengan DDII Jakarta, untuk mengirim para guru mengikutii pendidikan lanjutan ke Universitas Islam Ibnu Mas’ud Arab Saudi, Universitas Moh. Nastir Jakarta dan lain sebagainya, sehingga guru-guru Pondok Pesantren Prof. DR Hamka Maninjau kedepan seluruhnya tamatan pesantren unggulan plus sarjana Muslim Tamatan Universitas Islam baik dari dalam negeri maupun luar negeri (Arab Saudi dan Timur Tenggah)

Pada tanggal 30 September 2009 terjadi musibah gempa di Sumatera Barat, Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka Maninjau Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam Sumatera Barat termasuk yang mengalami kerusakan terparah, yaitu sebahagian besar kampus mulai dari kantor, asrama putra dan asrama guru hancur akibat gempa, kondisi ini diperparah dengan longsoran perbukitan yang berada diatas asrama Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka yang membawa lumpur, batu, dan kayu yang sampai saat sekarang bila hujan datang tetap berjatuhan sehingga Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka tidak layak untuk dihuni lagi.

Melihat Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka yang tidak mungkin untuk ditempati lagi, kita berusaha untuk mencari tempat yang lebih aman, demi kelanjutan pendidikan anak-anak kita yang nantinya akan menjadi kader-kader ulama seperti yang ddicita-citakan oleh Buya Hamka dan Bapak Moh. Natsir (pendiri Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka)

Alhamdulillah maksud kita diatas disambaut dengan baik oleh masyarakat jorong Bancah dan Kukuban dengan mewakafkan tanah seluas 4 Ha. Lokasi ini sekitar 10 km dari Kampus Batunanggai atau 2 km dari pasar Maninjau.
 
Menunggu selesainya pembangunan Kampus yang baru, insya Allah pembangunan tersebut direncanakan bulan Januari 2010 ini akan kita mulai dengan total dana pembangunan Rp. 4 miliar 180 juta, maka kegiatan belajar dan mengajar serta proses pembinaan kita lakukan untuk sementara di Jorong Kukuban yaitu di MDA Darusslam Kukuban serta di bangun lokal darurat dan rumah ustadz dan ustadzah bantuan dari Dompet Dhua’afa Republika.




FALSAFAH PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN

Proses pendidikan yang dilakukan oleh PP. Prof. DR. Hamka adalah suatu usaha yang bersifat kontiniu kearah perkembangan untuk membangkitkan dan mengembangkan potensi individu secara menyeluruh dan terpadu untuk mewujudkan manusia yang harmonis dan seimbang (tawazun) dari segi intelektual, Spiritual, emosional dan jasmani berdasarkan Keimanan dan Ketaqwaan kepada Allah swt untuk melahirkan insan kamil yang berilmu pengetahuan, memiliki keterampilan, berakhlakul karimah, calon ulama dan pemimpin umat yang sholeh, dan siap mengemban amanah Allah sebagai khalifahNya dimuka bumi yang memberi kebaikan serta manfaat kepada agama bangsa dan negaranya

VISI PONDOK PESANTREN BUYA HAMKA. Membentuk kader ulama pelanjut dan penerus cita-cita Buya Hamka yang berprestasi, berbudaya dan berbudi pekerti luhur berdasarkan keimanan dan ketaqwaan dalam menghadapi era globalisasi.

MISI PONDOK PESANTREN BUYA HAMKA. Melaksanakan pendidikan agama dan umum dengan shohih tanpa adanya dikotomi (perpisahan) ilmu agama dan umum.

TUJUAN PONDOK PESANTREN BUYA HAMKA. 1. Mendidik dan mengkader generasi muda calon ulama dan pemimpin umat yang sholeh, amanah, jujur, memiliki kecerdasan intelektual, spiritual dan emosional. 2. Menghasilkan lulusan yang mengausai ilmu agama secara mendalam, menguasai bacaan bahasa Al-Qur’an dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. 3. Menghasilakn lulusan pasentren yang bisa meneladani kepribadian Buya Hamka


CIRI KHAS PONPRES PROF. DR. HAMKA.

Adapun cirri khas dari Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka adalah sebagai berikut:

Mengutamakan pendidikan bukan pengajaran, karena orang terdidik sudah tentu terpelajar, orang terpelajar-cerdas belum tentu terdidik yang mempunyai akhlakul karimah.

Pendekatan Pendidikan tidak terbatas “proses mentransfer Ilmu itu termasuk mendidik jiwa, akhlak, moral, etika santri dengan pola sikap jujur, amanah, cerdas, bersih dan berwibawa dalam kehidupan masyarakat”.

Pondok Pesantren Prof. Dr. Hamka maninjau menerima santri pindahan dari MTsN/MTs dan SMP umum dengan persyaratan mengikuti pendididkan persiapan 1 tahun sebelun calon santri pindah masuk kelas representatif kulliatul mu’allimin al islamiyah. Program persiapan (idad) khusus pendalaman Bahasa Arab dan dasar-dasar ilmu Islam.

Pondok Pesantren Prof. Dr. Hamka di Maninjau berdiri Untuk semua golongan berdasarkan kepada Al-Qur’an dan Sunnah dalam perjuangannya. Meneladani ulama-ulama shalafusshaleh sebagai pewaris para nabi (warashatul ambia).



Demikianlah sekilas gambaran Pondok Pesantren Buya Hamka yang terletak di salah satu nagari selingkar danau Maninjau. Letak dari Pondok Pesantren ini merupakan perpaduan alamnya nan indah Ciptaan-Nya dengan Kompleks Bangunan untuk pendidikan. Pondok Pesantren ini berupaya mencetak intelektual Ulama Islam moderen.  Dikemudian hari Insya Allah berkembang maju sebagai sarana ‘pencetak’ intelektual religious yang diperlukan dalam mengisi kebutuhan umat dan manusia akan ulama yang familiar dengan perkembangan zaman dan lingkungannya. Bahu membahu dengan Pondok Pesantren lainnya. Wallahu ‘Alam bish-Shawab. Billahit Taufiq wal-Hidayah. AFM


Sumber:

Wikipedia

http://www.ponpeshamka.com/2014/04/profil-pondok-pesantren-buya-hamka_24.html□□□

Wednesday, September 21, 2016

Parade Islam Internasional di New York



Oleh: Imam Shamsi Ali
(Judul Aslinya: Seputar Kasus Bom New York)


 
Parade Islam internasional adalah salah satu penafsiran dari mental baja itu. Kami maju dan tidak gentar menampilkan eksistensi kami. Eksistensi yang besar dan bangga dengan agamanya, bangga dengan komunitas besarnya, dan juga bangga menjadi bagian dari masyarakat Amerika yang besar.

 
 
D
alam beberapa hari terakhir ini kota New York, jantung dunia, kembali mengalami sorotan tajam. Tidak saja bahwa hiruk pikuk kampanye pemilu Amerika saat ini sedang melangit. Bayangkan, dua calon presiden Amerika kali ini dianggap penduduk New York. Donald Trump dari Republikan yang memang lahir dan besar di Jamaica New York. Daerah di mana saya berdomisili saat ini. Dan Hillary yang dikenal sebelumnya sebagai Senator asal New York. Dan memang setelah suaminya selesai menjabat presiden US memilih New York sebagai kampung halamannya.

Apalagi Senin depan ini kedua calon ini akan mengadu argumentasi pada debat kandidat presiden yang pertama di Universitas Hofsra New York. Keduanya akan mengadu kelihaian dan kekuatan alasan kenapa warga Amerika punya alasan untuk memilih mereka.

Selain itu karena mulai Minggu kemarin Sidang Majelis Umum PBB, hajatan akbar seluruh negara-negara di dunia resmi dimulai. Hari ini Presiden Barak Obama akan menyampaikan pidato terakhirnya di PBB sebagai presiden negata super power ini. Sementara dari Indonesia diwakili oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla.

Dan kami sendiri masyarakat Muslim New York tengah mempersiapkan perhelatan tahunan akbar kami. United American Muslim Day Parade atau pawai Islam internasional tahunan akan kami laksanakan minggu ini, 25 September di pusat kota Manhattan. Parade kali ini diperkirakan akan diikuti oleh ribuan bahkan puluhan ribu warga Muslim dan non Muslim.


Peledakan di Manhattan

Dari sekian peristiwa di atas, tidak kalah hebohnya adalah terjadinya ledakan bom rakitan di kota Manhattan dua hari lalu (17 September 2016). Peristiwa ini terjadi justeru di saat terjadi kebencian atau Islamophobia yang tinggi di Amerika, sebagai akibat dari retorika politik anti Islam sebagian politisi Amerika. Donald Trump misalnya tidak mengurangi keinginannya untuk melakukan tindakan diskriminatif, yang jelas melanggar Konstitusi Amerika, jika terpilih.

Untungnya bahwa pada peristiwa kali ini tidak ada yang meningal. Hanya ada sekitar 29 orang yang mengalami luka ringan. Perkiraan saya karena memang pelakunya tidak profesional, ragu, atau mungkin juga karena rakitan itu tidak memiliki kapasitas besar untuk membunuh. Tapi bagaimanapun itu, hal ini merupakan peristiwa yang secara konsensus dikutuk oleh semua pihak termasuk komunitas Muslim.

Setelah dua hari pengejaran, yang tentunya perlu mendapat apresiasi tinggi, pihak pengamanan New York yang terdiri dari berbagai badan intelijen dan kepolisian, berhasil menangkap pelakunya. Seorang warga keturunan Afganistan (yang sudah mendapat kewarganegaraan Amerika Serikat), berumur 28 tahun bernama Ahmad Khan Rahami.

Yang menarik adalah ternyata pelakunya tertangkap di sebuah tangga bar milik warga India di New Jersey. Oleh pemiliknya diperkirakan jika malam sebelumnya sang Ahmad ini telah minum dan mabuk sehingga tertidur hingga pagi hari di lorong bar tersebut.


Dampaknya ke komunitas Muslim

Kita kenal bahwa dalam beberapa minggu terakhir ini saja ada beberapa peristiwa kekerasan yang terjadi terhadap komunitas Muslim. Pembunuhan dua Imam asal Bangladesh di Queens New York. Lalu seorang wanita juga asal Bangladesh meninggal setelah ditusuk oleh seseorang. Beberapa hari lalu seorang turis wanita berpakaian Islam, disulut api dari belakang. Dan banyak lagi kasus-kasus dengan kapasitas yang berbeda.


Lalu bagaimana dengan komunitas Muslim dan Islam itu sendiri?

Alhamdilllah, dengan segala optimisme dan percaya diri saya ingin katakan kita melanjutkan hidup dan perjungan sebagaimana biasa. Apapun yang terjadi semuanya adalah kasus "penyelewengan" tidak saja kepada hak komunitas Muslim untuk hidup aman dan nyaman. Tapi sejatinya penyelewengan besar pertama kali terhadap konstitusi negara Amerika. Negara ini dibangun di atas konstitusi yang solid, yang memberikan kebebasan dan perlindungan terhadap agama dan pemeluknya, tanpa diskriminasi.

Selain itu, hubungan komunitas Muslim dan pihak pengamanan sangat dekat. Bahkan beberapa kali pihak kepolisian New York melakukan kerjasama dengan komunitas Muslim dalam menangani hal-hal yang dianggap mengancam keamanan. Kerjasama dan saling percaya inilah yang menjadikan pelaku pembunuhan Imam Akonjee maupun Sister Nazma ditangkap dalam waktu yang singkat.

Artinya kombinasi komitmen institusi dan kejelasan konstitusi itulah yang menjadikan kami komunitas Muslim selalu percaya diri dan optimis. Bahwa peristiwa-peristiwa saat ini, termasuk pemboman, akan berlalu sebagaimana masa-masa lalu. Tentu karena keyakinan bahwa Allah akan selalu bersama dan membela kebenaran dan keadilan.

Oleh karenanya saya baik sebagai pribadi, maupun dalam kapasitas Imam dan ketua Yayasan Muslim Amerika selalu mengingatkan kepada semua pihak agar menahan diri. Masalah apapun yang terjadi jangan didramatisir, apalagi kadang dengan ekspresi yang berlebihan. Karena hal ini, selain tidak memberikan solusi, juga hanya akan menambah beban umat. Menumbuhkan rasa takut dan marah, yang pada gilibnya bisa menimbulkan akibat yang lebih buruk.

Oleh karenanya yang kami lakukan adalah usaha-usaha yang bersifat "solution oriented". Melakukan pertemuan pimpinan umat dan agama. Juga melakukan koordinasi dengan pihak pemerintah dan keamanan. Tapi yang terpenting adalah membangun rasa aman dan optimisme umat agar jangan pernah mau terintimidasi dan lemah dengan peristiwa ini.

Sebaliknya justeru semakin yakin, optimis dan kuat. Dengan mental baja seperti ini komunitas Muslim akan menjalani hidup dengan normal, bahkan semakin proaktif dalam "menantang tantangan" (challenging the challenge). Komunitas Muslim juga akan semakin berani mengambil bahagian dalam kehidupan sentral dalam masyarakat mainstream Amerika.

Parade Islam internasional adalah salah satu penafsiran dari mental baja itu. Kami maju dan tidak gentar menampilkan eksistensi kami. Eksistensi yang besar dan bangga dengan agamanya, bangga dengan komunitas besarnya, dan juga bangga menjadi bagian dari masyarakat Amerika yang besar. Insya Allah! [New York, 21 September 2016]

Catatan:

Imam Shamsi Ali disamping sebagai Imam masjid di New York juga sebagai Presiden Nusantara Foundation & Muslim Foundation of America. □□□

Monday, September 5, 2016

Baghdad Gudang Ilmu dan Pusat Intelektual 1





S


eribu dua ratus tahun yang lalu merupakan masa kejayaan Baghdad, kota di Irak sekarang. Terletak di dua aliran sungai, Tigris dan Eufrat. Ketika itu Baghdad berkembang sangat maju sebagai ibukota dari seentero dunia muslim. Selama sekitar 500 tahun kota Baghdad telah menghasilkan banyak sekali  intelektual dan budayawan yang handal.

   Keberhasilan yang telah dicapai ini berkat adanya perhatian dan usaha khalifah (sebagai kepala pemerintahan) kepada dunia pendidikan dan pengajaran agar maju dan berkembang. Yaitu, semasa pemerintahan khalifah (yang paling terkenal) seperti Al-Rashid, Al-Ma’mun, Al-Mu’tadhid dan Al-Muktafi.

   Baghdad sebagai salah satu kota terbesar dan terkaya di dunia, pada saat itu. Baghdad dan sekitarnya memiliki kekayaan yang jauh melampaui bukan saja dibidang financial, tapi juga berkembang maju rumah “The House of Wisdom”- Gudang Ilmu. Yaitu, Akademi Ilmu Pengetahuan yang merangsang dan memotivasi berkembangnya akal pikiran yang lebih luas lagi yang dapat dicapai. Dari mulai matematika (aritmatika, trigonometri, aljabar, algoritma), astronomi sampai ilmu khewan. Akademi tersebut juga merupakan pusat utama dari melakukan penelitian, pemikiran dan perdebatan yang telah menjadi kebiasaan Peradaban Muslim. □





The House of Wisdom: Baghdad’s Intellectual Powerhouse

The heyday of Baghdad was 1,200 years ago when it was the thriving capital of the Muslim world. For about 500 years the city boasted the cream of intellectuals and culture, a reputation gained during the reigns of some of its most famous Caliphs (Al-Rashid, Al-Ma'mun, Al-Mu'tadhid and Al-Muktafi).

As one of the world's biggest and richest cities at the time, Baghdad had wealth that went far beyond money. For more than two centuries, it was home to the House of Wisdom, an academy of knowledge that attracted brains from far and wide. From mathematics and astronomy to zoology, the academy was a major centre of research, thought and debate in Muslim Civilisation. □


Untuk melihat Slideshare-nya Klik  ->  House of Wisdom Slideshare.


Sumber:
http://www.1001inventions.com/house-of-wisdom□□□