Wednesday, November 8, 2017

Musim Gugur Musim Yang Menakjubkan






S
ekarang di belahan bumi bagian utara sedang berlangsung Musim Gugur yang dimulai minggu ketiga bulan September. Puncaknya terjadi  pada bulan Oktober ini. Di Amerika Serikat, mereka menyebutkan musim Fall (jatuh, bergugurannya dedauan) atau disebut Autumn (BahasaInggrisnya orang Inggris).

Musim yang penulis sangat sukai, walaupun agak dingin. Kenapa? Karena saat ini dedaunan bertukar warna dari yang tadinya hijau menjadi kuning; Hijau menjadi kemarah-merahan jeruk; Hijau menjadi merah dan merah hati ayam; Hijau menjadi biru terong. Suatu pemandangan yang menakjubkan…spectacular. Karena apa? Karena pengelompokan pepohan menjadikan bumi ini colorful yang sangat indah. Membuat decak jantung, hati, perasaan yang paling dalam dari kesadaran penulis dibalik itu semua. Tambah dramatis, kalau melihat pantulan dari air sekitarnya. Betapa tidak! Seperti yang Anda dapat saksikan juga. Terlihat imagenya seperti gambar dibawah.


Image pantulan warna-warni daun di permukaan air



Pada musim ini, pohon-pohon yang selalu hijau disetiap musim adalah pohon cemara dan aras menjadi paduan yang sangat serasi bagi warna merah dan kuning terang dari pohon-pohon lain yang meranggas.

Kebanyakan pencinta alam telah mengamati bahwa pemandangan musim gugur bervariasi dari tahun ke tahun dan dari tempat ke tempat. Hal ini sebagian besar bergantung pada jenis pohon meranggas yang terdapat di wilayah itu. Misalnya, beberapa spesies pohon maple menghasilkan warna-warna merah yang sangat mencolok. Banyak spesies pohon ini tumbuh pula secara alami di Asia dan sering ditanam di taman dan kebun.


Image daun Mapple dari hijau ke merah



Mengapa Dedaunan Berganti Warna?

B
agi orang yang ingin tahu, transformasi warna ini menuntut penjelasan. Faktor apa yang menentukan, apakah warna daun akan menjadi kuning atau merah atau biru atau tetap hijau seperti pohon cemara?

Warna-warni musim gugur merupakan bagian dari proses pohon-pohon mempersiapkan diri untuk menghadapi musim dingin. Hari-hari yang lebih singkat selama musim gugur mengingatkan jam biologis pada pohon untuk mulai menghentikan penyediaan air dan nutrisi ke daun. Setiap lembar daun bereaksi dengan membuat suatu lapisan pemisah pada pangkal tangkainya. Lapisan ini - terdiri dari suatu zat yang menyerupai gabus - menghambat aliran sirkulasi dari daun ke seluruh bagian pohon dan pada akhirnya menyebabkan daun gugur dari pohon.

Seraya proses ini berlangsung, pigmen-pigmen karotenoid mulai membubuhkan warna kuning atau jingga pada dedaunan. Pigmen-pigmen ini biasanya ada sepanjang musim panas, tetapi tidak tampak karena adanya klorofil hijau yang dominan pada daun. Di pihak lain, warna merah sebagian besar berasal dari antosian, suatu pigmen yang baru dihasilkan oleh daun pada musim gugur. Selama musim gugur, klorofil terurai, dan pigmen kuning dan merah menjadi menonjol. Sewaktu tidak ada lagi klorofil yang tersisa, daun pohon poplar menjadi kuning terang sedangkan daun pohon maple menjadi merah menyala. Kemudian nantinya, satu persatu akan mulai berjatuhan, gugur atau mati syahid dari rantingnya. Kenapa mati syahid? Karena daun yang mati ini akan menjadi pupuk alam yang menghidupkan pepohonan yang mati suri karena di minggu ke-3 bulan Desember datang musim dingin dan bersalju (winter).


Proses Daur Ulang yang Indah

S
eluruh proses yang bersangkutan dengan pohon menggugurkan daun-daunnya merupakan proses yang praktis serta indah. Dengan menggugurkan daun-daunnya, pohon menghemat air dan energi selama musim dingin. Juga, dengan cara itu pohon membersihkan diri dari limbah beracun yang terkumpul dalam daun selama musim panas.


Image Musim Gugur




Image dedauan berjatuhan



Apa yang terjadi atas miliaran daun yang jatuh ke tanah? Berkat serangga, fungi, cacing, dan binatang lain dalam tanah, semua bahan organik dari daun yang gugur syahid ini segera diubah menjadi humus, bahan yang penting untuk menyuburkan tanah. Jadi, setelah menampilkan pemandangan yang mengagumkan, daun-daun yang berguguran juga menjadi pupuk untuk pertumbuhan baru pada Musim Semi (Spring) berikutnya!

Penutup

T
ak ada yang terbuang percuma dalam proses alam ini, musim berganti musim membuat bumi ini indah. Ini terjadi karena ekosistem selalu bekerja sama yang erat dan rapi dari Matahari, Bulan, Bumi bekerja sama yang terkoordinir rapi. Alam bekerja keras untuk kita  yang diatur oleh Sunatullah-Nya.

Anda tentu pernah mengamati warna daun musim gugur. Warna daun yang berubah dimusim gugur sangat menarik perhatian saya. Apakah Anda pernah bertanya-tanya bagaimana dan mengapa daun yang jatuh (gugur) tersebut berubah warna? Mengapa daun pohon maple berubah menjadi merah cerah? Darimana warna kuning dan oranye berasal? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertama-tama kita harus memahami apa daun dan apa yang mereka lakukan.

Daun adalah pabrik makanan alami. Tanaman mengambil air dari tanah melalui akar mereka. Mereka mengambil gas yang disebut karbon dioksida dari udara. Tanaman menggunakan sinar matahari untuk mengubah air dan karbon dioksida menjadi oksigen dan glukosa. Oksigen adalah gas di udara yang kita butuhkan untuk bernapas. Glukosa adalah semacam gula. Tanaman menggunakan glukosa untuk energi dan sebagai bahan untuk pertumbuhan. Cara tanaman mengubah air dan karbon dioksida menjadi oksigen dan glukosa disebut fotosintesis. Fotosintesis sangat membutuhkan bantuan sinar matahari. Sebuah bahan kimia yang disebut klorofil membantu berlangsunya fotosintesis. Klorofil adalah zat yang menyebabkan daun berwarna hijau.

Saat musim panas berakhir dan musim gugur datang, hari-hari mengalami waktu siang yang berangsur-angsur pendek. Ketika itu malamnya lebih panjang dari siangnya, dengan itu sinar matahari berkurang dari yang biasanya diterima. Ini adalah cara pohon-pohon "tahu" untuk mulai bersiap-siap menghadapi musim dingin.

Selama musim dingin, tidak terdapat cukup cahaya dan air untuk melangsungkan fotosintesis. Pohon-pohon akan beristirahat, dan hidup dari makanan yang mereka simpan selama musim panas. Mereka mulai menutup "Pabrik Makanan Alami" mereka. Saat itu klorofil akan menghilang dari daun yang diikuti memudarnya warna hijau pada daun, kita mulai melihat warna kuning dan oranye. Sebenarnya warna kuning dan oranye telah ada dalam jumlah kecil pada daun selama ini. Kita hanya tidak dapat melihatnya di musim panas, karena mereka ditutupi oleh klorofil hijau.

Warna merah cerah dan ungu yang kita lihat pada daun dibuat (terutama) di musim gugur. Di beberapa pohon, seperti maple, glukosa terjebak dalam daun setelah berhenti fotosintesis. Sinar matahari dan malam-malam dingin pada musim gugur menyebabkan daun mengubah glukosa ini menjadi warna merah. Warna coklat pohon seperti pohon oak terbuat dari limbah yang tersisa di daun.



Demikianlah proses perubahan warna daun pada musim gugur terjadi adalah kombinasi dari semua hal yang membuat warna dedaunan musim gugur menjadi indah dan bisa kita nikmati setiap tahun. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? [QS Ar-Rahmān 55:13]

Si Penikmat Alam bertanya dalam hatinya, “Siapa Pencipta alam ini, gunanya alam, bekerjanya alam, dan apa manfaatnya bagi manusia?” Telah terjawab kini. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu mau dustakan? Billahit Taufiq wal Hidayah. □ AFM


Bahan Bacaan:
Dari berbagai sumber.

Monday, July 31, 2017

Hubungan Iman Ilmu Amal Dalam Islam






PENDAHULUAN


I
lmu adalah misykat atau cahaya dan kemilau bagi pemiliknya (begitu pula para pelakunya). Perumpamaan orang yang berilmu di tengah-tengah umat manusia seperti seseorang di antara sekumpulan manusia yang berada di tengah kegelapan. Ia memegang sebuah lampu atau obor di tangannya untuk menerangi jalan bagi mereka. Sehingga mereka selamat dari marabahaya, mampu terhindar dari onak dan duri, serta dapat berjalan di atas jalan yang “aman” lagi “lurus”.

Tujuan dari ilmu adalah untuk diamalkan. Ilmu dicari dan didapat, kemudian diamalkan dalam rangka merealisasikan penghambaan diri serta taqorrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, hendaknya ilmu didahulukan sebelum segala bentuk amalan dilakukan. Sehingga amal ibadah, ketaatan, maupun pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dilakukan di atas hujah, ilmu yang bermanfaat, dan pondasi yang benar, serta amalan baik yang diridhai-Nya.


Pengertian Iman

Pengertian "iman" dari bahasa Arab yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah, pengertian "iman" adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Dengan demikian, pengertian iman kepada Allah adalah ●  membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaan-Nya; ● kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan; ● serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata.

Jadi seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna apabila memenuhi ketiga unsur keimanan yang telah disebutkan diatas. Apabila seseorang mengakuinya dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.


Pengertian Ilmu

Kata "'Ilmu" dari bahasa Arab. 'Ilmu "berasal dari kata kerja 'alima, yang berarti memperoleh hakikat ilmu, mengetahui, dan yakin. Ilmu dalam bentuk jamaknya adalah 'ulum, artinya memahami sesuatu dengan hakikatnya, dan itu berarti keyakinan dan pengetahuan. Jadi ilmu merupakan aspek teoritis dari pengatahuan. Dengan pengetahuan inilah manusia melakukan perbuatan amalnya. Jika manusia mempunyai ilmu tapi miskin amalnya, maka ilmu tersebut sia-sia.

Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus tentang apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.


Pengertian Amal

Secara bahasa "amal" berasal dari bahasa Arab yang berarti perbuatan atau tindakan, sedangkan "saleh" berarti yang baik atau yang patut atau juga membangun bukan merusak. Menurut istilah. "amal Saleh" ialah perbuatan baik yang memberikan manfaat kepada pelakunya di dunia dan dapat balasan pahala yang berlipat di akhirat.

Pengertian "amal" dalam pandangan Islam adalah setiap amal saleh, atau setiap perbuatan kebajikan yang diridhai oleh Pencipta Alam Semesta - Allahu Rabbul 'Alamin. Dengan demikian, amal dalam Islam tidak hanya terbatas pada ibadah (ibadah mahdhah), sebagaimana ilmu dalam Islam tidak hanya terbatas pada ilmu fikih dan hukum-hukum agama. Ilmu dalam (ajaran) Islam ini mencakup semua yang bermanfaat bagi manusia seperti meliputi ilmu "agama", ilmu alam, ilmu sosial dan lain-lain. Ilmu-ilmu ini jika dikembangkan dengan benar dan baik maka memberikan dampak yang positif bagi peradaban dan kebudayaan manusia. Misalnya pengembangan sains akan memberikan kemudahan dalam lapangan praktis manusia. Demikian juga dengan pengembangan ilmu-ilmu sosial akan memberikan solusi untuk memecahkan masalah-masalah di masyarakat baik lokal, regional maupun dunia.


HUBUNGAN ANTARA IMAN, ILMU DAN AMAL



D
alam Islam, antara Iman, Ilmu dan Amal terdapat hubungan yang terintegrasi kedalam agama Islam sebagai ajaran (paradigma) Islam. Islam adalah agama wahyu yang mengatur sistem kehidupan. Dalam agama Islam terkandung tiga ruang lingkup, yaitu Akidah, Syari’ah dan Akhlak. Sedangkan Iman, Ilmu dan Amal barada didalam ruang lingkup tersebut. Iman berorientasi terhadap “Rukun Iman yang enam”, sedangkan ilmu dan amal berorientasi pada “Rukun Islam yang lima” yaitu tentang tata cara ibadah dan pengamalanya yang menghasilkan “Ihsan” - kebaikan dan kemanfaatan bagi manusia dan alam lingkungannya.

Akidah merupakan landasan pokok dari setiap amal seorang muslim dan sangat menentukan sekali terhadap nilai amal, karena akidah itu berurusan dengan hati. Akidah sebagai kepercayaan yang melahirkan bentuk keimanan terhadap rukun iman,  yaitu iman kepada Allah, Malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab Allah, Rosul-Rosul Allah, hari Qiamat, dan Takdir.

Meskipun hal yang paling menentukan adalah akidah (iman), tetapi tanpa integritas ilmu dan amal dalam perilaku kehidupan muslim, maka keislaman seorang muslim menjadi kurang utuh, bahkan akan mengakibatkan penurunan keimanan pada diri muslim, sebab eksistensi prilaku lahiriyah seseorang muslim melambangkan batinnya.


Hubungan Iman dan Ilmu

Beriman berarti meyakini kebenaran eksistensi dan ajaran Allah swt dan Rasulullah saw. Serta dengan penuh ketaatan menjalankan ajaran tersebut. Untuk dapat menjalankan perintah Allah swt dan Rasul saw kita harus memahaminya terlebih dahulu sehingga tidak menyimpang dari yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Cara memahaminya adalah dengan selalu mempelajari ajaran agama (Islam).

Iman dan Ilmu merupakan dua hal yang saling berkaitan dan mutlak adanya. Dengan ilmu keimanan kita akan lebih mantap. Sebaliknya dengan iman orang yang berilmu dapat terkontrol dari sifat egoisma pribadi (kelompok, bangsa), sombong dan semena-mena yang berakhir menjadi berakibat rusaknya tatanan hidup sosial kemasyarakatan dan meruntuhkan peradaban yang telah susah payah dibangun manusia.


Hubungan Iman dan Amal Shaleh

Amal Sholeh merupakan wujud dari keimanan seseorang. Artinya orang yang beriman kepada Allah swt harus menampakan keimanannya dalam bentuk amal sholeh. sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya yang artinya:

(4) Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya; (5) kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. (6) kecuali orang-orang yang BERIMAN dan BERAMAL SHOLEH (mengerjakan kebajikan) , maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya. [QS At-Tin 95:4-6]

Iman dan Amal Sholeh ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Mereka bersatu padu. Satu sisi ada dan satu sisi lainnya tidak ada, begitu sebaliknya, maka dia tidak berharga sama sekali. Iman tanpa Amal Sholeh juga dapat diibaratkan pohon tanpa buah.

Dengan demikian seseorang yang mengaku beriman harus menjalankan keislamannya, begitu pula orang yang mengaku Islam harus menyatakan keislamannya. Iman dan Islam seperti bangunan yang kokoh didalam jiwa karena diwujudkan dalam bentuk amal sholeh yang menunjukkan nilai-nilai keislaman.


Hubungan Amal dan Ilmu

Hubungan ilmu dan amal dapat difokuskan pada dua hal. Pertama, ilmu adalah pemimpin dan pembimbing amal perbuatan. Amal yang lurus dan berkembang bila didasari dengan ilmu. Dalam semua aspek kegiatan manusia harus disertai dengan ilmu baik itu yang berupa amal ibadah atau amal perbuatan lainnya, sebagai mana sebuah hadits Rasul saw yang artinya:

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan Dunia, maka wajib baginya memiliki Ilmu. Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat, maka wajib memiliki Ilmu. Dan barangsiapa menghendaki keduanya, maka wajib baginya memiliki Ilmu”. [HR Turmudzi].

Dengan begitu maka tujuan amal yang dikehendaki seseorang mesti dicapai dengan ilmu. Amal ini akan mempunyai nilai jika dilandasi dengan ilmu. Begitu juga dengan ilmu akan mempunyai nilai atau makna jika diiringi dengan amal. Keduanya tidak dapat dipisahkan dalam perilaku manusia. Sebuah perpaduan yang saling melengkapi dalam kehidupan manusia yaitu setelah berilmu lalu beramal.

Ajaran Islam sebagai mana tercermin dari Al-Qur'an sangat kental dengan nuansa - nuansa yang berkaitan dengan ilmu, ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam. Keimanan yang dimiliki oleh seseorang akan jadi pendorong untuk menuntut ilmu, sehingga posisi orang yang beriman dan berilmu berada pada posisi yang tinggi dihadapan Allah yang berarti juga rasa takut kepada Allah akan menjiwai seluruh aktivitas kehidupan manusia untuk beramal shaleh.

Dengan demikian nampak jelas bahwa keimanan yang dibarengi dengan ilmu akan membuahkan amal yang amal shaleh. Maka dapat disimpulkan bahwa keimanan dan amal perbuatan beserta ilmu membentuk segi tiga pola hidup yang kokoh. Ilmu, Iman dan Amal Shaleh merupakan faktor menggapai kehidupan bahagia.

Tentang hubungan antara Iman dan Amal, diterankan sebagaimana sabda Rasulullah saw yang artinya: “Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman”.  [HR Ath-Thabrani]. Kemudian dijelaskannya pula bahwa: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”, [HR Ibnu Majah dari Anas, dan HR Al Baihaqi]. Selanjutnya, suatu ketika seorang sahabatnya, Imran, berkata bahwasanya ia pernah bertanya kepada Rasulullah saw: "Wahai Rasulullah, amalan-amalan apakah yang seharusnya dilakukan orang-orang?" Beliau saw menjawab: “Masing-masing dimudahkan kepada suatu yang diciptakan untuknya”, [HR Bukhari] “Barangsiapa mengamalkan apa yang diketahuinya, niscaya Allah mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya”, [HR. Abu Na’im]. “Ilmu itu ada dua, yaitu ilmu lisan, itulah hujjah Allah Ta’ala atas makhluk-Nya, dan ilmu yang di dalam qalb (qalbu, hati, kesadaran), itulah ilmu yang bermanfaat”, [HR At-Tirmidzi]. “Seseorang itu tidak menjadi ‘alim (ber-ilmu) sehingga ia mengamalkan ilmunya”, [HR Ibnu Hibban].

Suatu ketika datanglah seorang sahabat kepada Nabi saw dengan mengajukan pertanyaan: “Wahai Rasulullah, apakah amalan yang lebih utama?” Jawab Rasulullah saw: “Ilmu Pengetahuan tentang Allah!” Sahabat itu bertanya pula “Ilmu apa yang Nabi maksudkan?” Jawab Nabi saw: “Ilmu Pengetahuan tentang Allah Subhanaahu wa Ta’ala!” Sahabat itu rupanya menyangka Rasulullah saw salah tangkap, ditegaskan lagi “Wahai Rasulullah, kami bertanya tentang amalan, sedang Engkau menjawab tentang Ilmu!” Jawab Nabi saw pula “Sesungguhnya sedikit amalan akan berfaedah (berguna) bila disertai dengan ilmu tentang Allah, dan banyak amalan tidak akan bermanfaat bila disertai kejahilan tentang Allah”, [HR Ibnu Abdil Birr dari Anas]. Kejahilan adalah kebodohan yang terjadi karena ketiadaan ilmu pengetahuan.

Dengan demikian, banyak amal setiap orang menjadi sangat berkaitan dengan keimanan dan ilmu pengetahuan karena “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, niscaya mereka diberi petunjuk oleh Rabb (Tuhan) kerana keimanannya”, [QS Yūnus 10:9].

Ilmu pengetahuan tentang Allāh Subhanāhu wa Ta’āla adalah penyambung antara keimanannya dengan amalan-amalan manusia di muka bumi ini. Sebagaimana kaedah pengaliran iman yang diajarkan oleh Rasulullah saw, bahwasanya iman adalah sebuah tashdiq bil-qalbi (dari hati) yang di ikrarkan bil-lisan (dengan ucapan) dan di amalkan bil-arkan (berdasar rukun, prinsip dan dasar keislaman). Dengan itu di simpulkan bahawa kita jangan memisah ketiga komponen menjadi “berjalin berkelindan” yang telah kita perhatikan tadi (iman, ilmu dan amal) karena pemisahan setiap komponen menjadikan Islam itu janggal.


BAGAIMANA SAMPAI BERJALIN BERKELINDAN
ANTARA IMAN, ILMU DAN AMAL


Kaitan Antara Iman, Ilmu dan Amal


D
alam sejarah kehidupan manusia, Allah swt memberikan kehidupan yang sejahtera, bahagia, dan damai kepada semua orang yang mau melakukan amal kebaikan yang diiringi dengan iman, dengan yakin dan ikhlas karena Allah swt semata, lihat surat  Ath-Thalāq, surat ke-64, ayat 2 dan 3: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya…Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu”.

Perbuatan baik seseorang tidak akan dinilai sebagai suatu perbuatan amal sholeh jika perbuatan tersebut tidak dibangun diatas nilai iman dan takwa, sehingga dalam pemikiran Islam perbuatan manusia harus berlandaskan iman dan pengetahuan tentang pelaksanaan perbuatan.


Sumber Ilmu Menurut Ajaran Islam

Sumber-sumber menurut ajaran (paradigma) Islam sebagai berikut:

● Wahyu, yaitu sesuatu yang dibisikkan dan diilhamkan ke dalam sukma (jiwa, qalb, kalbu, hati) serta isyarat cepat yang lebih cenderung dalam bentuk rahasia atau tanda-tanda yang disebut ayat (ayat-ayat, firman-Nya dalam Kitab Suci Al-Qur’an) Allah swt - “Qur’aniyah”.

● Akal (‘aql), yaitu suatu kesempurnaan manusia yang diberikan oleh Allah swt untuk berpikir dan menganalisa semua yang ada dan wujud diatas dunia yang disebut ayat (ayat-ayat, tanda-tanda yang ada di alam semesta) Allah swt - “Kauniyah”.


Allah swt akan mengangkat harkat dan martabat manusia yang beriman kepada Allah swt dan berilmu pengetahuan luas, yang diterangkan dalam surat Al-Mujadālah, surat ke-58 ayat 11. Yang isinya bahwa: Allah akan mengangkat tinggi-tinggi kedudukan orang yang berilmu pengetahuan dan beriman kepada Allah swt, orang yang beriman diangkat kedudukannya karena selalu taat melaksanakan perintah Allah swt  dan Rasul-Nya, sedangkan orang yang berilmu diangkat kedudukannya karena dapat memberi banyak manfaat kepada orang lain.

Islam tidak menghendaki orang ‘alim (berilmu) yang digambarkan seperti lilin, mampu menerangi orang lain sedang dirinya sendiri hancur. Ini besar sekali dosanya, karena dapat memberitahu orang lain, sementara dirinya sendiri tidak mengerjakannya, [QS Ash-Shaff 61:3]. Padahal dan semestinya orang ‘alim (pandai, berilmu)  hendaknya menjadi contoh dan teladan bagi orang lain, dan dibawah naungan dan lindungan Allah swt, [QS Al-Mujādalah 58:11].

Iman, ilmu dan amal merupakan satu kesatuan yang utuh yang telah berjalin berkelindan - tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya.


Hubungan Antara Iman, Ilmu dan Amal Dalam Kehidupan

Sumber pokok ilmu pengetahuan menurut Islam adalah wahyu dan akal yang keduanya tidak boleh dipertentangkan karena manusia diberi kebebasan dengan mengembangkan akalnya dengan catatan dalam pengembangan tersebut tetap, terikat dengan wahyu dan tidak akan bertentangan dengan syariat Islam. Sehingga ilmu pengetahuan dibagi menjadi 2 bagian besar yaitu ilmu yang bersifat abadi yang tingkat kebenarannya bersifat mutlak dan ilmu yang bersifat perolehan yang tingkat kebenarannya bersifat nisbi.

Menuntut ilmu pengetahuan dan mendalami ilmu agama bertujuan untuk mencerdaskan umat dan mengembangkan agama Islam agar dapat disebarluaskan dan dipahami oleh  masyarakat. Tiga macam kewajiban ilmu pengetahuan bagi orang mukmin:

● Menuntut ilmu (belajar), mulai dari buaian sampai liang lahat,
● Mengamalkan ilmunya yang telah dipelajarinya,
● Bagi yang berilmu, mengajarkan kepada orang lain tanpa pilih kasih.

Kewajiban menuntut ilmu fardhu ‘ain - dalam bidang agama, karena agama merupakan sistem hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Allah juga memberikan tuntunan agar motivasi dan niat belajar serta menuntut ilmu itu hanya semata-mata karena Allah swt, seperti yang disebutkan firman-Nya dalam Kitab Suci Al-Qur’anyang artinya:

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmu lah yang Maha Mulia,
4. Yang mengajar (manusia) dengan pena,
5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. [QS Al-‘Alaq 96:1-5]

Dalam ayat lain Allah swt menyuruh manusia untuk memperdalam ilmu pengetahuan, yang terdapat dalam Firman Allah swt yang artinya:

Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. [QS An-Nahl 16: 43].

Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Mencari ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan”. [HR Ibnu Majah]

Adapun kewajiban menuntut ilmu ada dua macam, yaitu:

Fardhu ‘Ain, yaitu kewajiban menuntut ilmu yang terkait dengan individu muslim tentang pokok-pokok ajaran agama yang termasuk dalam rukun Islam (ibadah mahdhah) atau ibadah khusus lainnya seperti rukun iman.

Fardhu Kifayah, yaitu kewajiban menuntut ilmu yang keberadaannya terkait dengan kepentingan masyarakat muslim dan masyarakat umum. Kewajiban ini tidak mutlak seluruh ilmu mesti dikuasai (melainkan bidang yang ia ingin kuasai saja sehubungan dengan pekerjaan atau minatnya). Dalam pengertian khusus, apabila ilmu yang diperlukan sudah terpenuhi, ditekuni oleh sejumlah ilmuan sehingga kebutuhan masyarakat tercukupi, maka terlepaslah kewajiban menuntut ilmu tersebut. Akan tetapi apabila masih kekurangan sehingga jalannya pembangunan masyarakat akan terganggu, maka kewajiban tersebut masih ada dan menjadi tanggung jawab keseluruhan untuk mencukupinya.

Menuntut ilmu adalah hal yang wajib yang dilakukan manusia untuk memperluas wawasan sehingga derajat kita pun bisa terangkat. Ilmu juga membantu memecahkan kebutuhan dan persoalan hidupnya. Menuntut ilmu merupakan ibadah sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw yang artinya: Menuntut ilmu diwajibkan diatas orang Islam laki-laki maupun perempuan”.

Menurut Hadits Riwayat Al-Baihaqi, “Betapa wajib dan pentingnya hubungan sinerji antara iman, ilmu, dan amal perbuatan, sehingga mencari ilmu dalam kondisi apapun dalam orang mukmin merupakan suatu kewajiban yang tidak bisa diabaikan serta dalam mengamalkannya yang dilandasi iman karena Allah swt. Karena itu ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah yang dicari itu bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat.

Dengan itu ada kesungguhan bagi yang menuntutnya karena dorongannya hanya satu yaitu perintah Allah swt.




KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU DAN TEKNOLOGI
SERTA TANGGUNG JAWAB
TERHADAP ALAM DAN LINGKUNGANNYA


Konsep ilmu pengetahuan dan teknologi


I
lmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasikan, diorganisasi, disistematisasi dan diinterpretasi yang dapat menghasilkan kebenaran obyektif, serta sudah diuji kebenarannya dan dapat juga diuji ulang secara ilmiah.

Menurut Dr. Abdul Razzaq Nauval dalam bukunya “Al-Muslimun wal Ilmul Hadits” yang meneliti firman Allah swt yang artinya:

Wahai golongan Jin dan Manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan “sulthōn”, [QS Ar-Rahman 55:33].

Sulthōn disini adalah adalah ilmu pengetahuan dan kemampuan yang canggih. Yaitu, dari aplikasi ilmu menjadi teknologi seperti abad ini. Jadi surat Ar-Rahman ayat 33 ini memberikan isyarat kepada manusia bahwa mereka tidak mustahil menembus ruang angkasa, bila ilmu pengetahuan dan teknologi (IpTek)-nya memadai.

Umat Islam berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan itu pada abad pertengahan karena didorong oleh Al-Qur’anul Karim ini, dan sebetulnya umat Islam sejak turunnya Al-Qur’an pertama kali, [QS Al-‘Alaq 96:1-5] sudah dianjurkan untuk belajar dan juga untuk memakmurkan bumi, [QS Hūd 11:61] dengan cara meneliti dan sekaligus menjelajahi ruang angkasa demi kepentingan hidup umat manusia itu sendiri. Kitab Al-Qur’an dalam memberikan petunjuk secara implisit sebagai Firman-Nya yang disebutkan dalam surat Al-‘Alaq ayat 1 s/d 5 dan surat Ar-Rahman ayat 33. Dengan itu Ilmu dan Teknologi sebagai modal dasar kepada ilmuwan dan teknokrat berupa akal dan pikiran serta “sumber daya alam” untuk digali, dikaji, dan diolah sehingga dapat memberikan manfaat bagi kehidupan umat manusia pada umumnya.


Teknologi Moderen Merupakan Terapan Praktis Ilmu Pengetahuan

Ilmu ini bersifat netral, artinya bahwa teknologi dapat digunakan untuk pemanfaatan sebesar-besarnya atau bisa juga digunakan untuk kehancuran dalam semua segi kehidupan umat manusia. Al-Ghazali mengatakan bahwa barang siapa berilmu, mau mempraktekkan dan membimbing manusia dengan ilmunya bagaikan matahari. Selain menerangi dirinya juga menerangi orang lain dan bagaikan minyak kasturi yang harum yang menyebarkan keharumannya kepada orang lain yang berpapasan dengannya.

Allah yang maha kuasa lagi maha menentukan segala sesuatu mengajarkan manusia agar memperhatikan burung-burung yang sedang berada diangkasa, bahkan Allah juga bertanya siapa yang mengajarkan burung itu terbang mengembangkan sayapnya dan siapakah yang menciptakan burung itu dengan bentuk tertentu sehingga mampu terbang dan tidak jatuh ke bumi, [QS Al-Mulk 67:19]. Bahwa tentu tidak mustahil bagi manusia untuk bisa terbang apabila di lengkapi dengan alat, sebab akal manusia yang akhirnya mampu menciptakan dan membut pesawat udara dan alat lain yang dapat menerbangkan dirinya sendiri dan juga benda-benda berat di ruang angkasa.

Hakikat ilmu bukanlah sekedar pengetahuan atau kepandaian, tapi juga penerapan yang   dapat dapat di pakai untuk memperoleh sesuatu tetapi merupakan cahaya dan “nur illahiyah” yang dapat menerangi jiwa untuk berbuat dan bertingkah laku yang baik sehingga tidak menjadi masalah dan tidak ada perbedaan antara ilmu umum dan ilmu agama karena selama semuanya bersinergi menuju kepada iman dan taqwa kepada allah swt.


Kewajiban Manusia Menjaga Alam Lingkungan Hidup

Kewajiban manusia menjaga alam Lingkungan Hidup dari kerusakan (fasad) dengan firman-Nya yang artinya: “Dan apabila dia berpaling, dia berusaha untuk untuk berbuat kerusakan di dibumi, serta merusak tanaman dan ternak, sedangkan Allah tidak menyukai kerusakan (liyufsida, fasad)”, [QS Al-Baqarah 2:205]; “Dan mereka berusaha (menimbulkan kerusakan di bumi. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”, [QS Al-Maidah 5:64].

Pencipta Alam Semesta – Allāhu Rabbul Ālamīn memerintahkan kepada semua umat Islam untuk memperhatikan semua dengan seksama agar dapat mengakui bahwa pencipta-Nya dapat membangkitkan manusia kembali pada asal mulanya, dengan melalui perenungan terhadap fenomena alam, diharapkan dapat menyadarkan manusia akan kemahakuasaan Sang Penciptanya, [QS Yā Sīn 36:78-79]. Orang yang ingkar supaya memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah swt yang bertebaran di langit dan dibumi agar dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran bersama umat manusia, bukan untuk dirusak.


Kerusakan Alam Sebab Perbuatan Manusia Yang Mesti Dicegah

●  Fungsi Manusia sebagai hamba Allah adalah menjalankan ketaatan, ketundukan dan kepatuhan manusia kepada kebenaran dan keadilan Allah swt.

● Sebagai Khalifah di bumi adalah manusia mempunyai tanggung jawab untk menjaga keseimbangan alam dan lingkungan tempat mereka bertempat tinggal.

Firman Allah swt yang artinya:

(41) “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar, tidak merusak lagi)”;

(42) Katakanlah, “Bepergianlah di Bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (antara yang bathil (salah, merusak) dan haq (benar, membangun, memelihara)” [QS Ar-Rum 30:41-42]

Maksud dari firman Allah tersebut adalah orang beriman yang berilmu meneliti dan mengkaji tentang kerusakan tersebut disebabkan penduduknya kufur dan tidak dapat mensyukuri nikmat yang diberikan dan pemberitauan dan peringatan oleh Allah kepada manusia, untuk itulah bersyukur kepada Allah hukumnya wajib dikerjakan. Untuk mengurangi dan menghindari dari kerusakan yang merajalela dimuka bumi dan di laut itu, hendaklah manusia berpegang kepada ajaran Allah dan kembali kepada tuntutan agama yang benar yaitu ajaran islam yang sempurna fungsi dan kemanfaatannya bagi kehidupan dan kelestarian alam ini sehingga selamat dan sejahtera baik di dunia maupun akhiratnya.


PENUTUP


W
ahai golongan Jin dan Manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan “sulthōn”, [QS Ar-Rahman 55:33].  Sulthōn disini adalah adalah ilmu pengetahuan dan kemampuan yang canggih. Yaitu, dari aplikasi ilmu menjadi teknologi seperti abad ini. Jadi surat Ar-Rahman ayat 33 ini memberikan isyarat kepada manusia bahwa mereka tidak mustahil menembus ruang angkasa, bila ilmu pengetahuan dan teknologi (IpTek)-nya memadai.

Ajaran Islam sebagai mana tercermin dari Al-Qur'an sangat kental dengan nuansa - nuansa yang berkaitan dengan ilmu, ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam. Keimanan yang dimiliki oleh seseorang akan jadi pendorong untuk menuntut ilmu, sehingga posisi orang yang beriman dan berilmu berada pada posisi yang tinggi dihadapan Allah yang berarti juga rasa takut kepada Allah akan menjiwai seluruh aktivitas kehidupan manusia untuk beramal shaleh.

Dengan demikian nampak jelas bahwa keimanan yang dibarengi dengan ilmu akan membuahkan amal yang amal shaleh. Maka dapat disimpulkan bahwa keimanan dan amal perbuatan beserta ilmu membentuk segi tiga pola hidup yang kokoh. Ilmu, Iman dan Amal Shaleh merupakan faktor menggapai kehidupan bahagia.

Umat Islam berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan itu pada abad pertengahan karena didorong oleh Al-Qur’anul Karim ini, dan sebetulnya umat Islam sejak turunnya Al-Qur’an pertama kali, [QS Al-‘Alaq 96:1-5] sudah dianjurkan untuk belajar dan juga untuk memakmurkan bumi, [QS Hūd 11:61] dengan cara meneliti dan sekaligus menjelajahi ruang angkasa demi kepentingan hidup umat manusia itu sendiri. Kitab Al-Qur’an dalam memberikan petunjuk secara implisit sebagai Firman-Nya yang disebutkan dalam surat Al-‘Alaq ayat 1 s/d 5 dan surat Ar-Rahman ayat 33. Dengan itu Ilmu dan Teknologi sebagai modal dasar kepada ilmuwan dan teknokrat berupa akal dan pikiran serta “sumber daya alam” untuk digali, dikaji, dan diolah sehingga dapat memberikan manfaat bagi kehidupan umat manusia pada umumnya.

Menurut Hadits Riwayat Al-Baihaqi, “Betapa wajib dan pentingnya hubungan sinerji antara iman, ilmu, dan amal perbuatan, sehingga mencari ilmu dalam kondisi apapun dalam orang mukmin merupakan suatu kewajiban yang tidak bisa diabaikan serta dalam mengamalkannya yang dilandasi iman karena Allah swt. Karena itu ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah yang dicari itu bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat.

Dengan itu ada kesungguhan bagi yang menuntutnya karena dorongannya hanya satu yaitu perintah Allah swt.

Demikianlah uraian dari tajuk “Hubungan Iman Ilmu Amal Dalam Islam” yang dengan itu banyak pelajaran dan teladan yang kita terima yaitu bagaimana kita dapat membangun kebaikan dan menghindarkan kerusakan (keburukan ) melalui Iman-Ilmu-Amal yang diajarkan Islam kepada kita, bil Lāhi Taufiq wal-Hidayah. □ AFM



Sumber penulisan dari:
lucki72.blogspot.co.id
jendelailmu-faisal.blogspot.com
bedahbuku-faisal.blogspot.com
dan sumber-sember lainnya. □□□