Sunday, September 4, 2016

Akar Masalah Palestina dan Israel 2




Kita bisa memenangkan suatu “tujuan” dengan “kelicikan”, tetapi kita tidak bisa hidup dengan tenang dan damai melalui “kelicikan”. [A. Faisal Marzuki]


T

heodor Herzl dan usaha pendirian Negara Israel melalui Zionisme. Zionisme Herzl adalah sebuah gerakan politik bukan agama, ini yang membedakannya dengan Zionisme Herzl yang menganut Yudaisme. Pada dasarnya, tidak semua Yahudi merupakan Zionis, meskipun Zionis merupakan gerakan yang didirikan oleh salah seorang keturunan Yahudi. Untuk itu penulis ingin menyajikan fakta sejarah, yang membuktikan bahwa Zionisme merupakan suatu hal berbeda dengan Yahudi.


Biografi Singkat Theodor Herzl

Theodor Herzl lahir di Budapest, Hungaria pada 2 Mei 1960, ia merupakan anak kedua dari pasangan Jacob and Jeanette Herzl. Jacob Herzl (1836–1902) merupakan seorang Yahudi asal Serbia. Ia adalah seorang pengusaha Yahudi sukses pada masanya. Theodor mempunyai satu saudara perempuan bernama Pauline Herzl, yang lebih tua satu tahun dari dirinya. Namun, Pauline meninggal pada 7 Februari 1878, akibat sakit tifus.

Pada tahun 1878, Theodor masuk jurusan Hukum di Universitas Wina, tetapi setelah satu tahun kuliah di jurusan hukum, ia memutuskan untuk beralih ke jurusan jurnalistik. Setelah menyelesaikan studinya, ia bekerja untuk Allgemeine Zeitung of Vienna sampai tahun 1892. Setelah itu ia kemudian mengambil tugas di Paris sebagai koresponden Vienna Neue Freie Presse. Dalam kapasitasnya sebagai koresponden ia membuat laporan tentang kasus Dreyfus pada 1894.

Kapten Alfred Dreyfus, seorang perwira Yahudi di tentara Perancis, yang secara tidak adil dituduh melakukan pengkhianatan, terutama karena pada saat itu atmosfer anti-Semit yang begitu kuat. Theodor menyaksikan masa berteriak “Matilah orang-orang Yahudi” di Perancis, ia sangat terganggu atas sikap anti-semit tersebut, dan memutuskan bahwa hanya ada satu solusi: imigrasi massal orang Yahudi ke tanah yang dapat mereka sebut milik mereka sendiri. Dengan demikian, kasus Dreyfus menjadi salah satu penentu dalam genesis Politik Zionisme.


Pendirian World Zionist Organization

Pada tahun 1896, Herzl memulai karir politiknya dengan melakukan publikasi pamflet berjudul “the Jewish state: an attempt at a modern solution of Jewish question”. – “Negara Yahudi: Sebuah upaya solusi modern masalah Yahudi”. Kemudian pada tahun yang sama, ia membuat doktrin yang sistematis di dalam bukunya yang berjudul “Negara Yahudi” (Der Jundenstaat), Herzl percaya bahwa orang-orang Yahudi hanya memiliki sedikit pilihan selain untuk memulai mengumpulkan orang-orang Yahudi di satu wilayah yang mempunyai otoritas kedaulatan sendiri.

Untuk mencapai tujuan ini, ia menyelenggarakan Kongres Zionis Pertama, yang berlangsung di Basel, Swiss, pada bulan Agustus 1897. Pertemuan ini menandai berdirinya Organisasi Zionis Dunia, yang mana eksekutif organisasi ini menjadi perwakilan diplomatik dan administrasi gerakan Zionis dunia. Herzl menjadi presiden organisasi tersebut, dan  menempati posisi tersebut hingga kematiannya.


Usaha Pendirian Negara Israel

Zionisme merupakan suatu gerakan politik, yang sangat berbeda dengan Yudaisme Yahudi yang hanya berfokus pada kegiatan spiritual dan tidak mengenal program politik apapun. Zionisme sebagai gerakan politik, mempuyai prinsip-prinsip dan kepentingan yang berhubungan dengan kekuasaan. Pertama-tama, berlawanan dengan Yudaisme sebagai sebuah gerakan keagamaan, Herzl dalam pandangan-pandangan yang dikemukakannya, bersikap mengingkari agama secara radikal serta menentang dengan keras, semua orang yang merumuskan Yudaisme sebagai sebuah agama.

Dari prespektif Zionis, orang-orang yahudi merupakan sebuah bangsa. Hal ini dirasa masuk akal, karena perhatian utama Herzl sendri bukanlah menyangkut masalah keagamaan, tetapi justru masalah-masalah yang bersifat politik. Pola pikir tersebut dihasilkan setelah dirinya melihat langsung peristiwa Dreyfus. Sehingga ia bisa membuat kesimpulan:

Pertama: Orang-orang Yahudi, dimanapun juga mereka berada di permukaan bumi, di negara manapun juga mereka bertempat tinggal, akan tetap saja merupakan sebuah bangsa yang tunggal - (orang Yahudi dimana pun berada, tetap saja sebagai orang Yahudi).

Kedua: Mereka selamanya dan di mana saja selalu menjadi korban pengejaran.

Ketiga: Mereka sama sekali tidak dapat diasimilasikan oleh negara-negara di mana mereka telah bertempat tinggal sekian lamanya.


Sebagai implikasi dari ketiga kesimpulan ini, Herzl menginginkan tiga hal bagi bangsa Israel. Pertama, penolakan asimilasi di tengah bangsa Israel. Kedua, pendirian sebuah negara-bangsa Israel bagi orang-orang Yahudi yang berserakan di muka bumi. Negara-negara tersebut bukanlah kerajaan Tuhan, bukan pula pusat dakwah Yudaisme. Ketiga, Negara-Bangsa Israel harus didirikan di suatu daerah kosong atau dikosongkan.

Masalah terpenting dari ketiga poin di atas adalah daerah yang akan dijadikan negara bagi bangsa Israel tersebut. Inggris sebagai sekutu terdekat negara super power menawarkan negeri Uganda. Sementara, Baron Hirch menawarkan suatu daerah di Argentina. Namun, Herzl menolak kedua tawaran sekutu zionis tersebut. Ia lebih tertarik kepada Palestina, meskipun buka karena maksud atau demi niatan agama. Suatu hal pasti, Herzl ingin memanfaatkan Yudaisme sebagai bahan propaganda Zionisme.

Pilihan Herzl terhadap Palestina sebagai daerah bakal Negara Bangsa Israel sesungguhnya lebih didasarkan pada pertimbangan teknis. Pilihan terhadap Palestina diharapkan akan mengundang dukungan dari rabi-rabi Yahudi beserta kelompoknya. Karena, mereka merindukan berziarah ke tanah suci Zion, sekaligus memiliki harapan tentang terbentuknya kerajaan Tuhan. Seandainya hal ini terjadi, renacan mendirikan Negara-Bangsa Israel akan segera terlaksana dan terwujud. Herzl merasa kesulitan untuk mengajak bangsa Israel yang telah tersebar di Eropa, Asia, dan Afrika, dan Amerika untuk membangun kehidupan baru di negeri asing lain, seperti Uganda.

Demikian pembahasan Zionisme sebagai gerakan politik, organisasi yang dimotori oleh Theodor Herzl ini, merupakan pelopor dari ide pendirian negara Israel di tanah Palestina.


Pemikiran Theodor Herzl

T
heodor Herzl merupakan aktor sekaligus arsitek intelektual atas munculnya ide negara-negara Israel. Pada tahun 1896, Herzl berhasil merumuskan ideologi kebangsaan dan gagasan tentang sebuah negara merdeka bagi seluruh kaum Yahudi yang  tersebar di seluruh penjuru dunia. Tidak ada yang mengira seorang jurnalis, dapat berubah dengan cepat, menjadi seorang tokoh politik dan propaganda yang mempunyai jaringan dengan berbagai tokoh-tokoh dunia. Beberapa tokoh dunia itu antara lain Menteri Luar Negeri Jerman Von Bulow dan Kaisar Wilhelm II, Menteri Dalam Negeri usia Plehve, Kaisar Nicholas II, dan tentu saja Rothschild Family Presiden Federasi Yahudi Eropa.

Ide pembentukan negara untuk Yahudi ini, sebenarnya muncul ditengah semangat kebangkitan zionisme keagamaan yang diilhami tradisi Yudaisme. Pada batasan tertentu, Herzl memanipulasi Zionisme keagamaan kepada tujuan-tujuan politik keduniaan. Herzl menolak gagasan dan rumusan Yudaisme sebagai sebuah agama, sebagaimana yang diinginkan Zionisme keagamaan.

Ide Hezl ini kemudian dituangkan dalam sebuah buku berjudul. Der Judenstaat, yang berarti sebuah negara orang Yahudi. Buku ini dalam perkembangannya menjadi pedoman pendirian negara Israel. Namun tidak semua Yahudi mendukung ide Herzl ini. Protes yang ditujukan terhadap Zionisme, sebagai sebuah gerakan politik, telah disuarakan, bukan hanya para rabbi Yudaisme saja, tetapi juga beberapa orang Yahudi yang menjadi tokoh besar dunia: Einstein, Martin Buber, Presiden pertama Universitas Hebrew di Yerusalem, dan Prof. Judah L. Magnes.

Dikutip dari buku The Complete Diaries of Theodor Herzl yang ditulis Herzl sendiri, berbagai metode/strategi yang digunakan Herzl untuk melancarkan rencananya. Untuk menarik perhatian Yahudi yang ada di pedesaan, anda harus mengatakan kepada mereka beberapa cerita dongeng tentang kemungkinan mereka dapat memperoleh emas di sana(tanah negara Israel), ini salah satu metode yang digunakan Herzl agar Yahudi pedesaan mau berpindah tempat.

Di dalam buku tersebut, juga dijelaskan prosedur perencanaan untuk mendirikan suatu negara bagi bangsa Yahudi, yang terbagi menjadi tiga prosedur:

Prosedur Pertama: Penggalangan Dana besar-besaran melalului Sindikat lembaga-lembaga-lembaga keuangan.

Prosedur Kedua: Mulai dari mempublikasinya gagasan pindah ke tanah baru.  Usaha ini tanpa ada risiko apa-apa bagi anti-semit (Yahudi), malah suatau hal yang akan menggembirakannya. Dan ia akan berusaha mematahkan rintangan dari kaum oposisi liberal atas ancaman penggagalan rencananya.

Prosedur Ketiga: Melakukan Pendaftaran bagi yang berminat pindah ke tanah baru (Palestina)


Herzl juga tidak menyukai orang Yahudi yang dibaptis (memeluk agama Kristen), dan yang berasimilasi (anak hasil perkawinan campuran). Ia menyebut mereka dengan sebutan pengecut. Dalam tulisannya tersebut, ia mengatakan mereka akan tetap menerima manfaat lebih banyak dari mereka. Dalam menanggapi hal ini Herzl menyebut bahwa kaum mereka (zionis) adalah Yahudi yang beriman. Herzl mempunyai ide untuk menjadikan golongan anti-semit, sebagai teman yang bisa diandalkan untuk mencapai tujuan mereka, ia mengatakan negara anti-semit adalah sekutu mereka.

Hal ini didasari saat Herzl menyebarkan Propaganda pendirian negara Israel, tidak semua Yahudi menyetujui hal tersebut. Mereka yang tidak setuju akan hal itu, beranggapan bahwa pendirian negara Yahudi di Palestina akan mengakibatkan terjadinya pertikaian dengan penduduk asli yang telah mendiami tempat tersebut selama berabad-abad. Disamping itu gerakan Zionisme Herzl akan membangkitkan kecurigaan terhadap orang-orang Yahudi yang saat itu tersebar di seluruh dunia. Mereka akan dituduh mempunyai kesetiaan ganda dan kewarganegaraan yang rangkap.

Perlu diketahui pada saat itu iklim anti-semit (kebencian kepada bangsa-bangsa yang berasal dari timur-tengah, dalam hal ini bangsa Yahudi) di Eropa sedang memanas. Sehingga untuk melancarkan rencananya Herzl menggunakan negara-negara anti semit sebagai sekutu mereka. Strategi dengan menggunakan negara-negara anti semit ini, semata-mata agar Yahudi dapat berimigrasi secara terhormat. Dalam catatan harian Herzl tanggal 12 Juni 1895, mengatakan “It would be an excellent idea to call in respectable, accredited anti-semites as liquidators of property.” Maknanya dari perkataan Herzl itu adalah lebih kurang: bahwa dengan issu anti semit - anti kepada bangsa-bangsa yang berasal dari timur tengah, khususnya bangsa Yahudi sebenarnya ini kan menjadi ide yang sangat baik dan merupakan panggilan yang sungguh terhormat untuk memperoleh kembali tanah “asal”-nya, Palestine.

Pada tahun 1905, kota Kishinev berlangsung anarkisme yang mengakibatkan 50 orang Yahudi mati dan 200 orang luka-luka. Anehnya pemerintah Rusia tidak memberikan perlindungan, bahkan sejumlah oknum telah mendalangi peristiwa ini. Dalam ketidakpastian ini, lagi-lagi bangsa Yahudi dipaksa untuk menginggalkan rumah dan harta benda mereka guna mengadakan pengembaraan ke daerah baru. Di antara mereka, ada yang melarikan diri menuju Eropa Barat, Amerika, dan sebagian lainnya memilih pindah ke Palestina. Selama rentang masa antara tahun 1881 hingga 1914 diperkirakan sekitar 2,6 juta orang Yahudi keluar dari daerah kekaisaran Rusia.


Siapa yang menyangka, Herzl termasuk salah seorang propagandis anti semit di benua Eropa. Namun, pandangan Herzl tidak didasari sikap benci kepada Yahudi, melainkan memanfaatkan anti semit untuk mewujudkan rencananya. Herzl menganggap iklim demokratis dan toleran di Eropa dianggap tidak baik bagi rencana pembentukan negara Israel. Jika kita menggunakan logika, kita dapat memahami pemikiran Herzl ini. Kesejahteraan bangsa Yahudi di Eropa adalah penghalang utama bagi kepindahan masal mereka kelak ke Palestina. Sehingga ia memutuskan untuk menggunakan gerakan anti–semit, untuk menciptakan keresahan, ketidaknyamanan, dan ketakutan kaum Yahudi. Sehingga dengan kondisi seperti ini, bangsa Yahudi akan mendukung gerakan Zionisme untuk mendirikan suatu negara di Palestina.

Berikut dukungan Baron Chlomecki, ketua Parlemen Austria kepada Herzl

If your intention and the objective of your propaganda is to foster anti-Semitism, you may reach this objective. I am absolutely convinced that by such propaganda anti-Semitism will grow and that you will bring a bloodbath upon Jewry.


Jika niat anda dan tujuan segala propaganda yang anda lakukan adalah untuk menumbuhkan dan mengembangkan anti semit, maka dapat dicapai sasaran itu. Saya sepenuhnya yakin bahwa melalui segala macam propaganda yang demikian itu anti-semit akan tumbuh dan berkembang dan pada akhirnya anda akan menimbulkan pertumpahan darah pada segala yang menyangkut dengan keyahudian.
Kita dapat menelaah bagaimana strategi Herzl menggunakan anti-semit untuk memuluskan tujuannya dapat dikatakan berhasil. Karena setelah iklim anti-semit semakin memanas di Eropa, maka perpindahan Yahudi dari Eropa pun tidak dapat terelakkan. Dengan demikian Yahudi yang pada awalnya menolak gagasan pendirian negara Israel, perlahan-lahan akan mendukungnya. Demikian ulasan bagaimana pemikiran Herzl, dalam memanfaatkan iklim anti-semit di Eropa, sebagai senjata bagi pendirian Negara Israel.

Kejadian ini memberikan masukan pengetahuan kita bersama tentang gerakan Zionisme dan duduk soal hadirnya Negara Israel ini. Dengan itu kita dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga dari peristiwa yang dicatat oleh sejarah perjalan suatu bangsa.

Demikianlah hal ikhwal dari pendirian Negara Israel di tanah Palestina. Selanjutnya pertikaian atau perang yang tidak seimbang dan berdarah-darah yang memakan korban “sejuta manusia” sampai detik ini belum ada yang sanggup memecahkannya, kendatipun negara-negara besar, terhormat, kuat, dan beradab sekalipun. Bahkan Dewan Keamanan Dunia, PBB yang terhormat yang mempunyai kekuasaan untuk itu - semestinya punya rasa malu, dengan belum atau tidak dapat mendamaikannya yang sudah hampir tujuh decade ini. Mudah-mudahan kedepan, Insya Allah, ada jalan keluar yang damai. Wallahu ‘Alam bish-Shawab. Billahi Taufiq wal-Hidayah. [AFM]




Daftar Kepustakaan:

Bakar, Abu. 2008. Berebut Tanah Suci Palestina (Yogyakarta: Insan Madani).
Coleman, John. 2013. Rohschild Dynasti: Mengungkap Garis Keturunan Zionis dan Strategi Nenek Moyang Mereka dalam Mengendalikan Dunia (Jakarta: Change Publication).
Garaudy, Roger. 1988. Zionis Sebuah Gerakan Keagamaan dan Politik (Jakarta: Gema Insani).
Hermawati. 2005. Sejarah Agama dan Bangsa Yahudi (Jakarta: Raja Grafindo Persada).
Herzl, Theodor. 1961. The Complete Diaries of Theodor Herzl (New York: Jewish Agency).
__________. 1988. The Jewish State (New York: Dover Publications)
Khalidi, Whalid. 1991. Before Their Diaspora: A Photographic of Palestians, 1876-1948, (Washington: Institute for Palestine Studies)
Kuncahyono, Trias. 2010. Jerusalem: Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir (Jakarta: Gramedia)
M. Lapidus, Ira. 2000. Sejarah Sosial Umat Islam bagian ketiga (Jakarta: RajaGrafindo Persada).
Schoenman, Ralph. 2013. Di Balik Sejarah Zionisme (Yogyakarta: Mata Padi Presindo).

Jurnal
Jeffrey M. Bale, “political Paranoia v. Political Realism: on sitinguishing between bogus conspiracy theories and genuene conspiratorial politics,” Patterns of Prejudice, Vol. 41, No. 1, 2007,
Khan, Mubasshir. 2015. Anti Semitism: a weapon of Zionism dalam Asian Journal of Multidisciplinary Studies, (online) Vol 3, (www.ajms.co.in diakses 17 Maret 2016).

Sumber:

http://wawasansejarah.com/theodor-herzl-dan-negara-israel-part-1/
http://wawasansejarah.com/theodor-herzl-dan-negara-israel-part-2/
https://id.wikipedia.org/wiki/Semit[][][]

Akar Masalah Palestina dan Israel 1




Kita bisa menundukkan orang dengan “ujung pisau bayonet”, tapi kita tidak bisa duduk dengan dengan baik diatas “ujung pisau bayonet” [Pepatah Lama]


M
emasuki akhir abad ke-19, isu mengenai perpindahan Yahudi Eropa menjadi isu hangat dunia. Dengan semangat anti semitisme (tidak suka bangsa-bangsa di Eropa terhadap bangsa Yahudi yang tinggal di negara-negara Eropa) yang masih berkobar di Eropa, organisasi Zionis dunia mencoba mencari wilayah untuk mendirikan negara Yahudi. Pada waktu itu Palestina menjadi tujuan utama pendirian negara untuk Yahudi. Herzl merupakan tokoh utama dalam pergerakan Organisasi Zionis Dunia yang mempunyai hubungan dengan beberapa tokoh dunia. Meskipun begitu usahanya untuk mendirikan negara Yahudi di Palestina, tidak serta merta berjalan mulus. Ketika ia mencoba untuk merebut tanah Palestina, ia bertemu dengan sosok yang menjadi penghalang terbesarnya untuk merebut tanah Palestina, sosok tersebut adalah Sultan Abdul Hamid II. Waktu itu tanah Palestina dibawah kekuasaan Imperium Utsmani (Ottoman Empire, Kekhalifahan Utsmaniyyah)

Sultan Abdul Hamid II dapat dikatakan sebagai sultan Utsmani terakhir yang mempunyai otoritas penuh sebagai sultan, dia merupakan Sultan yang ingin mempertahankan  Imperium Utsmani yang pada saat itu mengalami kemunduruan. Abdul Hamid II dikenal dengan kepribadiannya yang tegas dan sangat menentang pemikiran-pemikiran Barat, sehingga dapat dikatakan dia seakan menjadi benteng terakhir Khilafah Utsmaniyah. Pada pembahasan kali ini akan memaparkan lebih lanjut mengenai kebijakan-kebijakan yang diambil Sultan Abdul Hamid II dalam mengahadapi ancaman Zionis, yang ingin merebut tanah Palestina yang merupakan daerah kekuasaannya.

Biografi Singkat Sultan Abdul Hamid II

Abdul Hamid II lahir pada tahun 1842, dia merupakan putra dari Sultan Abdul Majid dan keponakan Sultan Abdul Aziz. Ayahnya merupakan sultan pertama dalam dinasti Utsmani yang menggalakan program Westernisasi pemerintah Utsmanis secara resmi, dengan menerapkan Farman At-Thanzimat (Dekrit Pengorganisasian), dalam pemerintahan tahun 1854 dan 1856. Pada dasarnya, Sultan Abdul Majid ketika itu tunduk kepada tekanan menterinya bernama Rasyid Pasya, yang mendapat model percontohannya dari Barat, dan menempatkan Freemasonry sebagai falsafahnya.

Ketika Abdul Hamid II masih kecil, dia diasuh oleh istri kedua ayahnya, karena ibu kandungnya meninggal ketika dia berusia 10 tahun. Ibu tirinya mendidiknya dengan baik, Abdul Hamid sangat terpengaruh dengan pendidikan ibu tirinya ini, dan kagum dengan sikap keberagamaannya yang selalu lembut dan tenang. Semua sifat-sifat ini tereflesikan dalam kehidupan sehari-hari Abdul Hamid II.

Dalam hal pendidikan, Sultan Abdul Hamid mendapat pendidikan reguler di dalam istana di bawah bimbingan orang-orang terkenal di zamannya, baik secara ilmu atau akhlak. Dia belajar bahasa Arab, dan Persia, belajar sejarah, mendalami ilmu tasawuf, dan mengarang beberapa syair dalam bahasa Turki. Selain di bidang pendidikan reguler, Abdul Hamid secara serius belajar menggunakan senjata. Dia sangat piawai menggunakan pedang, dan  senapan.

Ketika dia muda, dia sangat peduli dengan politik internasional, selain itu dia selalu mengikuti perkembangan berita mengenai situasi negerinya. Abdul Hamid II tumbuh dengan menyaksikan ayah, dan pengganti sesudahnya, yaitu pamannya Sultan Abdul Aziz melindungi program Westernisasi. Di samping itu, dia juga menyaksikan bagaimana ambisi negara-negara Eropa untuk menguasai Utsmani.

Sultan Abdul Hamid merupakan sultan Utsmani ke-34. Dia menduduki singgasana kekuasaan pada saat usianya menjelang 34 tahun, setelah menggantikan Sultan Murad V yang kondisi kejiwaannya tidak baik pasca memerintah selama 93 hari. Sultan Abdul Hamid II secara resmi mulai menjabat sebagai sultan pada tahun 1876, pada saat ketamakan negara-negara Barat untuk menguasai imperium Utsmani mencapai puncak tertinggi.

Dia memerintah dengan penuh ketegasan, dan kelembutan. Pada masa pemerintahannya dia mendukung seruan Pan-Islamisme untuk menandingi hegemoni sekuler Barat. Meskipun begitu, pemerintahannya harus berakhir tragis. Pada tanggal 27 April 1909, dia dipaksa turun dari tahtanya oleh golongan Turki Muda. Akhirnya, dia menghabiskan akhir hidupnya dalam pengasingan di Salonika, hingga meninggal pada 10 Februari tahun 1918.


Kebijakan Sultan Abdul Hamid II terhadap Organisasi Zionis Dunia

Sebelum Theodor Herzl beserta Organisasi Zionis Dunia muncul ke panggung perpolitikan dunia, Sultan Abdul Hamid II sebenarnya telah menyadari bahwa Yahudi merupakan ancaman yang sangat berbahaya bagi kedaultanan Utsmani. Untuk itu pada tanggal 28 Juni 1890, dan tanggal 7 Juli 1890, Sultan Abdul Hamid II mengeluarkan  dua instruksi penting; tidak boleh menerima orang-orang Yahudi di kerajaan-kerajaan Sasaniyah. Sementara yang kedua berisi kewajiban bagia semua menteri untuk melakukan studi beragam serta mengambil keputusan yang serius, dan tegas dalam masalah Yahudi tersebut.

Pada awalnya Baron Hirsch berambisi membentuk pemukiman Yahudi Rusia di Argentina, rencana ini berubah ketika Theodor Herzl selaku pemimpin Organisasi Zionis Dunia mengambil alih rencana tersebut, maka masalah pembentukan pemukiman tidak sekedar berkaitan dengan Yahudi Rusia saja, melainkan seluruh kaum Yahudi di dunia. Wilayah yang mereka tuntut pun bukan lagi Argentina melainkan Palestina. Palestina dalam mitos orang Yahudi merupakan tanah yang terjanjikan untuk mereka, di sana lah kerajaan Tuhan berada, Herzl ingin memanfaatkan mitos tersebut sebagai kekuatan politik untuk memperoleh dukungan dari bangsa Yahudi yang tersebar di seluruh dunia.

Untuk mewujudkan ambisinya Theodor herzl berhasil mendapatkan dukungan dari negara-negara Eropa seperti Jerman, Inggris, dan Italia. Dia menjadikan negara-negara ini sebagai penekan terhadap pemerintahan Utsmani, dan sarana pembuka untuk bisa menghadap Sultan Abdul Hamid II untuk membicarakan masalah Palestina. Pemerintahan Utsmani saat itu sedang dilanda krisis keuangan, ekonomi negeri tersebut benar-benar dalam kondisi yang memprihatinkan. Hal ini membuat sultan berusaha mencari solusi utuk mengatasi keterpurukan ekonomi tersebut.

Celah permasalah ekonomi  dilihat oleh Herzl, sebagai satu-satunya jalan masuk untuk bisa mempengaruhi kebijakan politik Sultan Abdul Hamid II terhadap orang-orang Yahudi. Hal ini diuangkapkan Herzl dalam buku hariannya: “Kita harus mengeluarkan uang sebanyak 20 juta lira untuk memperbaiki kondisi ekonomi Turki. 20 juta untuk Palestina, dan selebihnya untuk membebaskan Turki dari lilitan hutang-hutangnya, sebagai usaha awal untuk melepaskan dia dari delegasi Eropa. Oleh sebab itulah, kita akan memberikan keuangan kepada sultan setelah itu dengan pinjaman baru yang dia minta.”

Herzl terus menjalin komunikasi dengan para desicion maker negara-negara pendukungnya. Maksud dari komunikasi ini adalah untuk memberikan kesempatan berdialog langsung dengan Sultan Abdul Hamid II. Untuk tujuan ini, Lanado sahabat Herzl yang juga seorang Yahudi, memberikan saran padanya pada tanggal 21 Februari 1896, agar ia mengambil Neolanski pemimpin redaksi East Post, yang dikenal mempunyai hubungan dekat dengan Sultan Abdul Hamid II.

Mengenai hal ini Herzl mengatakan “Jika kita berhasil menguasai Palestina, maka kami akan membayar uang pada Turki dalam jumlah yang sangat besar dan kami akan memberikan hadiah dalam jumlah yang melimpah bagi orang yang menjadi perantara kami. Dan sebagian balasan dari ini, kami akan senantiasa bersiap sedia untuk membereskan masalah keuangan Turki. Kami akan mengambil tanah-tanah yang menjadi kekuasaan sultan sesuai dengan hukum yang ada. Walaupun sebenarnya mungkin tidak ada perbedaan antara milik umum, dan milik pribadi.”

Pada bulan Juni tahun 1896, Theodor Herzl berangkat menuju Istanbul. Pada kunjugannya ini, ia ditemani oleh Neolanski yang bertugas sebagai perantara untuk berdialog dengan sultan.  Akibat dari kunjungan ini, Neolanski berhasil menyampaikan proposal yang pandangan-pandangan Herzl ke istana Yaldaz. Pada saat itu terjadi dialog antara sultan dengan Neolanski.

Sultan Abdul Hamid II: “Apakah mungkin bagi orang-orang Yahudi untuk tinggal di tempat lain selain Palestina?”

Neolanski menjawab: “Palestina dianggap sebagai tanah tumpah darah pertama bagi orang-orang Yahudi, oleh karena itu orang-orang Yahudi sangat merindukan untuk bisa kembali ke tanah itu.”

Sultan: “Sesungguhnya Palestina tidaklah dianggap sebagai tempat kelahiran pertama bagi orang-orang Yahudi saja, namun juga oleh semua agama yang lain (Kristen dan Islam).”

Neolanski: “Orang-orang Yahudi tidak mungkin untuk mengambil Palestina, maka sesungguhnya mereka akan berusaha pergi dengan cara yang sangat sederhana untuk menuju Argentina.

Pasca dialog tersebut Sultan Abdul Hamid II menyampaikan pesan kepada Herzl melalui perantara Neolanski,

“Jika ia temanmu, maka nasehatilah agar ia mengurusi masalah ini sama sekali (yaitu tanah Argentina sebagaimana yang dikatakan Neolanski sebagai tempat tinggal bangsa Yahudi). Aku tidak bisa menjual meskipun sejengkal dari wilayah ini. Sebab tanah-tanah itu bukan milikku melainkan milik rakyatku. Rakyatku telah mendapatkan negeri ini dengan pertumpahan darah, dan kemudian menyiraminya juga dengan darahnya. Aku pun akan menyiraminya. Bahkan kami tidak akan mengizinkan seorang  pun merampoknya dari anda. Hendaklah orang-orang Yahudi itu menyimpan jutaan uang mereka. Adapun pemerintahan ini runtuh, dan terbagi-bagi, maka kaum Yahudi bisa mendapatkan tanah Palestina gratis. Kami sungguh tidak akan pernah membagi pemerintahan negeri ini, kecuali setelah melangkahi mayat-mayat kami. Aku tidak akan membaginya dengan tujuan apapun.”

Pernyataan penolakan tersebut dikuatkan dalam memoar Sultan Abdul Hamid II, ketika dia mengatakan “Yahudi Internasional membentuk organisasi, dan berupaya melalui jaringan-jaringan Freemasonry, untuk mendapatkan apa yang dinamakan Al-Ardh al-Mau’udah (tanah yang dijanjikan), dan mereka menghadap kepadaku setelah beberapa lama seraya meminta kepadaku sebuah tanah, atau wilayahh untuk menempatkan bangsa Yahudi di Palestian dengan imbalan sejumlah harta. Tentu aku menolaknya.”

Setelah usaha Herzl dengan menggunakan perantara Neolanski gagal, maka Herzl segera menuju istana Jerman, untuk menemua kaisar William II. Perlu diketahui Kaisar William II merupakan sahabat, dan sekaligus sebagai satu-satunya sekutu Utsmani di Eropa. Meskipun demikian usaha ini juga menemui kegagalan. Setelah kaisar William menolak untuk memberikan dukungan, Herzl kecewa dengan kegagalan dua rencana besarnya tersebut.

Hal ini sudah diprediksi Sultan Abdul Hamid II sebelumnya, dia telah mengetahui bahwa orang-orang Yahudi sangat terorganisir dalam menyusun rencana. Mereka memiliki beragam kekuatan, dan materi yang dapat menjamin keberhasilan gerakannya. Mereka menguasai jaringan bisnis dunia, dan media-media Eropa. Setelah kegagalan tersebut, Zionis mulai menggerakkan media-media Internasional. Setelah itu mereka mempersatukan musuh-musuh Sultan Abdul Hamid yang tumbuh dalam masyarakat Utsmani.

Di tengah kegagalan ini, Herzl merencanakan untuk menggunakan siasat lain untuk mendapatkan simpati dari Sultan, dimana dia melalui Neolanski ingin memberikan pengabdiannya pada sultan untuk membantu menyelesaikan masalah Armenia. Namun, dalam melakukan usahanya ini Herzl gagal memperoleh dukungan Inggris, akibatnya rencana diplomasi tersebut gagal.

Kegagalan tersebut tidak membuat ambisi Herzl untuk mendirikan negara Yahudi sirna, ia berusaha untuk menemui sultan Abdul Hamid II, khususnya pada saat kunjungan kaisar William II ke Istanbul. Namun, para petugas keamanan di Istana Yaldaz melarangnya masuk. Tahsin Pasya, kepala keamanan istana pada masa Sultan Abdul Hamid II, memberikan kesaksian atas kedatangan Herzl dalam catatan hariannya, “Seorang tokoh (Theodor Herzl) terkemuka Yahudi Zionis  dari Swiss datang ke Istanbul, dan meminta tempat bagi pemukiman Yahudi di distrik al-Quds. Tokoh Yahudi ini berkata bahwa ia membicarakan ini atas nama Zionis, dan bahwasanya Rothschild sebuah bankir terkemuka berada di balik semua ini.”

Setelah gagal untuk menemui Sultan Abdul Hamid II, Herzl berusaha melakukan lobi dengan pejabat-pejabat istana Yaldaz antara selama 1899-1901. Berkat bantuan mereka, Herzl akhirnya mendapat kesempatan menemui sultan selama dua jam. Pada pertemuan ini Herzl mengusulkan pada sultan untuk mendirikan bank-bank Yahudi yang kaya di Eropa dengan bantuan pemerintahan Utsmani, dengan imbalan orang Yahudi bisa berdiam di Palestina. Selain itu ia juga menjanjikan pada Sultan Abdul Hamid II, untuk meringankan beban hutang pemerintahan Utsmani yang telah berlangsung sejak tahun 1881. Herzl juga berjanji untuk merahasiakan pembicaraan rahasia yang terjadi dengannya.

Pada saat pertemuan yang berlangsung selama dua jam itu, Sultan lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Sultan membiarkan Herzl berbicara untuk memberikan kesempatan padanya mengeluarkan apa yang ada di pikirannya. Baik yang berupa gagasan, proyek, dan langkah-langkah yang akan diambil. Sikap sultan yang demikian, membuat Herzl merasa diatas angin dan merasa usahanya akan berhasil. Meskipun akhirnya ia sadar, bahwa ia telah gagal membujuk Sultan Abdul Hamid II. Ia sadar bahwa pembicaraannya selama dua jam tidak membuahkan hasil apa-apa.

Setelah Herzl menyadari pembicaraanya akan berakhir dengan kebuntuan, ia mengatakan “jika sultan memberikan Palestina kepada orang-orang Yahudi, kami akan menanggung semua urusan ekonomi sultan di pundak kami. Sedangkan di benua Eropa, maka sesungguhnya kami akan membangun sebuah peradaban yang akan mengikis sema keterbelakangan. Kami akan tetap berada di seluruh benua Eropa untuk menjaga eksistensi kami.”

Namun, semua rayuan Herzl tidak berhasil menggoyahkan pendirian Sultan Abdul Hamid II. Pada dasarnya, Sultan Abdul Hamid memandang sebuah keharusan orang-orang Yahudi itu tidak tinggal di Palestina. Agar orang-orang Arab tetap terjaga kebangsaannya yang asli. Dari pembicaraan dengan sultan tersebut Theodor Herzl akhirnya mencapai suatu kesimpulan yang tulis dalam catatan hariannya sebagai berikut;”Dari pembicaraan yang saya lakukan dengan Sultan Abdul Hamid II, saya menetapkan bahwa tidak mungkin kita menarik manfaat apa-apa dari Turki, kecuali jika ada perubahan politik di dalamnya dengan cara menimbulkan perang di tengah mereka, dan mereka kalah dalam perang tersebut, atau mereka terlibat dalam sebuah konflik antar bangsa atau dengan cara dua-duannya.”

Sebenarnya, Sultan Abdul Hamid telah mengetahui, dan paham akan tujuan-tujuan Zionis, hal tersebut tertulis di dalam catatan hariannya; “Ketua gerakan Zionis, Herzl, tidak akan pernah sekalipun bisa meyakinkan saya dengan pemikiran-pemikiranya. Mungkin saja perkatannya, ‘Masalah orang-orang Yahudi akan selesai pada saat orang Yahudi telah mampu mengendalikan bajak di tangannya. Adalah ungkapan yang benar dalam pandangannya, bahwa ia memberikan jaminan tnah bagi saudara-saudaranya dari kalangan Yahudi. Namun, ia lupa bahwa kecerdikan saja tidak cukup untuk menyelesaikan semua persoalan. Orang-orang Zionis itu tidak hanya ingin melakukan kegiatan pertanian di Palestian. Mereka menginginkan banyak hal. Seperti pembentukan pemerintahan, dan memilih wakil-wakilnya. Saya tahu dengan sebaik-baiknya ambisi mereka. Namun, orang-orang Yahudi itu hanya melihat di luaran, bahwa saya akan menerima usaha mereka. Sebagaimana saya sanggup membendung mereka ntuk tidak melakakukan pengabdian di tengah istana saya, maka saya juga akan memusuhi setiap cita-cita, dan ambisi mereka di Palestina.“

Pada dasarnya Sultan Abdul Hamid II sebelum setuju untuk berdialog dengan Theodor Herzl, sudah mempunyai beberapa tujuan khusus. Pertama, mengetahui hakikat rencana-rencana organisasi Zionis, mengetahui kekuatan orang-orang Yahudi di seluruh dunia, menyelamatkan pemerintahan Utmani dari ancaman Zionis. Sultan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mencegah direbutnya Palestina. Atas tersebut dia mengabaikan semua tawaran materi dari para organisasi Zionis Dunia. Sultan Abdul Hamid II merupakan pemimpin yang menjadi benteng terakhir dalam menjaga kedaulatan Utsmani. Ketegasan dan kecerdasannya dalam memimpin membuat Herzl mengatakan “Sesungguhnya saya kehilangan harapan untuk merealisasikan keinginan orang-orang Yahudi di Palestina. Sesungguhnya orang-orang Yahudi tidak akan bisa masuk ke dalam tanah yang dijanjikan, selama Sultan Abdul Hamiid II masih tetap berkuasa, dan duduk di atas kursinya.”

Jadi wajar saja ketika Herzl gagal mendapatkan Palestina melalui jalan diplomasi, gerakan-gerakan underground yang selama ini bekerja di bawah pimpinan Freemasonry Itali mulai bergerak untuk melengserkan pemerintahan Sultan Abdul Hamid II. Banyak sejarawan orientalis yang mengatakan bahwa Sultan Abdul Hamid II merupakan sosok yang diktator, dan konservatif, yang takut dilengserkan dari tahtanya. Namun, jika kita melihat kiprah Sultan Abdul Hamid II dalam menghadapi ancaman Zionis tersebut, kita dapat mengambil sebuah pandangan lain mengenai siapa sebenarnya Sultan Abdul Hamid II, yang sering digambarkan oleh para sejarawan orientalis jauh berbeda dari aslinya. Semoga dari pembahasan ini dapat memberikan pengetahuan baru untuk kita semua. []



Daftar Kepustakaan:

Garaudy, Roger. 1996. Zionis Sebuah Gerakan Keagamaan dan Politik. Jakarta: Gema Insani Press.
Harb, Muhammad. 2013. Memoar Sultan Abdul Hamid II. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Herzl, Theodor. 1961. The Complete Diaries of Theodor Herzl. New York: Jewish Agency.
Lapidus, M. Ira. Sejarah Sosial Ummat Islam  Bagian Ketiga. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000.
Shallabi, Ali Muhammad Ash. 2014. Bangkit dan Runtuhnya Kilafah Utsmaniyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Schoenman, Ralph. 2013. Di Balik Sejarah Zionisme. Yogyakarta: Mata Padi Presindo.


Sumber:

http://wawasansejarah.com/sultan-abdul-hamid-ii/
https://id.wikipedia.org/wiki/Semit[][][]