Monday, April 8, 2019

Belajar dari kebijakan Harun Al-Rasyid



PENDAHULUAN

H
arun Al Rasyid adalah Khalifah Abbasiyah Ke-5 pada pemerintahan Kekaisaran Islam. Arti nama Harun Al-Rasyid adalah “Harun yang Adil dan Bijaksana. Ia memerintah sejak 14 September 786 hingga wafat pada 4 April 809. Harun membangun perpustakaan yang kemudian dikenal dengan nama Baitul Hikmah (the House of Wisdom), dan kelak dilanjutkan oleh anaknya, Al-Ma’mun.

Baitul Hikmah menjadi cikal bakal kegemilangan dunia ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam. Naskah dari Yunani, Cina, Sanskrit, Persia, dan Aramaik diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pakar Islam, Yahudi, Nasrani bahkan Budha pun berdatangan dan mengkaji ilmu pengetahuan dan berdiskusi di Baitul Hikmah.

Lewat Baitul Hikmah, terjadi institusionalisasi penegakkan perintah Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya dalam ayat yang mula pertama kali diturunkan yaitu kalimat Iqra’! yang artinya Bacalah! Ayat ini terdapat dalam surat Al-‘Alaq. Oleh karena itu, Baitul Hikmah inilah cikal bakal masa keemasan Islam pada masa Kekaisaran Abbasiyah, karena di forum Baitul Hikmah inilah perintah iqro', yaitu kegiatan membaca dan menulis, mengkaji dan meneliti, dilaksanakan untuk memperoleh ilmu dan teknologi.


Harun Al-Rasyid selain memiliki pengetahuan dalam ilmu perang, administrasi, matematika, filsafat Yunani dan bahasa, ia sejak muda, cukup cekatan atau piawai untuk menggunakan senjata seperti pedang dan tombak. Ia juga seorang yang kharismatik dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Sebelum menjadi khalifah, ia memimpin perang dengan Kekaisaran Bizantium - yakni disebut juga sebagai Romawi Timur setelah Romawi Barat runtuh, pada tahun 780 dan tahun 782. Ketika konflik dengan Bizantium pecah, ia mampu menduduki sebagian Anatolia Timur, daerah dari Kekaisaran Bizantium. Ini adalah salah satu prestasi terbaik untuk dapat menduduki jabatan khalifah pada Kekaisaran Abbasiyah pada waktu itu, karena Kekaisaran Bizantium adalah super power”nya.

Harun Al-Rasjid berkuasa sekitar 23 tahun. Menjadi Khalifah saat berusia cukup muda, yaitu 22 tahun, dan wafat dalam usia yang juga masih muda, yaitu 45 tahun. Saat dia wafat, negara dalam keadaan makmur dengan memiliki kekayaan 900 juta dirham.


KEBIJAKAN STRATEGIS  HARUN AL-RASYID

D
aulah - yang sekarang disebut pemerintahan - dari Bani Abbasiyah - nama negara yang dinisbatkan dari asal keturunan kepala pemerintahan  -  adalah Daulah atau Kekaisaran Islam yang besar. Kekaisaran ini berdiri setelah runtuhnya Kekaisaran Ummayah. Kekaisaran Abbasiyah ini hadir dan berperan untuk mengembalikan dan meningkatkan kejayaan “Islam” - Islam sebagai dasar atau azaz bernegara atau berpemerintahan yang berdasarkan kepada ajaran atau sistim pemerintahan dalam Islam.

Pada masa Bani Abbasiyah ini, mengalami kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat (selanjutnya ditulis sains-ilmu pengetahuan). Hal itu tidak terlepas dari peran seorang khalifah (pemimpin negara) dari Kekhalifahan (kenegaraan, kekaisaran) Bani Abbasiyah yang khalifahnya berjumlah 37 selama pemerintahan Kekaisaran Abbasiyah berdiri. Satu diantaranya terdapat khalifah yang memiliki peranan sangat penting terhadap perkembangan sains-ilmu pengetahuan di zaman pemerintahan Kekaisaran Abbasiyah, yaitu seorang khalifah ke-5 Bani Abbasiyah yang sangat menghargai sains-ilmu pengetahuan, dia adalah seorang khalifah yang bernama Harun Al-Rasyid (baca harun ar-rasyid).

Kebijakan yang diambil oleh khalifah Harun Al-Rasyid  ini sebanyak 6 handalan kebijakannya yang sangat strategis dan monumental selama memerintah yang dicatat dalam sejarah, yaitu sebagai berikut ini:
  1. Mewujudkan keamanan, kedamaian, serta kesejahteraan rakyat.
  2. Membangun kota Baghdad yang terletak diantara sungai Eufrat dan Tigris dengan bangunan-bangunan megah.  
  3. Membangun tempat-tempat peribadatan.  
  4. Membangun sarana pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan kesenian.
  5. Mendirikan Baitul Hikmah, sebagai lembaga penerjemah, perguruan tinggi, perpustakaan, dan penelitian. 
  6. Membangun majlis al-Muzakarah, lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan di rumah-rumah, masjid-masjid dan istana.
Seperti yang dapat dibaca di atas, tentunya sebagai umat Islam kita tidak asing dengan yang namanya Baitul Hikmah (the House of Wisdom), yang terdiri dari koleksi buku-buku ilmiah yang jumlahnya ratusan ribu yang disusun dalam rak perpustakaan.


Ini dapat membuktikan bahwa khalifah Harun Al-Rasyid adalah khalifah yang menghargai sains-ilmu pengetahuan. Sampai-sampai suatu ketika ada penulis buku yang datang ke khalifah Harun Al-Rasyid yang karya ilmunya dinilai sebagai karya yang terbaik, penulisnya diberi imbalan seberat timbangan berat bukunya. Penulis buku tersebut diberi penghargaan dengan berat emas yang setara berat buku tersebut. Sungguh ia benar-benar sangat menghargai penulis buku dengan pemikiran-pemikiran yang strategis dan pemikiran-pemikiran cemerlang lainnya. Dengan itu dapat menumbuhkan motivasi kuat para cendikia untuk berkarya semaksimal mungkin.

Pada masa pemerintahan beliau, sebagian besar dana pemerintahannya digunakan untuk pendidikan, penelitian. Sehingga pada masa Kekaisaran Abbasiyah ini hadirlah para ilmuwan terkemuka Islam, seperti Ibnu Khaldun (bapak ilmu sosial dan ekonomi), Ibnu Sina (bapak kedokteran), Al-Khawarizmi (bapak aljabar dan algoritma). Maka pada masa khalifah Harun Al-Rasyid disebut sebagai masa kejayaan sains-ilmu pengetahuan.


PENUTUP

S
eribu dua ratus tahun yang lalu merupakan masa kejayaan Baghdad, kota di Irak sekarang, sebagai ibukota dari Kekaisaran Abbasyiah. Terletak di dua aliran sungai, Tigris dan Eufrat. Ketika itu Baghdad berkembang sangat maju sebagai ibukota dari seentero dunia muslim. Selama sekitar 500 tahun kota Baghdad telah menghasilkan banyak sekali  intelektual dan budayawan yang handal.


Keberhasilan yang telah dicapai ini berkat adanya perhatian dan usaha khalifah sebagai kepala pemerintahan kepada dunia pendidikan dan pengajaran agar maju dan berkembang.

Baghdad sebagai salah satu kota terbesar dan terkaya di dunia, pada saat itu memiliki kekayaan yang jauh melampaui bukan saja dibidang finansial, tapi juga berkembang maju “The House of Wisdom”- sebagai gudang ilmu. sebagaimana sekarang disebut “science and technology”. Yaitu, Akademi Ilmu Pengetahuan yang merangsang dan memotivasi berkembangnya akal pikiran yang lebih luas lagi yang dapat dicapai. Dari mulai matematika (aritmatika, trigonometri, aljabar, algoritma), astronomi, sampai ilmu khewan, dll. Akademi tersebut juga merupakan pusat utama dari melakukan penelitian, pemikiran dan perdebatan yang telah menjadi kebiasaan Peradaban Muslim.

The House of Wisdom yang artinya Rumah Ahli Hikmah atau disebut juga Rumah Para Intelektual yaitu suatu Akademi Ilmu Pengetahuan di zaman kejayaan Islam ini yaitu pendirian The House of Wisdom, yang dilengkapi perpustakaan megah bernama Khizanat al-Hikmah (Library of Wisdom, Perpustakaan bagi Para Intelektual). Perpustakaan ini terdiri dari naskah-naskah dan buku-buku yang dikumpulkan oleh ayah dan kakeknya dari berbagai subjek, seni, dan sains-ilmu pengetahuan dalam bahasa-bahasa yang berbeda.

Khalifah Harun Al-Rayid sangat menghargai penulis buku dengan pemikiran-pemikiran yang strategis dan pemikiran-pemikiran cemerlang lainnya. Dengan itu dapat menumbuhkan motivasi kuat para cendikia untuk berkarya semaksimal mungkin. Alangkah bermanfaatnya kepala-kepala pemerintahan di zaman now ini meneladani kepeimpinan Harun Al-Rasyid dalam pengembangan sains-ilmu pengetahuan ini melalui kebijakannya (1) Mewujudkan keamanan, kedamaian, serta kesejahteraan rakyat, (2) Membangun kota Baghdad yang terletak diantara sungai Eufrat dan Tigris dengan bangunan-bangunan megah, (3) Membangun tempat-tempat peribadatan, (4) Membangun sarana pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan kesenian. (5) Mendirikan Baitul Hikmah, sebagai lembaga penerjemah, perguruan tinggi, perpustakaan, dan penelitian, (6) Membangun majlis al-Muzakarah, lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan di rumah-rumah, masjid-masjid dan istana.

Kesimpulan bahwa fokus terhadap pendidikan dan baca-tulis adalah salah satu solusi terbaik untuk membangun suatu bangsa yang cerdas, kuat, sehat, berakhlak dan berperadaban yang maju, sebagai salah satu mandat konstitusi bagi kepala negara yaitu “mencerdaskan kehidupan bagi rakyatnya”. Baca juga (klik --->) Tujuan Berdirinya Negera RI. Billahit Taufiq wal Hidayah. □ AFM



Kepustakaan:
bacaanmadani.com/kebijakan-khalifah-harun-ar-rasjid
geotime.co.id/khalifah-harun-ar-rasyid-masa-keemasan-abbasiyah/
jendelailmu-faisal.blogspot.com/baghdad-gudang-ilmu-dan-pusat
kuncikeyakinan-faisal.blogspot.com/tujuan-berdirinya-negera-ri.html