Tuesday, June 2, 2020

Orientasi Hidup Seorang Muslim




KATA PENGANTAR


Penulisan yang menyangkut dengan dīnul Islam bukanlah apa yang kita pikirkan, melainkan apa sebenarnya yang dimaksudkan dīnul Islam yang dengan itu kita pikirkan dan tuliskan. [A. Faisal Marzuki]


Menulisnya penulis disemangati dan dimotivasi dari sebuah Hadits sebagai berikut: Dari Abdullah bin Amr radhiyallāhu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً - ballaghū ‘anniy wa law ayah - “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” [HR Bukhari]

Walaupun begitu, penulis membatasi hanya yang bersifat habblum minan nās kalaupun ibadah adalah ibadah ghaira mahdhah dengan ayat-ayat kauniyahnya yang berisi science - ilmu pengetahuan, sosiologis, sejarah, lingkungan hidup (ekosistim), peradaban dan lain-lainnya. Tidak dalam aspek hukum dan fikih yang membutuhkan keahlian khusus dan pengetahuan khusus serta jenjang pendidikan khusus serta alat-alat analisa khusus dan sangat menguasainya. Untuk hal yang terakhir ini penulis hanya “sami’na wa a’thona”

Kalau penulis menulis panjang supaya jelas. Karena sering kali yang dikenal pengetahuan Islam kebanyakan dalam ibadah mahdhah (di sekitar ritual agama), yang lainnya ada tapi masih kurang. Dengan itu tulisannya menjadi panjang, karena menerangkan bukan hanya Islam dalam tinjaun “hamblum minAllāh”, tapi meliputi pula “habblum minan nās” - ibadah ghaira mahdhah. Malah dua pertiganya isi al-Qur’an menyangkut masalah “habblum minan nās”.



ORIENTASI HIDUP
SEORANG MUSLIM
Oleh: A. Faisal Marzuki


K
unci kemajuan adalah membawa suatu wilayah tempat tinggal (komunitas, negara, antar negara) bersama warga masyarakat yang ada didalamnya menjadi sejahtera, maju dan jaya, namun dalam pencapaiannya tidaklah mudah. Disamping memerlukan kerja keras, diperlukan pula kematangan (mature, dewasa) para warga masyarakatnya. Mereka mesti tahu orientasi hidupnya kemana. Dengan orientasi yang telah diketahuinya itu perlu dimasyarakatkan (disebar luaskan).

Sebagai bahan untuk memahami bagaimana orientasi hidup seorang muslim di dunia ini kami ambilkan dari tiga ayat dari dua surah sebagai berikut:

Firman-Nya dalam Surah al-Qashash ayat 77:“wabtaghi - dan carilah;   fīmā - pada apa yang (pahala); ātākallāhu - Allah berikan kepadamu; addāra - kampung, kampung halaman, village; al ākhirata - akhirat); wa lā tansa - dan janganlah kamu lupa; nashībaka - bagianmu - minad dunyā ( dari dunia, di dunia); wa ahsin - dan berbuat baiklah; - kamā - sebagaimana; - ahsanallāhu - Allah telah berbuat baik;  ilayka - kepadamu; wa lā tabghi - dan janganlah berbuat; alfasāda - kerusakan; fil ardhi - di bumi; innallāha - sesungguhnya Allah;  lā yuhibbu - tidak menyukai;  almufsidīn - orang-orang yang membuat kerusakan.

Arti keseluruhan dalam bahasa Indonesia menjadi “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qashash 28:77)

Selanjutnya firman-Nya yang lainnya menyebutkan sebagai do’a yang diucapkan setiap Muslim "Rabbanā ātina fid dun-yā hasanataw, wa fil ākhirati hasanataw, wa qinā ‘adzāban nār - Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan (pula) di akhirat dan peliharalah kami dari azab neraka. (QS al-Baqarah 2:201).

Terakhir firman-Nya menyebutkan: “Lahā mā kasabat wa 'alaihā maktasabat” - Dia (manusia) mandapat pahala (dan kenikmatan hidup dunia dan akhirat) dari kebajikan yang di kerjakan (“kunci hidup yang sukses”), dan dia (manusia) mendapat (siksa, ketidak sejahteraan hidup dunia dan akhirat) dari (kejahatan, mismanagement, lalai dalam beribadah mahdah dan ghaira mahdah) yang diperbuatnya (“hidup yang tidak sukses”). (QS Al-Baqarah 2:286).

Ketiga ayat ini sangat menarik untuk dipahami sebagai “Orientasi Hidup Seorang Muslim” selama hidup di dunia, karena kehidupan manusia di dunia sebenarnya sebagai ladang ibadah yang mempunyai efek (akibat, konsekwensi) hidup di dunia dan di akhirat kelak.

Yang akan kita tadaburi adalah 3 ayat dari 2 surah sebagai berikut:

●“Dan carilah (pahala) negeri akhirat [1] ● dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, [2] ● tapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia, [3] ● dan berbuat baiklah (kepada orang lain), [4] ● sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, [5] ● dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. [6] ● Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” [7] (QS Al-Qashash 28:77)

● Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan (pula) di akhirat dan peliharalah kami dari azab neraka. [8] (QS al-Baqarah 2:201).

● Dia (manusia) mandapat pahala (dan kenikmatan hidup dunia dan akhirat) dari kebajikan yang di kerjakan (“kunci hidup yang sukses”), [9] ● dan dia (manusia) mendapat (siksa, ketidak sejahteraan hidup dunia dan akhirat) dari (kejahatan, mismanagement, lalai dalam beribadah mahdah dan ghaira mahdah) yang diperbuatnya (“hidup yang tikdak sukses”). [10]. (QS Al-Baqarah 2:286).


PENJELASANNYA

“Habblum minan Nās”. Hubungan sesama manusia menjadi kewajiban kita disamping “Habblum minAllāh”.

Penggalan ayat dalam Surah Al-Qashash 28 ayat 77 yang menyebutkan: “dan berbuat baiklah (kepada orang lain), [4] ● sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. [5]”

Kedua penggalan ayat ini mengandung unsur “hubungan sesama manusia”, disebut juga “habblum minan nās” yang Allah tekankan sekali bagi setiap Muslim yang mesti pedomani disamping “hubungan dengan Allah” (habblum minAllāh).

Pertama: Kedudukan “Habblum minan Nās” sebagai yang disebutkan dalam penggalan ayat 77 dalam Surah ke-28, Al-Qashash ini yang menyebutkan: “dan berbuat baiklah (kepada orang lain), [4] “sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, [5] ● dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. [6] ● Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” [7]

Kedua: Kedudukan “Habblum minan Nās” sebagaimana peringatan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah disampaikan beliau secara serius dalam salah satu khutbahnya yang artinya sebagai berikut:

“Wahai manusia! Sesungguhnya Allah subhana wa ta’ala berfirman kepadamu: Anjurkanlah olehmu berbuat baik (murū bilma’rūf) dan laranglah perbuatan yang munkar (wanhaw ‘anil munkari), agar jangan datang suatu saat dimana kamu berdo’a tetapi Aku (Allah) tidak menjawab do’amu; kamu meminta tetapi Aku (Allah) tidak kabulkan; kamu memohon pertolongan, tetapi Aku (Allah) tidak memberi pertolongan.”

Itulah jawab-Nya! Itulah yang menyebabkan pintu do’a jadi tertutup. Bukan karena melalaikan hubungan dengan Allah secara konvensional, seperti shalat, shiyam dan sebagainya, akan tetapi karena meremehkan hubungan sesama manusia - “habblum minan nās”, sebagai anggota masyarakat yang turut bertanggung jawab atas keselamatan hidup bermasyarakat (habblum minan nās) itu sendiri. Yakni tugas “Amar Ma’ruf (Agent of Development) dan Nahi Munkar (Agent of Change)”. Tugas: “Menegakkan Kebajikan, memberantas kemunkaran”. Itulah posisi dan itulah peranan duniawi umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi “shibghah” (identitas) bagi kepribadian Umat Islam.


“Dan carilah (pahala) negeri akhirat”.

Maksud penggalan [1] ayat 77 dari Surah ke-28, Al-Qashash ini - “Dan carilah (pahala) negeri akhirat,” adalah untuk masalah akhirat kita tidak boleh berpangku tangan saja, sementara dunia kita cari dengan sangat giatnya.

Memang masalah-masalah yang menyangkut dengan “alam yang abstact” seperti hari “akhirat” sulit di tangkap kalau hati dan kesadaran di diri kita tidak digunakan atau dibangkitkan, ketimbang dorongan naluri "mempertahankan diri" dan mengejar “kemewahan” hidup yang secara otomatis (tanpa disuruh-suruh) bekerja dengan sendirinya dalam hal yang menyangkut kebutuhan makan, minum, pakaian, pemondokan, alat transportosi, pekerjaan, uang, perhiasan dst, dst-nya.

Pernah ada orang tua kewalahan terhadap pertanyaan anaknya: “Untuk apa kita shalat, toh tanpa itu kita hidup”. Anak ini tidak sadar bahwa manusia tidak akan hidup selamanya. Bahwa setelah “mati” manusia nantinya diminta pertanggungan jawab dari apa saja yang dilakukan selama hidup di dunia. Apa pernah dalam menjalani hidupnya merugikan orang lain dan membuat kerusakan di muka bumi? Bahkan melupakan nikmat yang diberikan oleh Pencipta-nya berikut lingkungan hidup yang asri serta alam semesta ini yang mendukung kehidupan di bumi, tanpa bersyukur kepada-Nya melalui iman, ibadah dan berbuat kebajikan (baik,  bermanfaat, di ridhai-Nya).

Bahwasanya apa yang menjadi perbuatannya di dunia mempunyai efek kepada kehidupan kini dan hari akhir nanti. Juga karena sifat hubungan manusia dengan alam dunia yang membawa kesejahteraan hidup atau kah kesengsaraan hidup. Dan alam akhirat seperti Surga dan Neraka-kah yang diperoleh di hari Pembalasan? Mesti diajari juga - sebagai keyakinan hidup.

Tuhan, selaku Pencipta dan Pemelihara serta Penyedia fasilitas hidup manusia dan lingkungan hidup serta alam semesta, kehadiran-Nya mesti diketahui. Perintahnya mesti diikuti. Larangannya jangan dikerjakan. Dan menjaga hubungan baik dengan Allah Tuhan Pencipta melalui Shalat dan ibadah-ibadah yang lain yang kelak akan mendatangkan petunjuk dan berkah dalam menjalankan kehidupan tidak di dunia saja, tapi di akhirat juga sebagai pelabuhan terakhir dari kehidupan ini.

Bahwa Allah Maha Pencipta menurunkan aturan-aturan hidup, itu suatu kemestian agar tatakehidupan manusia teratur dan baik. Sebagaimana juga, kotapraja atau negara menurun peraturan dan undang-undang (hukum), seperti membuat dan mengikuti peraturan-peraturannya. Bagi pelanggar-pelanggar aturan hukum akan kena hukum denda, masuk penjara, bahkan hukuman mati bagi pelanggarnya - tergantung seberapa besar dan jenis pelanggaran hukum yang dilakukannya. Maksud itu semua adalah agar ada ketertiban dari anggota masyarakat di suatu kota dan desa atau negara. Begitu pula Tuhan Pencipta Pemelihara kehidupan manusia di alam semesta ini membuat peraturan yang dikenal dengan kata-kata: haram, halal, mubah dan makruh.

Rukun Iman dan Rukun Islam, al-Qur’an, Al-Hadits dan kitab-kitab agama mesti dipelajari dan pengetahuan yang didapat mesti dilaksanakan disamping pengetahuan umum (kauniyah dan muamalah). Semua itu mempunyai efek bagi manusia. Kalihatannya  “abstrak” atau dalam bahasa agama “ghaib”.

Ghaib tidak kelihatan dan tidak bisa diraba, bukan berarti tidak ada, tapi ada. Contoh kalau kita memandang langit atmosfir bumi yang kita lihat biru dan ada awannya pada siang hari. Science bisa bercerita lebih dari sekedar yang kita sebutkan itu. Jadi, apa yang disebut “abstrak” atau “ghaib”, bukan tidak ada, tapi ada. Dunia maya, dimana file facebook atau blog atau What’sup, berada dimana? Kita tidak tahu atau tidak bisa diraba dengan tangan, dan tidak bisa dilihat dengan mata secara fisik. Yang kita tahu, kalau ada Smartphone atau I-pad dan Komputer bisa kita akses.

Begitu pula ajaran Islam dalam shalat, do’a, dzikir, sedekah, membantu seseorang, berbuat kebajikan lainnya, dst, dst, banyak manfaatnya, dan berpengaruh positif di diri kita, tapi sering kita tidak sadari.


“dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu”.

Maksud penggalan [3] ayat 77 dari Surah ke-28, Al-Qashash - “dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu”. Yang dianugerahkan kepada kita dapat diketahui melalui Firman-Nya dalam Surah ke-32, As-Sajdah ayat 19:

“… dan Dia (Allah) menjadikan kamu pendengaran - yaitu daya simak dari apa yang didengar; penglihatan -  yaitu daya memahami apa yang dilihat; hati - yaitu daya kesadaran, merasakan, dan menghayati, dari apa yang didengar oleh telinga, dan apa yang dilihat oleh mata. (Tetapi) kamu sedikit kali bersyukur - artinya tidaklah banyak orang yang menyadari fungsi yang sebenarnya dari apa yang didengar, dilihat dan dirasakan.

Adanya Tuhan Maha Pencipta dapat dipelajari dari Kitab Al-Qur’an dalam Surah ke-7, Al-A’rāf ayat 172 yang mengatakan adanya kesaksian manusia terhadap Tuhan pada saat ditiupkan ruh ke dalam cabang bayi. Allah bertanya: “Bukankah Aku ini Tuhanmu”, mereka menjawab: Benar (Engkaulah Tuhan kami) kami menjadi saksi”. (QS Al-A’rāf 7:172)

Kesadaran akan adanya Tuhan telah ada sejak cabang bayi tumbuh - yang kemudian menurunkan pula ajaran-Nya melalui Nabi dan Rasul yang diberi Kitab Suci menjadi pedoman hidup bagi manusia, kesadaran mana disebut sebagai kesadaran ‘primordial’ yaitu kesadaran ‘fitrah’ - bawaan manusia. Saat menghadapi kesulitan hidup ada kecenderungan memohon kepada Yang Ghaib yaitu Tuhan - timbulnya kesadaran primordial transedental.

Tahun 1997, VS Ramachandran, Direktur Centre for Brain and Cognition Universitas San Diego, California, USA melakukan penelitian. Orang-orang yang memiliki pengalaman spiritual dihubungkan dengan alat EEG, kemudian diberi nasehat religious, aktifitas lobus temporal meningkat. Dengan itu para peneliti menyimpulkan adanya mesin syaraf di lobus temporal yang dirancang untuk berhubungan dalam soal keagamaan. Dengan itu terbukti bahwa keyakinan agama sudah terpatri (hard wire) di dalam otak manusia. Dalam hal ini membuktikan kebenaran Surah Al-A’rāf ayat 172 diatas.

Oleh sebab itu dalam Islam, akal memiliki posisi yang sangat mulia. Meski demikian, bukan berarti akal diberi kebebasan tanpa batas dalam memahami agama. Islam memiliki aturan untuk menempatkan akal sebagaimana mestinya (agar akal itu tidak liar, tidak akal-akalan). Bagaimanapun, akal yang sehat akan selalu cocok dengan syariat Allah subhānahu wa ta’ālā, dalam permasalahan apa pun.

Akal adalah nikmat besar yang Allah subhānahu wa ta’ālā titipkan dalam jasmani manusia. Nikmat yang bisa disebut hadiah ini menunjukkan akan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala yang sangat menakjubkan. Oleh karenanya, dalam banyak ayat, Allah subhānahu wa ta’ālā memberi semangat untuk berakal (yakni menggunakan akalnya), di antaranya:

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sungguh  pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (ya’qilūn). (QS An-Nahl 16:12)

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir (ya’qilūn). (QS Ar-Ra’d 13:4)

Sebaliknya Allah subhānahu wa ta’ālā mencela orang yang tidak berakal seperti dalam ayat-Nya,

Dan mereka berkata, “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan - na’qilu, (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Al-Mulk 67:10)


Tapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.

Maksud penggalan [4] ayat 77 dari Surah ke-28, Al-Qashash - “Tapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia”. Allah tidak menafikan kehidupan manusia di dunia. Yaitu perlu memenuhi kebutuhan makan, minum, pakaian, pemondokan, alat transportosi, sekolah, training, madrasah, bekerja selaku pegawai atau buruh, usaha dalam industri dan jasa, usaha pertanian, usaha perkebunan, perikanan, pertambangan, perdagangan, memiliki uang, memiliki perhiasan dst, dst-nya selagi mendapatkannya dengan tidak cara curang, korupsi, menipu, mencuri, dst.

Kalau ada kelebihan lakukan infaq dan sadaqah disamping zakat yang memang suatu kewajiban, memberikan santunan kepada fakir, miskin, dan yatim piatu dan lain-lain seperti yang telah diatur oleh agama.

Malah manusia di posisikan Allah subhānahu wa ta’ālā sebagai khalifah-khalifah di bumi sebagai pemakmurnya, tapi tidak melupakan melakukan ibadah kepada-Nya. Dan tidak melakukan kerusakan di bumi, melainkan sebagai ‘agent of development’ - amar ma'ruf dan ‘agent of change’ - nahi munkar.


PENUTUP

O
rientasi hidup seperti yang dijelaskan diatas perlu kesinambungan, konsistensi, kebersamaan, kesepahaman, kesabaran, keikhlasan dan dalam penegakkannya. Selanjutnya yang paling utama, perlu pula akhlak-integritas serta moralitas, dan ini harus terus ditingkatkan serta dimantapkan. Tanpa akhlak integritas serta moralitas, boleh-boleh saja akan terjadi: Lain kata lain tindakan; Seharusnya berbuat untuk publik masyarakat yang dipimpimnya tapi lebih dulu untuk kepentingan pribadi dan golongannya; Semestinya bekerja untuk kepentingan nasional, tapi orang luar yang diuntungkan; Berjanji dengan sumpah, tapi tidak lagi konsisten dengan janji atau sumpahnya - Maaf, kekayaan negara dan rakyat warga negaranya dijadikan sumber pemerasan. Ini yang akan terjadi tanpa adanya akhlak integritas dan moralitas.

Dengan adanya orientasi, semangat ini, berarti sebagai seorang Muslim telah mempunyai “kunci sukses” seperti tersebut diatas, disertai adanya partisipasi dan konektifitas positif antara sesama warga dan manajemen atau administratif pemerintahan, serta akhlak integritas dan moralitas ditegakkan, Insya Allah, Yang Maha Kuasa akan mendatangkan ridha-Nya yang membawa kemajuannya sebagai realisasi dari do’a yang selalu diucapkan setiap Muslim "Rabbanā ātina fid dun-yā hasanataw, wa fil ākhirati hasanataw, wa qinā ‘adzāban nār - Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan (pula) di akhirat dan peliharalah kami dari azab neraka, QS al-Baqarah ayat 2:201. Insya Allah sebagai mana peringatan dalam firman-Nya: “Lahā mā kasabat wa 'alaihā maktasabat” - Dia (manusia) mandapat pahala (dan kenikmatan hidup dunia dan akhirat) dari kebajikan yang di kerjakan (“kunci hidup yang sukses”), dan dia (manusia) mendapat (siksa, ketidak sejahteraan hidup dunia dan akhirat) dari (kejahatan, mismanagement, lalai dalam beribadah mahdah dan ghaira mahdah) yang diperbuatnya (“hidup yang tidak sukses”), QS al-Baqarah 2:286.

Demikianlah semoga bermanfaat atas pentadabburan kita dari ayat 77 Surah al-Qashash. Dengan dikaitkan kepada ayat-ayat 201 dan 286 dari Surah al-Baqarah, maka tujuan hidup muslim hidup di dunia semakin jelas. Yaitu, membawa kebaikan serta kemajuan umat Muslim dan tentunya mempunyai efek pula umat lainnya (Islam sebagai rahmatan lil’alamin) baik di dunia, maupun kelak di akhirat bagi yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Billāhit Taufiq wal Hidāyah. Germantown, MD, 10 Shawwal 1441 AH / 2 June 2020 CE. □ AFM


Wednesday, May 6, 2020

Jaga Jarak Berdiam di Rumah




Kata Pengantar

Seumur hidup penulis tidak pernah membayangkan adanya musibah dunia sedahsyat tahun 2020 ini yang biasanya ditimbulkan oleh ‘bencana alam’ seperti gunung meletus, banjir, tanah longsor, gelombang air laut tsunami yang sifatnya lokal tidak mendunia seperti wabah pandemic virus corona COVID-19 ini.

Khususnya Amerika dampak nyatanya dimulai bulan Maret 2020, namun tindakan lockdown - berdiam di rumah mulai tanggal 30 April. Artinya,  sekolah dan perguruan tinggi serta kegiatan ekonomi lainnya ditutup seperti mall, restoran, bioskop, bar dan nightclub pertandingan olahraga, namun hal ini dianalisis terlambat hingga kini yang terkena - menurut catatan pertanggal 6 Mei jam 15:12 EDT - yang terkena wabah telah mencapai sejuta lebih (1,214,572) atau sebesar hampir 33% dari global (3,721,779). Telah pula merenggut nyawa hampir 72 ribu (71.982) orang atau hampir 28% dari global (260,487) melebihi prediksi sebelumnya yang diperkirakan 60 ribu sampai dengan awal Agustus. Dengan data kematian seperti itu selanjutnya diperkirakan kematian dari COVID-19 di Amerika akan mencapai dobel (2x lipat) yaitu 134 ribu.

Sementara obat dan vaksin pencegahnya belum ada, maka apa yang dianjurkan Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallām lah yang terbaik yaitu isolasi (social distancing - jaga jarak dan lockdown - berdiam di rumah).



Setiap tindakan mempunyai konsekuensi sebagaimana yang dikatakan Gubernur New York. Andrew Cuomo, dimana daerah adminstrasinya terkana wabah COVID-19 yang paling parah, khususnya New York City. Akibat dari kebijakan social distancing dan lockdown ini menyebabkan tingkat pertumbuhan ekonominya merosot dan pengangguran meningkat tajam, tapi hidup manusia terjaga. Sebaliknya jika kebijakan social distancing dan lockdown ini tidak ada  maka ekonomi akan berjalan seperti biasa, tapi banyak warga yang terkapar wabah ini dan merengggut jiwa manusia yang semakin meningkat, pilih mana? katanya.

Suasana ditempat penulis terlihat sudah berlangsung selama 38 hari, lapangan parkir selalu penuh dan hampir tidak ada orang yang keluar, seperti terlihat pada flyer terlampir diatas.




SOCIAL DISTANCING - jaga jarak
& LOCKDOWN - berdiam di rumah
Oleh: A. Faisal Marzuki


PENDAHULUAN

D
unia Internasional telah dihebohkan oleh sebuah wabah yang sangat mengerikan pada penghujung tahun 2019 yang lalu. Wabah tersebut dikenal dengan virus corona (Covid-19) yang telah memakan korban ratusanribu nyawa manusia di seluruh dunia. Melihat dari fakta, virus corona ini termasuk dari wabah yang sangat mengerikan, karena penyebarannya yang sangat cepat dan mematikan bagi yang dihinggapinya.

Jauh sebelum kasus ini muncul, telah terdapat juga sebuah wabah yang dikenal dengan istilah tho’un. Lalu virus corona (COVID-19) jenis baru penyakit menular yang sangat berbahaya ini bisa dikategorikan sama dengan tho’un, [1] walaupun berbeda penamaan dan cirinya, penyakit ini sama-sama berbahaya dan menular yang tidak bisa disepelekan.

Sejarah terjadinya penyakit-penyakit wabah semacam tho’un sampai virus corona ini, khususnya tho’un sudah ditemukan sejak masa Nabi Muhammad saw bahkan jauh sebelum Nabi diutus, yaitu pada zaman Bani Isra’il.



SOCIAL DISTANCING - jaga jarak
& LOCKDOWN - berdiam di rumah

Dalam ranah Ajaran Islam, sangat penting diperhatikan usaha apa saja yang berdampak positif dan negatif. Usaha yang berdampak positif perlu dilakukan, sebaliknya usaha yang mengarah pada dampak negatif harus ditinggalkan. Ini adalah kaidah universal yang harus dijadikan pedoman umum, termasuk dalam hal menyikapi Virus Corona (COVID-19) ini.


Manusia lebih berharga dari materi

Usaha positif yang diajarkan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallām dalam menangkal penyebaran wabah antara lain ialah dengan mengisolasi area wabah. Apabila wabah sudah menyebar di suatu tempat, maka isolasi adalah langkah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallām. Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallām bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya:

“Apabila kalian mendengar thā’ūn (pes, lepra - penyakit menular yang berbahaya atau mematikan) [1] di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” (HR al-Bukhari).

Wabah thā’ūn dalam Hadits tersebut adalah penyakit menular yang berbahaya atau mematikan saat itu, sebab di masa lalu wabah yang populer dan memakan banyak korban jiwa itu adalah thā’ūn adalah jenis penyakit pes dan lepra, yaitu penyakit menular berbahaya yang mematikan sampai ribuan.  Sedangkan hukum isolasi sebagaimana yang disebutkan Hadits itu sendiri berlaku bagi semua wabah, termasuk wabah ‘Virus Corona’ (COVID-19) dimana (nyawa) manusia lebih berharga dari materi (ekonomi).

Isolasi (social distancing - jaga jarak (menggunakan masker dan sarung tangan), lockdown - berdiam di rumah) ini dapat mencegah penyebaran wabah ke daerah lebih luas, namun di satu sisi akan menyebabkan orang yang berada di daerah wabah akan ikut terdampak wabah juga. Dalam hal ini kemudian Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallām bersabda bahwa wabah tersebut akan menjadi siksaan bagi orang yang tidak beriman, tetapi akan menjadi rahmat bagi mereka yang beriman. Bahkan seorang muslim yang terkena wabah dan bersabar akan mendapatkan pahala, karena tidak menularkan atau tidak ditularkan oleh orang lain, termasuk pahala mati syahid. Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallām bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الطَّاعُونِ فَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَأَنَّ اللهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

Artinya:

“Dari ‘Aisyah radhiallāhu’anha, istri Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallām berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu shallallāhu ‘alaihi wasallām tentang masalah tha’un (penyakit pes, lepra) lalu beliau mengabarkan kepadaku bahwa tha’un (penyakit pes, lepra) adalah sejenis siksa yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki dan sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum muslimin dan tidak ada seorangpun yang menderita tha’un lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala dan mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah menakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid.” (HR al-Bukhari).

Dengan demikian, sangat tidak tepat apabila ada seorang muslim meremehkan adanya peredaran wabah atau justru melakukan hal-hal yang bertentangan dengan sabda anjuran Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallām di atas, misalnya dengan menampakkan keberanian menolak untuk isolasi wabah. Tindakan ini pada hakikatnya bukan keberanian melainkan kecerobohan yang menyebabkan bahaya bagi dirinya dan juga bagi orang lain, karena daya tularnya luar biasa. Segala tindakan yang mendatangkan potensi bahaya, secara Ajaran Islam (syari’ah) tergolong sebagai tindakan yang haram.

Demikian pula Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallām, meskipun beliau mengajarkan bahwa tidak ada penyakit yang dapat menular dengan sendirinya tanpa kontrol dari Allah subhāna wa ta’ālā, namun di waktu yang sama beliau juga menginstruksikan agar yang sakit tidak bercampur baur dengan yang sehat supaya tidak terjadi penularan. Beliau bersabda:

قَالَ أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُورِدُوا الْمُمْرِضَ عَلَى الْمُصِحِّ

Artinya:

Abu Salamah bin Abdurrahman berkata, Saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallām beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat”. (HR al-Bukhari).

Taat pada sabda yang berisi anjuran Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallām “do not leave and do not visit infected area” bukan berarti takut (terhadap virus corona COVID-19 selain pada Allah saja), justru Hadits tersebut merupakan wujud pemahaman agama yang baik serta ikhtiar yang nyata untuk berbuat baik pada sesama (supaya jangan tular menularkan). Billāhit Taufiq wal-Hidāyah. Germantown, MD, 13 Ramadan 1441 H / 6 Mei 2020 M. □ AFM



Catatan Kaki:
[1] Pes atau sampar (plague) adalah penyakit menular pada manusia yang disebabkan oleh ‘enterobakteria yersinia pestis’ (sebagaimana bakteriolog Prancis A.J.E. Yersin). Penyakit pes disebarkan oleh hewan pengerat (terutama tikus). Wabah penyakit ini banyak terjadi dalam sejarah, dan telah menimbulkan korban jiwa yang besar.

Kusta (lepra, leprosy) disebabkan oleh infeksi bakteri ‘mycobacterium leprae’. Penyakit ini terutama mempengaruhi kulit, hidung dan saraf perifer. Gejalanya meliputi bercak kulit berwarna atau merah terang dengan sensasi berkurang, mati rasa dan lemah pada tangan dan kaki.

Kusta atau lepra dapat ditandai dengan rasa lemah atau mati rasa di tungkai dan kaki, kemudian diikuti timbulnya lesi pada kulit. Kusta atau lepra disebabkan oleh infeksi bakteri yang dapat menyebar melalui percikan ludah atau dahak yang keluar saat batuk atau bersin. □□



Referensi:
Dari berbagai sumber. □□□